JAKARTA – Di tengah persaingan global yang semakin tajam, perguruan tinggi (PT) Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam peringkat World University Rangkings 2025.
Beberapa perguruan tinggi (PT) ternama seperti UI, UGM, dan ITB merangsek naik menembus peringkat 300 besar dunia.
UI menempati posisi 206 dunia, UGM naik ke urutan 239, dan ITB di peringkat 256 yang didukung oleh peningkatan reputasi akademik dan riset.
Guru Besar Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang Prof. Dr. Henry Indraguna, S.H., M.H menyebut lompatan dunia pendidikan Indonesia ini perlu disyukuri.
Henry juga menilai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek) layak mendapakan kredit pada pencapaian itu. Kenaikan peringkat PT Indonesia mencapai 46 persen pada tahun 2025.
Untuk mempertahankan dan meningkatkan capaian ini, Henry melihat pemerintah harus terus mendorong kolaborasi antar kampus (PTN-BH) guna memperkuat riset dan reputasi internasional.
“Peningkatan peringkat World University Rangkings ini tentu patut disyukuri, meski akan dihadapkan dengan tantangan fenomena senyap di dunia akademik Indonesia yang menyebut banyak dosen tidak betah di kampusnya sendiri,”
tandas Prof Henry yang dikenal juga sebagai Pakar Hukum di Jakarta, Jumat (30/01/2026).
Ia mengakui, banyak beredar cerita dosen yang lebih menghabiskan waktu kegiatan di luar kampus, ada yang menjadi konsultan proyek, pembicara luar, bahkan asyik berbisnis. Lebih ironis lagi ada dosen harus menarik ojek online (ojol) karena faktor kebutuhan ekonomi dan tiadanya ruang yang lebih memberikan apresiasi terhadap karya intelektual yang mereka miliki.
Doktor Ilmu Hukum UNS Surakarta dan Universitas Borobudur Jakarta ini menegaskan, sejatinya kampus harus menjadi rumah nyaman bagi kaum intelektual dan dosen.
Kampus seyogyanya menjadi tempat berseminya gagasan dan lahirnya kreativitas serta inovasi. Bukan menjadi ruang administratif yang kaku, apalagi “tak ada darah atau kehabisan darah” untuk membuat terobosan karya intelektual.
“Yang terjadi saat ini dosen lebih sering berhadapan dengan tumpukan laporan, beban mengajar yang justru tidak produktif dan atmosfer kerja yang lebih birokratis ketimbang akademis. Akibatnya banyak dosen merasa tidak tumbuh di institusi yang seharusnya menjadi ruang subur bagi ilmu pengetahuan,” urai Prof Henry.
Dia menyebutkan banyaknya upaya perguruan tinggi yang mengejar status world class university, seyogyanya tidak sekedar menjadikan kampus hanya berfokus pada infrastruktur megah, akreditasi internasional dan publikasi reputasi saja. Kampus juga harus mengutamakan riset dan reputasi akademik.
Ironisnya dosen dan peneliti yang menjadi salah satu faktor penting tumbuhnya perguruan tinggi justru sering terlupakan.
“Tanpa dosen yang merasa dihargai dan terlibat secara emosional, visi universitas kelas dunia hanya menjadi slogan kosong,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof Henry memberikan masukan agar dosen betah berada di lingkungan kampus. Yakni kampus harus menjadi lingkungan kerja yang sehat dan inspiratif. Ruang dosen yang nyaman, memiliki perpustakaan digital dengan akses luas, dan laboratorium riset yang memadai adalah hal mendasar yang harus dipenuhi.
“Selain itu atmosfer intelektual yang mendorong dosen untuk terus belajar dan berdialog juga harus tercipta secara harmoni,” paparnya.
Selain faktor tersebut, Penasehat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar ini mendorong agar di level akademik dibutuhkan pimpinan yang visioner.
“Rektor dan Dekan bukan hanya manajer administratif, tetapi academic leader yang mampu menumbuhkan semangat dan kolaborasi yang membuat dosen merasa suara dan aspirasinya didengar,” terang Prof Henry.
Dia menekankan pentingnya upaya khusus dengan memberikan penghargaan atau award yang manusiawi, mampu meningkatkan kesejahteraan serta adil.
Prof Henry mengatakan, remunerasi layak memang penting. Namun, penghargaan non finansial, seperti penghormatan ilmiah, kesempatan studi lanjut, beasiswa, atau keikutsertaan dalam konferensi internasional juga tak kalah bermakna. Terkadang juga dosen itu ingin dihargai bukan hanya karena output-nya, tetapi karena dedikasi, loyalitas, dan kesetiaan pengabdian kepada ilmu pengetahuan.
Prof Henry juga menyebut dosen harus mendapatkan kesempatan berkembang.
Karier akademik menuntut ruang untuk bereksperimen, meneliti, dan berkolaborasi.
“Di banyak negara maju, program sabbatical leave menjadi sarana penting untuk penyegaran akademik,” tandas Prof Henry.
Di Indonesia, kebijakan ini masih langka, padahal manfaatnya besar untuk produktivitas dan jejaring global.
Sebagai pandangan pamungkas, Prof Henry menyatakan jika semua faktor itu dijalankan, alhasil akan meningkatkan kepuasan dosen dan sebagai salah satu faktor penting sebagai daya ungkit perguruan tinggi semakin berkembang dan maju, baik di Indonesia maupun di dunia. (aga/fs)







Komentar