oleh

Hipertensi Bisa Dikontrol sehingga Tidak Menimbulkan Komplikasi

JAKARTA-Sampai Mei 2024 pihak Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 18 juta penduduk telah melakukan deteksi dini risiko hipertensi di puskemas atau  fasilitas kesehatan lainnya. Ditargetkan hingga tahun ini yang melakukan skrining atau deteksi dini telah mencapai 70 persen.

“Skrining atau deteksi dini menjadi cara yang tepat untuk menemukan penyintas hipertensi sejak dini. “Kalau ditemukan sejak awal, hipertensi bisa dikontrol sehingga tidak menimbulkan komplikasi seperti jantung, stroke dan gagal ginjal,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes Dr Eva Susanti, pada Media Briefing dalam rangka Hari Hipertensi Sedunia, Jumat (17/05/2024).

Menurut Eva, hipertensi bersifat silent killer. Gejala yang muncul tidak khas, namun bisa tiba-tiba memicu stroke, jantung dan gagal ginjal yang bisa berujung kematian. “Sekitar 10,2 juta kematian setiap tahunnya di dunia diakibatkan oleh penyakit yang dipicu oleh hipertensi,” ujarnya.

Saat ini di seluruh dunia diperkirakan terdapat sekitar 1,28 miliar orang penyintas  hipertensi, dimana sebagian besar ditemukan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sedang untuk Indonesia, diperkirakan 30 persen penduduknya menderita hipertensi. Dari jumlah tersebut, hanya 42 persen yang terdiagnosis dan menjalani pengobatan. “Sebanyak 21 persen hipertensinya terkendali,” jelas Eva.

Diakui Eva, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia untuk melakukan deteksi dini terhadap hipertensi masih rendah. Karena itu, melalui rangkaian kegiatan dalam rangka Peringatan Hipertensi Dunia tahun 2024, Kementerian Kesehatan melakukan berbagai upaya edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya hipertensi.

Pada kesempatan yang sama, dr Fatchanuraliyah menyebutkan beberapa perilaku masyarakat yang berisiko terhadap hipertensi. Yakni merokok, aktivitas fisik kurang, konsumsi buah dan sayur yang kurang serta terlalu banyak konsumsi makanan asin (garam berlebihan).

Pada penyintas hipertensi rentang usia 18-59 tahun, obesitas sentral memiliki risiko 3,4 kali lebih tinggi dibanding penyintas  hipertensi non obesitas.

Ia mengingatkan bahwa hipertensi adalah factor risiko tertinggi penyebab disabilitas dan penyebab kematian keempat di Indonesia. Protokol pengobatan yang optimal bagi kasus hipertensi diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pengobatan hingga hipertensi bisa dikendalikan dan menurunkan risiko komplikasi.

Hipertensi itu sendiri merupakan suatu kondisi saat tekanan darah sistolik pada tubuh seseorang lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg.

Mengambil tema ukur tekanan darahmu dengan tepat, control dengan minum obat teratur untuk hidup lebih lama, Peringatan Hari Hipertensi diisi dengan beberapa agenda seperti bulan pengukuran tekanan darah dan kampanye, talkshow melalui IG Live dan Podcast, media briefing dan gebyar puncak peringatan Hari Hipertensi Dunia yang digelar pada 9 Juni 2024. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *