oleh

2 Sejoli Pemutilasi Pemuda Divonis Mati, Hakim: ‘Perbuatannya di luar Perikemanusiaan’

POSKOTA. CO – Dua sejoli Djumadil Al Fajri Adam Alias Fajri Bin Ali Firman,26, dan Laeli Atik Supriyatin Alias Laeli Binti Makmuri,27, hanya bisa meratapi nasibnya. Kedua pasangan kekasih ini tak banyak bicara ketika hakim memvonisnya mati karena terbukti memutilasi Rinaldy Harley Wismanu, pemuda yang dikenalnya melalui satu aplikasi kencan.

Dalam sidang secara virtual di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (29/6/21) majelis hakim menyatakan kedua terdakwa ini terbukti melanggar pasal 340 Jo pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP dan 365 Ayat (4) KUHP sebagaimana sesuai tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI.

“Menyatakan para terdakwa terbukti bersalah telah melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan menyebabkan korban meninggal dunia dengan cara dimutilasi. Dengan demikian majelis hakim menjatuhi masing-masing hukuman mati,” tegas ketua majelis hakim.

Menurut majelis, perbuatan para terdakwa di luar perikemanusiaan sehingga tidak ada alasan pemaaf maupun pembenar. Sehingga Majelis Hakim berkeyakinan bahwa kedua terdakwa terbukti melanggar pasal sesuai dengan dakwaan jaksa.

Perbuatan sadis kedua sejoli ini berawal, sebelumnya korban mengenal Laeli dari sebuah aplikasi kencan, yaitu Tinder. Setelah melakukan komunikasi daring, keduanya sepakat bertemu di satu apartemen di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Kedua terdakwa sebelumnya telah menyewa apartemen tersebut selama 6 hari terhitung sejak 7 hingga 12 September 2020.

Saat korban dan Laeli masuk ke apartemen tersebut, terdakwa Fajri ternyata sudah berada di dalam dan bersembunyi di kamar mandi. Usai Rinaldi dan Laeli ngobrol dan berhubungan badan, Fajri memukul kepala korban sebanyak tiga kali menggunakan batu dan menusuk Rinaldi sebanyak 7 kali.

Mutilasi dilakukan setelah kedua tersangka belanja golok dan gergaji. Mereka memotong korban menjadi 11 bagian dan disimpan dalam kantong kresek. Setelah itu, potongan tubuh korban dimasukkan ke dalam koper dan ransel. Keduanya sempat tidur bersama potongan tubuh selama satu malam.

“Para terdakwa lalu memindahkan potongan tubuh korban ke Apartemen Kalibata City. Uang korban dalam rekening kemudian diambil oleh kedua terdakwa,” kata majelis.

Akibat perbuatan ini kedua terdakwa lalu ditangkap polisi di Perumahan Permata Cimanggis, Depok pada Rabu, 16 September 2020. Polisi melacak mereka setelah menggunakan uang hasil kejahatan tersebut untuk berbelanja emas, motor dan menyewa rumah.

Polisi menjerat kedua tersangka dengan Pasal 340 dan Pasal 338 dan 365 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Keduanya terancam dihukum maksimal dengan pidana mati atau penjara seumur hidup. (bw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *