SESUNGGUHNYA jauh lebih berat berhadapan dengan ujian kenikmatan dan kemegahan serta kejayaan dibanding kefakiran, ketidakberdayaan, dan kepahitan. Pada saat dirundung nestapa, manusia cenderung berbicara di atas nuraninya.
Ketidakberdayaannya, membuatnya berbalik mencari kekuatan di luar dirinya. Kesadaran spiritualnya mudah dibangkitkan. Manusia yang sedang berada di puncak karena merasa memiliki segalanya, lalu, tak lagi menganggap ada kekuatan di
luar dirinya.
Perjalanan hidup seakan mampu diatur tanpa bantuan siapapun. Karena kekuatan yang dimilikinya, ia lalu lupa bahwa ada kekuatan maha besar, yang telah memberikan kekuatan kepadanya.
Cukup beralasan kalau ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa kalau ada orang miskin taat kepada Allah, rajin beribadah, itu biasa.
Normal-normal saja. Tetapi, sungguh sangat luar biasa, kalau orang sedang berkecukupan dan bahkan berlebihan, masih ingat Allah dan Rasul-Nya.
Tak salah kalau banyak hadits Rasul yang memberikan nilai penghormatan kepada mereka yang kaya dan taat kepada Allah SWT. Kelengkapan kehidupan yang dimilikinya, tidak menutup matanya untuk mengakui kekuatan Allah SWT.
Manusia seperti ini, tentu saja tanpa bermaksud mengabaikan ketaatan orang-orang fakir, sungguh mendapat kehormatan yang luar biasa.
Sayang, sangat sedikit orang-orang yang serba berkecukupan memiliki ketaatan luar biasa kepada Allah SWT.
Lalu, apakah itu berarti kita tidak perlu kaya, karena menjadi bagian dari satu ujian yang berat? Tentu saja tidak.
Rasul bahkan menganjurkan umat Islam, tangannya selalu berada di atas, artinya selalu memberi.
Allah memerintahkan zakat, yang berarti menganjurkan kepada umat Islam, agar memiliki kekayaan yang cukup.
Ummat Islam jangan takut menjadi kaya. Bahkan harus berusaha menjadi kaya.
Namun, hendaknya kekayaan itu, senantiasa berada dalam kesadaran ke-ilahiaan. Artinya, kekayaan tidak membuatnya lupa kepada Allah SWT.
Kekayaan, tidak melelapkan nya dalam cengkraman kecongkakan yang membuat lupa kepada Allah SWT.
Ada kesadaran ke-Ilahiaan yang substantif, yang tidak terbelenggu oleh situasi dan kondisi dirinya.
Kepahitan disadarinya sebagai ujian Allah. Demikian pula, kenikmatan berupa harta, juga disadari sebagai ujian Allah SWT.
Seorang muslim yang baik, memang bukanlah seseorang yang ketika sedang ditimpa kemalangan dan kesakitan ingat Allah. Sementara, saat mendapat karunia, lupa kepada Allah SWT.
Seorang muslim yang baik, kapan dan dalam situasi apapun, Allah senantiasa bersamanya dan menjadi tempat ketergantungannya. Adakah, kita sudah bersikap demikian? Insya Allah. (Bagian 2/selesai)
Wallahu a’lam bish shawab
Aswan Nasution
Penulis Aktivis Al Washliyah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)







Komentar