oleh

FOI Gelar Survei Tingkat Kelaparan pada Anak PAUD, Ini Hasilnya!

JAKARTA – Guna mendapatkan potret terkait kondisi kelaparan anak khususnya usia dini, Foodbank of Indonesia (FOI), sebuah organisasi sosial yang bergerak dalam memerangi kelaparan di Indonesia, menggelar Survei Mentari  Bangsaku. Survei tersebut sekaligus memotret tingkat kerawanan pangan keluarga, mengetahui kebiasaan sarapan anak dan mengetahui perilaku makan anak di sekolah.

Survei yang digelar tahun 2023 lalu tersebut melibatkan responden total sebanyak 628 responden yang tersebar di 13 kota/kabupaten wilayah mitra program Mentari Bangsaku 2023. Adapun 13 kota meliputi Bogor, Cirebon, Depok, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang , Kota Bandung, Kota Bekasi dan Kota Tangerang.

Hasil survey menunjukkan sebanyak 76,4 persen responden mengalami food secure/mildly food insecure, sebanyak 18,2 persen mengalami moderately food insecure serta sebanyak 5,4 persen mengalami severe food insecure. “Kesimpulannya, sebanyak 23,6 persen responden mengalami rawan pangan,” kata Dr Risa Kolopaking, Dewan Pakar FOI pada acara Dialog Media tentang Kelaparan pada Anak PAUD yang digelar Kamis (7/3/2024).

Survei juga berhasil memotret jenis sarapan yang dikonsumsi anak-anak PAUD dimana mayoritas anak mengonsumsi nasi dan lauk pauk sebagai menu sarapan.

Risa menjelaskan bahwa survey Mentari Bangsaku dengan menyasar anak-anak PAUD dilatar belakangi oleh beberapa hal. Diantaranya adalah data Global Hunger Index (GHI) 2021 yang menempatkan Indonesia pada urutan 77  dari 121 negara dengan skor 17,9 level moderate dan menempati uurutan ke-2 di Asean.

Untuk mendapatkan hasil yang valid, responden harus memenuhi kriteria seperti masuk dalam lembaga PAUD yang terdaftar sebagai mitra program Mentari Bangsaku 2023, belujm pernah menerima bantuan atau maksimal hanya 1-2 kali mendapatkan bantuan pangan dari FOI.

Lebih lanjur Risa menjelaskan bahwa kerawanan pangan itu sendiri ada dua kategori, yakni kelaparan (hunger) dan kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Kedua jenis kerawanan pangan tersebut berisiko terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Beberapa risikonya adalah pertumbuhan fisik yang rentan infeksi dan system imun yang lemah. Lalu perkembangan kecerdasan yang bisa menghambat kemampuan kosentrasi belajar, serta.

“Anak yang mengalami masalah konsumsi pangan juga dapat meningkatkan risiko penyakit kronis pada masa dewasa seperti diabetes, darah tinggi dan kanker,” ujar Risa.

Pada kesempatan yang sama, CEO FOI, M Hendro Utomo menjelaskan pada awal FOI bergerak yakni tahun 2015, sempat ‘diusir’ oleh pemerintah. Karena memotret kelaparan merupakan hal yang tabu dan merupakan aib bagi pemerintah.

“Namun seiring waktu, akhirnya kita bisa bermitra dengan pemerintah untuk bersama-sama menangani masalah kelaparan ini, termasuk Bappenas dan Kementerian PPA,” jelas Hendro.

Mentari Bangsaku sendiri diakui Hendro merupakan program tertua yang diluncurkan oleh FOI. Program ini menggandeng sekitar 600 lembaga PAUD dari berbagai kota. Melalui program ini, ada potensi untuk mendeteksi kelaparan yang dialami anak-anak usia PAUD sejak dini. “Kelompok rentan panga nada tiga yakni ibu hamil dan menyusui, lansia juga anak-anak. Tetapi program Mentari Bangsaku lebih focus ke anak-anak karena anak adalah masa depan bangsa,” jelasnya.

Sementara itu Dr. Amurwani Lestariningsih, S.Sos, M. Hum, Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Pendidikan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak menyampaikan bahwa usia dini merupakan usia emas perkembangan seorang anak. Karena itu menyasar anak usia dini dalam program penanganan kelaparan merupakan langkah yang sangat tepat dan strategis.

“Indonesia akan mendapatkan bonus demografi tahun 2030-2045. Tetapi bagaimana bonus demografi tersebut bisa sukses, tergantung bagaimana menyiapkan generasi muda penerus bangsa. Anak-anak harus disiapkan sejak dini mulai dari soal kesehatannya, pendidikannya, kesejahteraannya agar kelak bisa menjadi generasi yang berkualitas dan mampu bersaing secara global,” tandas Amurwani. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *