oleh

Hipertensi Juga Intai Anak Muda, Dokter RS Sari Asih Ciledug Ungkap 3 Kebiasaan Pemicu Darah Tinggi dan Pencegahannya

TANGERANG – Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tak lagi hanya mengancam kelompok lanjut usia. Penyakit yang dikenal sebagai silent killer kini juga mengintai kalangan usia produktif, termasuk milenial dan Gen Z berusia 20 hingga 30 tahun.

Perubahan gaya hidup modern, tuntutan pekerjaan, pola makan tidak sehat hingga kebiasaan begadang menjadi sejumlah faktor yang meningkatkan risiko hipertensi pada anak muda. Ironisnya, kondisi ini kerap tidak disadari karena penderitanya sering kali tidak merasakan gejala.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Ciledug, dr. Astri Handayani, Sp.PD, mengatakan terjadi pergeseran kelompok usia pasien hipertensi. Sejumlah pasien usia produktif bahkan datang ke rumah sakit dengan tekanan darah sangat tinggi meski sebelumnya merasa sehat.

“Banyak pasien usia produktif yang datang ke RS Sari Asih sudah dalam kondisi tekanan darah sangat tinggi, padahal mereka merasa sehat. Jika dibiarkan, risiko serangan jantung dini dan kerusakan ginjal tidak bisa dihindari,” kata Astri di Ciledug, Tangerang, Rabu (4/11).

Menurutnya, ada tiga kebiasaan modern yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko hipertensi pada kelompok usia muda.

1. Terjebak Hustle Culture dan Kurang Gerak: Tuntutan pekerjaan yang tinggi membuat banyak pekerja menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Kebiasaan duduk terlalu lama tanpa diimbangi aktivitas fisik dapat berdampak buruk terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Selain kurang bergerak, tekanan pekerjaan juga dapat memicu stres berkepanjangan. “Duduk berjam-jam sambil menahan stres pekerjaan memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin secara terus-menerus. Kondisi ini memaksa pembuluh darah menyempit dan jantung memompa lebih keras,” jelasnya.

2. Konsumsi Makanan Pesan-Antar Tinggi Garam: Kebiasaan memesan makanan secara daring juga menjadi perhatian. Pasalnya, sejumlah makanan siap saji dan olahan mengandung natrium tinggi yang sering kali tidak disadari konsumen.

Padahal, batas konsumsi garam yang dianjurkan adalah maksimal 5 gram atau sekitar satu sendok teh per hari, setara dengan kurang lebih 2.000 miligram natrium.

Astri mengatakan, natrium tidak hanya berasal dari garam yang ditambahkan saat makan, tetapi juga terdapat dalam saus, bumbu instan dan berbagai makanan olahan. “Banyak pasien terkejut saat terdiagnosis hipertensi karena merasa tidak banyak menambahkan garam. Padahal, natrium tersembunyi dalam jumlah masif pada saus, bumbu instan, dan makanan olahan yang sering mereka pesan secara daring,” ungkapnya.

3. Kebiasaan Begadang demi Hiburan:
Kebiasaan menunda tidur untuk menikmati hiburan setelah bekerja atau revenge bedtime procrastination juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Paparan gadget hingga larut malam membuat waktu tidur berkurang dan mengganggu ritme sirkadian tubuh.
Padahal, saat tidur, tekanan darah secara alami mengalami penurunan. Kondisi ini dikenal sebagai nocturnal dipping, yakni penurunan tekanan darah sekitar 10-20 persen dibandingkan saat beraktivitas.

“Ketika anak muda memaksakan diri tetap terjaga, fase istirahat bagi jantung ini hilang. Jantung terus dipaksa bekerja pada mode siaga, mengacaukan sistem saraf simpatik, dan memicu hipertensi permanen meski usia masih 25 hingga 30 tahun,” papar Astri.

Pentingnya Mengubah Gaya Hidup: Untuk menekan risiko hipertensi, Astri mengingatkan pentingnya perubahan gaya hidup sejak usia muda. Pekerja dianjurkan rutin melakukan aktivitas fisik, termasuk olahraga kardio minimal 30 menit sehari.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dan makanan olahan perlu dikurangi. Memperbanyak konsumsi sayuran hijau serta makanan rumahan dengan gizi seimbang juga dapat membantu menjaga tekanan darah.

Kebiasaan tidur cukup dan teratur tidak kalah penting. Anak muda juga disarankan membatasi penggunaan gadget sebelum tidur agar kualitas istirahat tetap terjaga. Tak kalah penting, pemeriksaan tekanan darah secara berkala perlu dilakukan meski tubuh tidak menunjukkan keluhan.

Sebab, ada kalanya hipertensi kerap berkembang tanpa gejala. Deteksi dini dan perubahan gaya hidup menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi serius, seperti penyakit jantung, stroke hingga gangguan ginjal. (Imam/jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *