Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si/ Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.
DARI Jabir ra, bahwasanya Nabi saw naik ke mimbar. Ketika beliau naik ke anak tangga pertama, kedua, dan ketiga beliau mengucapkan, “Aamiin”. Lalu para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami semua mendengar engkau berkata: Aamiin, aamiin, aamiin.
Beliau menjawab, ”Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril datang kepadaku dan berkata: Celakalah seorang hamba yang mendapati Bulan Ramadhan namun dosanya tidak diampuni. Maka Aku pun berkata: Amiin.
Kemudian Dia (Jibril) berkata: Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga. Aku pun berkata: Aamiin.
Kemudian Dia (Jibril) berkata: Celakalah seorang hamba, jika namamu disebutkan dihadapannya tapi dia tidak bershalawat untukmu. Maka Aku pun berkata: Amiin. (HR. Ibnu Khuzaimah).
Berupaya Meraih Ampunan Allah Swt
Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Di dalamnya terdapat keutamaan, kemuliaan yang tidak didapatkan pada bulan-bulan yang lainnya. Bulan Ramadhan juga dikatakan sebagai bulan jamuan Allah swt kepada para hamba-Nya yang beriman. Beraneka ragam jamuan Allah swt itu yang antara lain jaminan diampuninya dosa seorang hamba yang menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan.
Salah satu makna asal kata ramadhan itu sendiri adalah gugur, yaitu gugurnya dosa di bulan Ramadhan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Qurthubi: “Dinamakan bulan Ramadhan karena ia mengugurkan/membakar dosa-dosa dengan amal shalih” (Tafsir Al-Qurthubi). Jadi inti kehadiran ramadhan adalah peleburan dosa bagi hamba-hamba beriman yang disebabkan kerelaan menahan lapar dan haus, menahan hasrat seksual di siang hari selama satu bulan lamanya, melakukan qiyamullail di malam hari, banyak membaca Al-Quran, dan I’tikaf di sepuluh malam terakhir dalam rangka menangisi dosa-dosa masa lalu.
Jaminan pengampunan dosa bagi mereka yang berpuasa tak ternilai harganya dan sepatutnya jadi perhatian seorang hamba yang ingin meraih taqwa di dunia dan tentu ingin menghadap Allah Swt kelak dengan jiwa yang bersih dan suci dari noda dan dosa. Tak ada cara lain untuk meraih ampunan itu kecuali melakukan ibadah puasa dengan serius, perhatian dan keinginan kuat yang tulus ikhlas meyampaikan pengharapan keampunan kepada Allah swt. jangan menyia-nyiakan “jamuan” Allah swt di bulan ramadhan ini. Sayang beribu sayang jika berakhir Ramadhan sementara dosa-dosa hamba tidak menuai ampunan-Nya. Sebuah kemalangan yang sangat disayangkan.
Taat kepada Orang Tua Jaminan Kebahagiaan Dunia Akhirat
Kemudian Malaikat Jibril juga menyampaikan bahwa celakalah mereka yang masih memiliki kedua orangtua atau salah satunya namun tidak membuatnya masuk surga. Kita sangat prihatin ketika pernah terjadi di negeri ini seorang anak yang memperkarakan orangtuanya di pengadilan, anak yang membunuh orang tuanya sampai ada yang tega hati menitipkan orang tuanya di panti jompo karena repot mengurusnya. Na’udzubillah!
Taat kepada orang tua adalah menjadi perhatian khusus agama Islam. Dalam firman-Nya Allah Swt menyatakan: Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…(QS. Al Isra: 23)
Dalam ayat ini Allah Swt memerintahkan agar manusia berbuat baik kepada kedua orangtua mereka. Penyebutan perintah ini sesudah perintah beribadah menyatakan agar manusia memahami betapa pentingnya berbuat baik kepada ibu bapak. Juga agar mereka mensyukuri kebaikan orangtua karena betapa beratnya penderitaan yang telah mereka rasakan, baik pada saat dilahirkan maupun ketika kesulitan mencari nafkah, mengasuh dan mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang.
Maka pantaslah berbuat baik kepada ibu bapak dijadikan sebagai kewajiban penting di antara kewajiban lainnya, dan diletakkan Allah swt dalam urutan kedua sesudah kewajiban manusia beribadah hanya kepada-Nya.
Dalam hal taat dan berbakti kepada orang tua laki-laki sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah, ada seorang berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak namun ayahku ingin mengambil habis hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun seorang anak sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak Nabi saw tetap mengatakan “Semua hartamu adalah milik ayahmu.” Ini juga menunjukkan sedemikian besar kedudukan seorang ayah di sisi Allah Swt.
Sedangkan dalam hal taat kepada ibu, dalam haditsnya Rasulullah saw pernah ditanya oleh salah seorang: “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?,” Nabi saw menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al Qurthubi berpendapat, hadits di atas menunjukkan kecintaan dan kasih sayang kepada seorang ibu harus tiga kali lipat dibandingkan pada seorang ayah.
Sebab, seorang ibu harus melewati banyak kesulitan selama mengandung sang anak. Karena itu patutlah kiranya sebagai orang yang beriman untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua dengan segenap kemampuan meskipun barangkali sudah berkeluarga dan sangat sibuk mengurus rumah tangga. Sayangi mereka sebagaimana betapa sayangnya mereka kepada kita terutama saat kita masih belum mandiri.
Perbanyak Sholawat untuk Memperoleh Syafaat
Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad saw, baik dengan mengucapkannya atau saat kita mendengar nama Nabi kita Muhammad saw disebutkan adalah merupakan hal yang sangat dianjurkan. Bahkan perintah bersholawat tersebut langsung dari Allah swt. sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersholawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersolawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al Ahzab:56).
Menurut keterangan para ahli tafsir, Allah swt bersholawat kepada Nabi Muhammad saw adalah Allah swt memberikan rahmat kepada beliau, sedangkan para malaikat bersholawat untuk memohonkan ampun untuk beliau dan orang yang beriman dengan memperbanyak menyebutkan nama beliau di setiap kesempatan dengan menjadikan sholawat sebagai dzikir harian sebagai bukti kecintaan kepada beliau saw.
Sebagaimana disampaikan oleh para ulama ahli sejarah, bersholawat kepada Nabi Muhammad saw bukan dimaksudkan untuk menambah keagungan beliau sebagai utusan Allah Swt karena pribadi beliau sudah sedemikian agung. Bahkan kehadiran beliau saw di dunia ini sebagai rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya’: 107). Oleh karena itu ketika kita menyampaikan sholawat sebenarnya kemuliaannya kembali ke diri kita sendiri. Kemuliaan itu berupa pahala dan jaminan memperoleh syafaat di akhirat nanti ketika tidak ada seorangpun yang mampu memberikan syafaat.
Dalam sebuah hadits disampaikan bahwa rasulullah saw datang pada suatu hari dan terlihat tanda-tanda kegembiraan di wajahnya. Lalu kami bertanya, “kami telah melihat tanda-tanda kegembiraan di wajahmu.” Nabi saw menjawab, “memang Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘wahai Muhammad sesungguhnya Tuhanmu telah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman, ‘tidakkah kamu merasa puas bahwa tidak ada seorangpun dari umatmu yang membaca sholawat untukmu melainkan Aku membalasnya dengan sepuluh kali lipat. Tidak ada seorang pun yang menyampaikan salam kepadamu dari umatmu melainkan Aku membalas dengan salam sepuluh kali lipat. ”
Keutamaan Syafaatul Udzma
Ketika nanti di Padang Mahsyar seluruh manusia dari sejak Nabi Adam as sampai manusia terakhir di akhir zaman dikumpulkan di sebuah tanah lapang yang tiada ujung dan tidak bertepi dan tiada atap kecuali hanya sinar matahari yang menyengat, sedangkan masing-masing pribadi tidak tahu nasibnya bagaimana, apakah masuk surga atau sebaliknya di neraka.
Di sisi lain terlalu lama di padang mahsyar dan belum ada keputusan kapan amal-amal manusia dihisab dan diperhitungkan. Saat itu manusia bingung dan gelisah berlari ke sana dan sini siapakah yang dapat memberikan syafaat menghadapi situasi seperti ini.
Ketika diminta kepada para nabi dan rasul sebelumnya, Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa sampai Nabi Isa as agar dapat memberi syafaat. Mereka semua para nabi tidak menyanggupinya karena pernah merasa bersalah kepada Allah Swt. akhirnya para nabi dan rasul semuanya sepakat membaiat Nabi Muhammad saw untuk memberi syafaat dan memohon kepada Allah Swt agar segera diproses dan dihisab amal-amal umat manusia.
Para nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw mendatangi beliau dan berkata: “Wahai Muhammad, engkau adalah Rosulullah, penutup para Nabi, Allah Swt telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Lakukanlah syafaat, mintalah kepada Robb-mu untuk kami. Bukankah engkau telah melihat keadaan kami? Bukankah engkau melihat kesusahan kami?
Maka beliau saw menuju bawah ‘Arsy Allah swt dan bersujud kepada Alla Swt, kemudian Allah Swt mengilhamkan kepada beliau pujian-pujian kepada Allah Swt yang belum pernah diajarkan sebelumnya kepada seorangpun. Kemudian dikatakan kepada beliau saw: “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah maka kamu akan diberi, lakukanlah syafaat, maka kamu akan dikabulkan syafaatmu (HR. Bukhari dan Muslim).
Disinilah yang dinamakan syafaatul udzma. Syafaatul ‘Uzhma adalah syafaat yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk para penduduk Padang Mahsyar, yang isinya adalah permintaan kepada Allah جل جلاله, supaya Allah جل جلاله menyegerakan Hari Keputusan.
Semoga kita semua dapat senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad saw untuk kebaikan kita di dunia dan terutama diakhirat nanti dengan meraih syafaat dari Nabi kita Muhamma saw. (ta)







Komentar