oleh

Haji Mabrur Teladan Kita

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si

DALAM sebuah hadits riwayat Imam Bukhori Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw pernah ditanya tentang amalan apa yang paling utama? Kemudian Rasul menjawab ”Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian ia bertanya lagi ”lalu apa lagi?” Rasul menjawab “kemudian jihad di jalan Allah.” lalu apa lagi?” Rasulullah menjawab “kemudian haji mabrur” (HR.Bukhori Muslim).

Bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji pasti menginginkan hajinya menjadi haji yang mabrur. Apalagi jika berhasil memperoleh haji mabrur maka balasannya adalah surga, sebagaimana juga disabdakan nabi Muhammad saw: “dari umroh ke umroh adalah kafarat (penebus dosa) antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga (HR Bukhori Muslim).

Oleh karena itu sangat disayangkan andaikan haji yang ditunaikan tidak mencapai derajat mabrur. Kenapa? Mengingat biaya yang tidak kecil harus dikeluarkan untuk ONH dan bekal selama di sana, belum lagi biaya untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah. Apalagi kebanyakan tradisi di Indonesia ada perayaan menjelang keberangkatan berupa pertemuan haji, walimatussafar dan semacamnya yang jelas membutuhkan biaya.

Makna Haji Mabrur

Banyak keterangan dari para ulama yang menyatakan bahwa di antara makna haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah swt karena telah dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan syarat dan rukun haji. Namun yang menarik adalah dalam sebuah hadits yang lain, ketika Nabi Muhammad saw juga ditanya apakah haji mabrur itu dan beliau menjawab, “memberi makan dan menyebarluaskan kedamaian.”

Artinya haji yang mabrur itu tidak hanya menjadikan mereka yang menunaikannya menjadi saleh secara spiritual (pengamalan ibadah harian semakin rajin secara kualitas dan kuantitas) namun juga menjadi saleh secara sosial. Saleh sosial dalam wujud nyata sehari-hari adalah bahwa seorang ‘alumnus’ haji tidak hanya sholatnya semakin rajin, berjamaah, ditambah rajin melakukan sholat-sholat sunnah, rajin membaca Al-Qur’an, banyak berdzikir, melainkan juga, sebagaimana dikatakan Nabi saw, semakin peduli dengan lingkungan sekitar: para tetangga, fakir-miskin, anak yatim dengan siap membantu sesuai kemampuan bagi mereka yang membutuhkan bantuan, baik berupa materi, zakat, infaq maupun sedekah, ataupun bantuan tenaga.

Intinya, setiap mereka yg membutuhkan pertolongan ‘sang haji mabrur’ ini selalu siap membantu. Dirinya selalu bersyukur telah berhaji dan rasa syukurnya itu diimplementasikan dg kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama. Teringat sabda Nabi saw yang menyatakan bahwa “barangsiapa yang tidak memberikan perhatian terhadap urusan orang-orang muslim maka dia bukan bagian dari jamaah kaum muslimin.

Selain itu ‘sang haji mabrur’ swbagaimana sabda Nabi saw adalah mereka yang selalu menyebarkan salam perdamaian dengan sesama, jika sebelumnya selalu konflik dengan keluarga, tetangga namun selepas haji dirinya dapat memastikan berdamai untuk selamanya. Jika ditemui ada di antara mereka yang konflik dia selalu berinisiatif untuk mendamaikan. Sang haji mabrur juga semakin gemar bersilaturrahmi. Menyambung mereka yang memutuskan dan menjaga silaturahmi yang telah terjalin selama ini.

Jika ‘sang haji mabrur’ itu seorang umaro/ aparat pemerintah maka dia akan berusaha membuat kebijakan-kebijakan yang pro rakyat alias menyejahterakan rakyat. Jika dia sebagai pengusaha atau pedagang maka usaha yang dijalankan bukan hanya semata meraih keuntungan yang sebesar-besarnya namun juga memastikan produk yang dihasilkan benar membawa manfaat bagi masyarakat, bukan barang yang haram dan berbahaya.

Jika ‘sang haji mabrur itu berwujud orang yang kaya harta dan kekuasaan, maka dapat dipastikan kekayaannya itu bukan melulu dibelanjakan untuk kepuasan pribadinya, hanya menumpuk-harta kekayaan tanpa peduli dengan mereka yang serba kekurangan. Pendeknya, kekayaannya itu bukan hanya membawa keberkahan bagi dirinya melainkan keberkahannya tersebar bagi orang di sekelilingnya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh haji mabrur yang kemabrurannya itu tercermin dalam pergaulannya dengan sesama.

Jamaah haji Indonesia adalah salah satu jamaah haji terbesar di seluruh dunia bersama dengan Iran dan Turki. Andai kata jamaah haji kita benar-benar membawa kemabruran hajinya setelah kembali ke Tanah Air maka tidak berlebihan jika dikatakan turut membantu pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera damai dan aman. Karena sinar kemabrurannya akan terasa memancar dalam prilaku sehari-hari sebagai bagian dari warga negara. Semoga. (ta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *