JAKARTA–Ada istilah, Jakarta tidak pernah tidur, begitu pula dengan dinamika masalah yang mewarnai kehidupan di Ibu Kota. Namun, ada atmosfer berbeda yang berembus di Mapolda Metro Jaya sepanjang sepekan terakhir.
Sejak resmi dilantik sebagai Kapolda Metro Jaya pada Jumat (9/10/2026), Komisaris Jenderal (Komjen) Dadang Hartanto langsung tancap gas dengan pendekatan yang tidak biasa. Ia mendengarkan dan berdiskusi tentang permasalahan yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya, bukan sekadar memerintah.
Sehari setelah resmi menjadi orang nonor satu di Polda Metro Jaya, Komjen Dadang langsung tancap gas. Ia tidak menggelar seremoni formal, tetapi mengumpulkan para jurnalis dan pegiat media sosial untuk berdiskusi tentang kamtibmas dan masalah lainnya yang digelar di Mapolda Metro Jaya pada Sabtu (10/10/2026).
Langkah ini menuai apresiasi luas karena Komjen Dadang memposisikan pers bukan sekadar mitra humas, melainkan sebagai “mata dan telinga” langsung dari masyarakat. “Siang ini saya ingin bertemu dengan rekan-rekan wartawan. Tujuannya sebenarnya satu, saya ingin mendengar,” ujar Komjen Dadang lugas saat itu.
Kapolda bergelar profesor ini siap menerima kritik pedas, saran hingga sengkarut pelayanan kepolisian di lapangan ditampungnya tanpa jarak. Komitmen transparansi tersebut bukan sekadar jargon di mimbar.
Demi meruntuhkan sekat birokrasi, Komjen Dadang secara berani membagikan nomor WhatsApp pribadinya di 0811-8129-494 agar masyarakat luas bisa langsung melaporkan keluhan kamtibmas secara cepat dan transparan. Langkah responsif ini langsung menjadi pembicaraan hangat karena dinilai sebagai bukti nyata dari semangat baru yang diusung Kapolri Jenderal Suyudi: “Polisi Bersama Masyarakat”.
Jagat maya menanggapi terobosan yang tak biasa ini dengan respons beragam. Banyak yang optimis, ada juga yang meragukan apakah langkah itu efektif. Nyatanya, pengaduan yang masuk ke nomor itu, jumlahnya memang tidak main-main, sudah langsung ditindaklanjuti.
Radar kepemimpinan humanisnya tidak berhenti di ruang pers. Menyadari urat nadi Jakarta bertumpu pada stabilitas ekonomi dan ketenagakerjaan, Komjen Dadang memilih mendahulukan dialog dengan perwakilan elemen buruh untuk menyerap aspirasi para pekerja secara langsung.
Baru setelah merangkul simpul-simpul masyarakat akar rumput tersebut, ia melanjutkan agenda kerjanya dengan menemui Gubernur DKI Jakarta dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna memperkuat kolaborasi strategis.
Langkah taktis mengedepankan pendekatan yang memangkas jarak ini membawa optimisme baru bagi warga Jakarta. Komjen Dadang mencerminkan kombinasi ketajaman analisis intelektual, dengan latar belakang akademiknya yang sangat mumpuni, serta empati yang mendalam.
Awal yang impresif ini tentu memicu harapan tinggi. Publik kini menaruh ekspektasi besar agar gaya kepemimpinan yang komunikatif, inklusif dan terbuka ini tidak sekadar menjadi riak “bulan madu” jabatan semata.
Konsistensi dalam menindaklanjuti setiap aduan warga di nomor WhatsApp tersebut, serta ketegasan jajaran di bawahnya dalam mengimplementasikan instruksi humanis sang Kapolda, akan menjadi ujian pembuktian yang sesungguhnya di masa depan.
Yang jelas, untuk saat ini, Jakarta patut mengapresiasi langkah di hari-hari pertama Sang Kapolda. Tugas masyarakat sekarang adalah ikut memonitor dan mengawal agar awal yang bagus ini tetap melaju konsisten demi Ibu Kota yang lebih aman, humanis, dengan anggota kepolisian yang benar-benar bersama masyarakat.(Omi/fs)







Komentar