JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87%. Secara nominal produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai Rp 6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB). Sementara berdasarkan harga konstan (ADHK) sebesar Rp 3.447,7 triliun.
Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (EKUIN) Handi Risza mengingatkan meski tumbuh meyakinkan secara tahunan, tetapi secara triwulanan (qtq) ekonomi Indonesia mengalami kontraksi. “Pada triwulan I 2026, ekonomi tercatat minus 0,77% dibandingkan triwulan IV 2025. Kontraksi secara kuartalan terjadi karena faktor musiman, di mana aktivitas ekonomi di triwulan I biasanya melambat setelah puncak belanja dan aktivitas ekonomi di triwulan IV tahun sebelumnya,” katanya di kantor DPP PKS, Jakarta (9/5/26).
Menurut Ekonom Universitas Paramadina ini pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I 2026 tidak bisa dilepaskan dari faktor awal tahun dan bulan suci Ramadhan dilanjutkan perayaan hari raya Idul Fitri yang terjadi pada pertengahan bulan Februari hingga pertengahan Maret 2026. “Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) yang kemudian dibelanjakan untuk makanan, minuman, pakaian, dan akomodasi. Hal ini menyebabkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 54,36 persen,” ungkapnya.
Handi juga mengungkap faktor Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri juga menyebabkan, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Begitupula dengan transportasi dan pergudangan tumbuh sebesar 8,04%. “Hal ini didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat selama libur lebaran yang tecermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi,” ujarnya.
Menurut Wakil Rektor Paramadina ini faktor pendorong lainnya pencapaian pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2026 adalah realisasi program pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berhasil mendorong konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi sektor terkait. Begitupula dengan pembayaran gaji ke-14 (THR) dan pengangkatan ASN baru serta peningkatan belanja barang dan jasa, mampu mengangkat pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 21,81%.
“Tidak bisa dipungkiri masih terdapat efek basis rendah (Low-Base Effect) pada pertumbuhan ekonomi Triwulan-I 2026. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga terbantu oleh pertumbuhan PDB yang relatif rendah pada Triwulan-I 2025 sebelumnya. Pada Triwulan-I 2025 ekonomi tumbuh sebesar 4,87%. Sehingga faktor low base effect ini turut andil mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada Triwulan-I 2026,” katanya.
Bersiap Menghadapi Tantangan Lebih Besar
Handi mengungkapkan, meski pencapaian angka pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun terakhir dan salah satu yang tertinggi di G20, tetapi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terasa di lapangan. Pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2026 disinyalir lebih banyak didorong oleh belanja pemerintah di awal tahun dan faktor bulan suci Ramadhan dan Iedul Fitri. “Selain itu, pertumbuhan tinggi masih terkonsentrasi pada sektor tertentu seperti manufaktur, transportasi, dan pergudangan, sehingga dampaknya tidak merata ke seluruh lapisan Masyarakat,” paparnya.
Ketua Bidang EKUIN DPP PKS ini mengingatkan kondisi geopolitik global kedepan masih tidak menentu, perang Iran-AS menyebabkan terjadinya krisis energi yang dalam. Pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan masih lemah hingga akhir tahun 2026, kondisi ini turut memberikan tekanan pada ekonomi domestik. (in)







Komentar