oleh

Buku Warna Bali: Memandang Budaya Bali dengan Cara Lebih Komprehensif

JAKARTA – Harian Kompas bersama dengan Yayasan Satya Djaya Raya (YSDR) telah resmi meluncurkan buku dengan judul ‘Warna Bali: Ketika Sistem & Pertemuan Menjadi Identitas’ di Bentara Budaya Jakarta pada Kamis (16/4/2026). Peluncuran buku ini menjadi momentum penting dalam mengangkat kembali makna warna sebagai bagian dari sistem budaya yang hidup di masyarakat Bali.

Acara ini dihadiri oleh para penulis buku, tokoh budaya, akademisi, pelaku seni, serta generasi muda yang antusias mengikuti rangkaian diskusi dan pemaparan.

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Adi Prinantyo dalam pengantarnya menyampaikan bahwa warna menjadi bagian dari sistem yang mengatur keseimbangan dan harmoni kehidupan, sekaligus menjadi bahasa simbolik dalam berbagai ekspresi budaya, mulai dari ritual, tekstil, hingga seni pertunjukan termasuk pada masyarakat Bali.

Dalam buku setebal 271 halaman tersebut disajikan cara pandang yang lebih komprehensif dalam memahami identitas budaya Bali. Buku ini sekaligus merupakan medium untuk memahami Bali tidak hanya sebagai ruang visual, tetapi sebagai sistem budaya yang terbentuk melalui proses panjang pertemuan dan akulturasi berbagai peradaban.

“Buku ini mengajak kita untuk melihat warna tidak hanya sebagai sesuatu yang tampak, tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami sistem nilai, sejarah, dan cara pandang yang membentuk kebudayaan,” ujar Adi.

Dalam buku tersebut juga digambarkan dengan lengkap interaksi masyarakat Bali dengan budaya India, Tionghoa, serta dunia luar yang telah membentuk lapisan makna yang tercermin dalam praktik budaya, seni, dan simbol warna yang digunakan.

Dalam pemaparan yang disampaikan sejumlah narasumber dapat disimpulkan bahwa warna tidak hanya dipahami sebagai unsur estetika, tetapi sebagai bagian dari praktik budaya (praksis) yang telah berlangsung lama dan memiliki fondasi kuat dalam kehidupan masyarakat. Warna berkembang melalui proses sejarah, interaksi, serta strategi kebudayaan yang terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Selama lebih dari dua tahun proses kajian dan praktik, para penyusun buku yakni I Wayan Seriyoga, I Made Susanta Dwitanaya, Dewa Gede Purwita, Dewa Ayu Eka Savitri dan I Gede Gita Purnama menemukan bahwa warna-warna dalam budaya Bali tidak berdiri sendiri, melainkan berasal dari berbagai sumber dan pengaruh, termasuk interaksi dengan budaya lain. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Bali terbentuk melalui proses pertemuan dan akulturasi lintas peradaban.

Salah satu filosofi yang disampaikan dalam acara tersebut adalah perumpamaan antara laut dan sungai. Laut diibaratkan sebagai “ibu” yang menerima berbagai aliran sungai tanpa kehilangan jati dirinya. Analogi ini menggambarkan bagaimana budaya Bali, bahkan Indonesia secara luas, mampu menerima berbagai pengaruh luar tanpa kehilangan identitas dasarnya.

“Budaya itu seperti laut. Ia menerima banyak hal, tetapi tetap memiliki karakter sendiri,” ujar I Wayan Seriyoga, akademisi sekaligus peneliti Gurat Institute.

Dalam konteks seni rupa, Bali disebut memiliki posisi yang unik. Seni rupa Bali berkembang dengan jalur tersendiri yang tidak sepenuhnya mengikuti arus nasional maupun global. Hal ini membuat Bali memiliki identitas visual yang khas, termasuk dalam penggunaan warna.

Diskusi juga menyoroti penggunaan warna dalam seni tradisional seperti wayang dan seni lukis khas Bali. Warna merah, kuning, hitam, dan putih dijelaskan memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan konsep kosmologi dan spiritualitas, seperti representasi dewa, kekuatan alam, dan keseimbangan hidup.

Karya seni dari gaya tertentu, seperti seni lukis klasik dan transformasi dari seni wayang, turut ditampilkan dalam acara tersebut sebagai contoh konkret bagaimana warna digunakan sebagai media narasi budaya. Para seniman terdahulu disebut telah merancang komposisi warna secara sadar sebagai bagian dari sistem makna.

Sementara itu, generasi muda juga mulai mengembangkan interpretasi baru terhadap warna. Mereka melakukan eksplorasi kreatif, baik dalam bentuk, ikonografi, maupun komposisi warna, tanpa sepenuhnya meninggalkan nilai-nilai dasar yang telah diwariskan. Namun, para narasumber mengingatkan pentingnya pemahaman mendalam agar inovasi tetap berakar pada filosofi budaya.

Acara peluncuran ditutup dengan prosesi simbolis pembukaan buku oleh para tokoh yang hadir. Momen ini menandai dimulainya penyebaran gagasan yang diharapkan dapat memperkuat pemahaman lintas generasi terhadap budaya sebagai sistem hidup.

Melalui buku ini, diharapkan masyarakat tidak hanya melihat budaya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai identitas yang terus berkembang dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *