Oleh : Karsidi Diningrat
SESUNGGUHNYA Allah Yang Mahakuasa, Mahaagung, dan Mahasuci asma-Nya telah mengutus para rasul yang mulia dan menurunkan kitab-kitab suci pada mereka. Tak lain dan tak bukan adalah untuk menyucikan jiwa manusia. Yaitu, dengan membersihkan mereka dari kekufuran, kemusyrikan, dan dari segala dosa dan maksiat. Juga dengan tunduk patuh kepada Allah, mentauhidkan-Nya, beribadah dan taat kepada-Nya.
Allah telah mengutus Nabi Ibrahim untuk menyucikan ayah dan kaumnya dengan cara mengajak mereka untuk mentauhidkan dan menyembah Allah, serta membersihkan mereka dari kemusyrikan dan noda-noda maksiat. Namun, ayah dan kaumnya itu tidak mau.
Setelah Ibrahim, datanglah putranya, yaitu Ismail, dengan membawa risalah yang sama. Risalah menyucikan jiwa manusia, dengan beribadah dan taat kepada Allah. Ismail mengajak kaumnya untuk beriman dan membersihkan jiwa mereka dari kemusyrikan, kukufuran, kekejian jahiliah, dan perilaku menyimpang. Ia memulai dengan membersihkan keluarganya dulu. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55).
Nabi Musa juga datang dengan membawa risalah pembersihan jiwa. Dia datang untuk membersihkan kaumnya dari kekufuran dan kemusyrikan. Ia mengajak mereka bertauhid dan beribadah kepada Allah. Ia mengajak Fir’aun yang lalim untuk membersihkan jiwanya dengan melepaskan diri dari kemusyrikan dan hanya menyembah Allah sesuai dengan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah.
Lalu datanglah Nabi Isa (Yesus Kristus atau Masiah), ia termasuk nabi dari kalangan bani israel. Ia datang untuk menyucikan dan membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka. Juga dari pelbagai macam perkataan dan perbuatan mereka yang bermuatan syirik dan kufur. Allah telah mewasiatkan hal itu kepadanya, “Berkata Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang berkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Marjam [19]: 30-31).
Allah Mengutus Nabi Muhammad
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan Kami telah mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan mereka berkata, “Kapankah (datangnya) janji ini, jika kamu orang yang benar?” Katakanlah, “Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat), kamu tidak dapat meminta penundaan atau percepatannya sesaat pun.” (QS. Saba [34]: 28-30).
Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bersifat universal. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat. Tidak seperti nabi-nabi terdahulu, di mana risalah yang mereka bawa bersifat lokal atau hanya untuk kaumnya saja. Maka segala manusia yang mendiami permukaan bumi ini adalah jadi tujuan dari dakwah Nabi Muhammad saw, dengan tidak memandang bangsa, tidak memandang batas daerah, tidak memandang warna kulit. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir yang diutus oleh Allah. Tentunya sebagai risalah terakhir, memiliki keunggulan-keunggulan yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman sampai hari Kiamat nanti.
Ia bertugas sebagai pembawa berita gembira bagi orang yang mempercayai dan mengamalkan risalah yang dibawanya dan sekaligus pembawa peringatan kepada orang yang mengingkari atau menolak ajaran-ajarannya. Nabi Muhammad adalah nabi penutup, tidak ada lagi nabi dan rasul diutus Allah sesudahnya. Dengan demikian, pastilah risalah yang dibawanya itu berlaku untuk seluruh manusia sampai kiamat. Sebagai risalah yang terakhir, maka di dalamnya tercantum peraturan-peraturan dan syariat hukum-hukum yang layak dan baik untuk dijalankan di setiap tempat dan masa.
Risalah yang dibawa Nabi Muhammad bersumber dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada pada keduanya. Dialah yang mengatur segala apa yang ada pada keduanya. Dialah yang mengatur semuanya itu dengan peraturan yang amat teliti sehingga semuanya berjalan dengan baik dan harmonis. Allah yang demikian besar kekuasaan-Nya tidak mungkin akan menurunkan suatu risalah yang mencakup seluruh umat manusia kalau peraturan dan syariat itu tidak mencakup seluruh kepentingan manusia pada setiap masa. Dengan demikian, pastilah risalahnya itu risalah yang baik untuk diterapkan kepada siapa dan umat yang mana pun di dunia ini.
Dalam ayat lain Allah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf [7]: 158).
Daerah Perutusan Nabi Muhammad Lebih Luas
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an). (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.” (QS. Al-Jinn [72]: 1-2). Dan dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an., maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)!” Maka ketika telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
Mereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami! Terimalah (seruan) orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah. Dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan barang siapa tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah (Muhammad) maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari siksa Allah di bumi, padahal tidak ada pelindung baginya selain Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahqaaf [46]: 29-32).
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa daerah perutusan Nabi Muhammad Saw, itu jauh lebih luas daripada semata-mata kepada manusia di dunia ini saja, bahkan meluas juga kepada golongan jin, dimana menceritakan bahwa beberapa jin diperintahkan Allah menghadap Nabi buat mendengarkan Al-Qur’an dibaca, sampai mereka beriman dan menyeru kawan-kawan mereka pula supaya beriman.
Al-Jin adalah makhluk Allah yang juga terkena taklif atau beban kewajiban agama seperti manusia. Sebagaimana manusia ada yang mukmin dan ada yang kafir, jin juga ada yang mukmin dan ada yang kafir. Bedanya, manusia adalah makhluk yang mempunyai fisik (jasmani) dan mental (rohani), sedangkan jin adalah makhluk rohani saja, tidak mempunyai fisik sehingga tidak kasat mata, tidak dapat diraba, dan suaranya tidak terdengar oleh telinga kita. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zaariyaat [51]: 56).
Jadi jelas bahwa memang ada makhluk jin yang pernah mendengarkan wahyu-wahyu sebelumnya, yaitu wahyu kepada Musa. Dengan penuh hormat mereka memperhatikan sekali pembacaan Al-Qur’an itu. Ayat berikutnya menunjukkan bahwa mereka telah mendengar tentang agama Yahudi yang dibawa oleh Musa, tetapi mereka sangat terkesan dengan Al-Qur’an ini, dan tampaknya mereka kembali kepada golongannya untuk berbagi berita gembira itu. Dari peristiwa ini, dapat diambil kesimpulan bahwa seruan Rasulullah saw itu tidak saja tertuju kepada seluruh manusia, tetapi juga ditujukan kepada jin, makhluk gaib yang tidak dapat diketahui hakikat dan keadaannya oleh manusia. Hanya saja manusia tidak mengetahui kapan dan bagaimana cara jin itu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Kewajiban Nabi Muhammad Menyampaikan Agama Islam
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.” Dan apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu pasti akan membuat banyak di antara mereka lebih durhaka dan lebih ingkar, maka janganlah engkau berputus asa terhadap orang-orang kafir itu. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Saabi’in dan orang Nashrani, barangsiapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati. Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima taubat mereka, lalu banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 67-71).
Agama sebelum Muhammad merupakan dasar dari agama yang dibawa Nabi Muhammad karena Islam merupakan penyempurnaan agama-agama sebelumnya. Oleh karena mereka melihat Al-Qur’an dengan kaca mata permusuhan dan kefanatikan, bertambah-tambahlah kefanatikan dan kedurhakaan mereka. Memang ada segolongan kecil dari mereka yang memelihara ajaran Tauhid, yang cinta kepada kebenaran; mereka inilah orang yang memandang Al-Qur’an dengan kesadaran karena mereka meyakini bahwa Al-Qur’an itu sebenarnya dari Tuhan mereka dan bahwa Nabi yang Al-Qur’an diturunkan kepadanya adalah Nabi yang terakhir yang tertulis dalam kitab-kitab mereka, sehingga mereka itu beriman kepada Muhammad seperti ulama-ulama Yahudi dan Najasyi dan kalangan Nashrani.
Begitulah, semua rasul Allah datang dengan risalahnya untuk menyelamatkan manusia. Diutusnya Rasul terakhir ini merupakan pengabulan atas doa Nabi Ibrahim tatkala meminta dengan mengiba kepada Allah, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129). Wallahu alam bish-shawwab.
-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.







Komentar