Djoko Waluyo 29/07/2015

prambananPOSKOTA.CO – Diana remaja harus berkutat dengan pekerjaan rumah tangga kala anak-anak lain masih terbuai dalam mimmpi dan hangatnya selimut. Tahu diri, butuh tempat tinggal, biaya sekolah….alasan-alasan yang ia sematkan dalam pikirannya untuk menurut kepada aturan-aturan yang dibuat oleh ibu sambungnya.

Kejamnya ibu tiri adalah dongeng atau cerita film. Benak Diana tidak mau berpikir seperti itu. Sudah menjadi kewajibannya membantu ibu dan mengurus adik-adik tirinya.

Sejak pagi buta kala satu-satu ayam mulai berkokok Diana harus menjejakkan selimut dan bergegas bekerja. Sambil menyanyi kecil, Diana mulai menimba air. Jarum jam menunjuk di angka 4 pagi. Masih gelap dan suasana cukup sepi. Letak sumur berada di sebelah luar kiri rumah, agak gelap karena bapaknya hanya memberi lampu 5 watt. Sebelum menimba air Diana mengisi air ke “ceret” lalu menyalakan kompor minyak dan merebus air tersebut. Air rebusan itu nanti untuk membuatkan minuman teh seluruh keluarga.

Kamar mandi, tempayan di dapur, ember-ember di dekat sumur semua harus ia penuhi air. Timba yang talinya terbuat dari semacam karet padat berwarna hitam itu entah berapa kali harus Diana tarik naik turun setiap pagi buta. Diana anak paling besar di rumah, adik tirinya 3 orang masih kecil-kecil. Semua ia lakukan untuk ibu sambungnya.

” Diana kamu anak paling besar, jika kamu tidak membantuku, kamu jangan makan masakan ku”

Kalimat-kalimat ibunya itu yang membuat ia bersemangat mengayuh tali timbanya. Sarapan adalah barang mewah untuk Diana. Jika bangun kesiangan….dan tidak menimba air, Diana harus menahan lapar sewaktu pergi sekolah. Jatah sarapan di pangkas ibunya! Hukuman tidak mendapat sarapan sudah layak dan pantas bagi Diana. Benaknya ia penuhi dengan kata “adil” kala perutnya lapar.

” Aku yang bersalah karena bangun kesiangan, aku tidak menimba air. Ibuku sudah sepantasnya menghukumku tidak memberi sarapan”

Diana sering mengatakan kalimat-kalimat itu untuk dirinya. Menyapu atau membersihkan rumah yang tetap ia lakukan jika bangun agak kesiangan tidak diperhitungkan oleh ibu sambungnya. Ia tidak boleh protes, ia harus patuh kepada ibunya. Membersihkan rumah setiap pagi adalah kewajiban Diana!

Kadang Diana berpikir, aku sudah mengerjakan setengah dari pekerjaanku jika aku bangun kesiangan. Kenapa aku tidak mendapat jatah setengah dari sarapan ku? Sebuah tanya dalam bentuk hitung dagang yang harus ia tiup bersama dinginnya angin pagi di lembah Kali Code…..

Aturan ibu sambungnya harus ia patuhi. Itu saja! Itu aturan yang tidak boleh di gugat atau diamandemen.

1. Bangun pagi pk 4
2. Menyalakan kompor
3. Merebus air untuk minum
4. Menimba air
5. Membersihkan rumah

Sepiring sarapan ada jika ke 5 aturan itu terpenuhi. Aturan itu untuk dipatuhi dan “kata iya” menjadi kewajibannya. Diana tidak punya pilihan lain untuk sepiring sarapan.

Suara yang cukup bagus membuat Diana senang bersenandung. Bekerja sambil menyanyikan lagu-lagu Iis Sugianto yang sedang ngetop saat itu.

” Jangan-jangan kau sakiti hatinya….jangan lagi….sayang…”

Menyanyi membuat pekerjaan menjadi serasa ringan. Diana tipe anak remaja yang riang gembira serta lincah. Ia berusaha ceria dan penuh canda dihadapan semua orang termasuk teman-teman sekolahnya. Semua orang mengenal Diana sebagai anak remaja yang manis dan periang. Itulah kenapa seorang Bayu jatuh cinta kepada Diana. Pintar menyanyi, ramah, manis dan gaul…..

Diana itu salah satu bunga wangi di SMA Budi Luhur di Bintaran Kidul. Semua kumbang di sekolah ingin memetik dan mencium bunga itu. Banyak yang memperebutkan Diana bahkan kalau perlu berantem untuk memperoleh hati Diana. Tetapi begitu Bayu maju sebagai pesaing untuk bunga wangi SMA Budi Luhur, semua siswa laki-laki mundur teratur. Bayu seorang kompetitor yang akan sangat sulit ditaklukkan. Dia punya segalanya sebagai remaja!

” Diana kamu harus berpegang dan memelukku jika membonceng sepeda motorku. Aku takut kamu akan terjatuh jika aku mengebut”

Diana menuruti permintaan Bayu, ia rapatkan tubuhnya dan memeluk Mas Bayunya dari belakang. Hangat dan wangi….itu yang Diana rasakan siang itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, angannya melanglang entah kemana. Ohhh….seperti ini ta rasa berpacaran? Ini pertama kali Diana memasuki dunia impian remaja!

” Diana….kita makan di bakso Telkom dekat Kridosono ya. Bakso dan es telernya enak lhoo disana.” ( Bersambung.By: Wita Lexia…)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*