oleh

Imas Minta Keadilan bagi Suaminya Terkait Kasus Sengketa Tanah Cakung

POSKOTA.CO – Bagai petir di siang bolong. Mungkin ungkapan tersebut pas bila disematkan kepada Imas Masliah, seorang istri sopir taksi online yang kini ditetapkan tersangka dalam kasus sengketa tanah Cakung, Jakarta Timur.

Imas bingung bukan kepalang saat mendengar suaminya, Maman Suherman (57), ditetapkan sebagai tersangka oleh Dirtipidum Bareskrim Polri dalam kasus sengketa tanah Cakung antara Abdul Halim dan PT Salve Veritate atas nama Benny Simon Tabalujan.

“Kami orang biasa yang tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba dengar suami jadi tersangka. Saya nangis hampir tiap malam. Bingung, salah suami saya apa,” tutur Imas sembari tersedu-sedu saat dihubungi wartawan.

Wanita yang baru melahirkan lima bulan lalu ini menuturkan, saat ini kondisi perekonomian keluarganya hanya bergantung pada pekerjaan suami sebagai sopir taksi online. Mobil yang digunakan untuk ngojek pun masih kredit.

Kini, ia bingung jika suaminya harus mendekam di penjara tanpa tahu kesalahannya. Ia mengaku sempat menanyakan kepada sang suami tentang duduk perkara yang dihadapinya. Namun dari penjelasannya selama ini, suaminya pun tak tahu di mana letak kesalahannya.

Imas menceritakan, sekitar bulan Juli 2018, suaminya sering mangkal sebagai taksi online di kawasan Cakung dekat PT BSA, di sanalah suaminya sering mendapatkan penumpang. Belakangan diketahui penumpang tersebut merupakan Abdul Halim pemilik tanah di Cakung yang kini dipersengketakan.

Saat itu, ia hanya bertugas mengantar sekaligus sebagai saksi pengukuran dengan imbalan tambahan ongkos taksi. Setelah tiga tahun berjalan, ia justru terseret dalam kasus sengketa tanah yang tidak ia ketahui duduk permasalahannya, hingga kini ditetapkan sebagai tersangka. Ia juga sama sekali tidak tahu siapa yang melaporkan dirinya ke polisi.

Imas dan suaminya pun kini hanya bisa pasrah dan berusaha dengan harapan mendapat keadilan atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan. “Kalau ditanya apa salahnya, saya juga tidak tahu harus bilang apa. Saya merasa dizalimi,” ungkap Maman.

Namun, Maman bersama istrinya terus berusaha untuk mencari keadilan yang ia yakini masih ada di republik ini dengan membuat laporan pengaduan ke Divisi Propam Polri dengan nomor laporan SPSP2/4889/XII/2021/Bagyanduan pada Senin 6 Desember 2021.

Surat yang ditujukan kepada Kadiv Propam Polri itu, Maman Suherman beserta istrinya meminta permohonan perlindungan hukum dan dugaan ketidakprofesionalan yang dilakukan oleh penyidik Subdit II Dittipidum Bareskrim Polri yang menangani laporan polisi nomor LP/B/0613/X/2020 Bareskrim, tanggal 28 Oktober 2021.

Selain itu, dirinya juga mengirim surat dan meminta perlindungan hukum kepada Presiden RI Joko Widodo dengan nomor tanda terima 21XU-O61INHB pada tanggal 20 Desember 2021. Selain ke Presiden, Maman juga mengirim surat kepada Kapolri, dan Biro Wassidik untuk meminta perlindungan hukum dan keadilan.

“Usaha yang saya dan istri lakukan membuat laporan ke Kapolri, Propam dan Wassidik pada tanggal 6 Desember 2021, surat ke Presiden sudah masuk hari ini 20 Desember 2021, dan saya sudah pegang tanda terima pengaduannya, agar saya bisa lepas dari tuduhan yang tidak saya lakukan. Saya sangat meminta para polisi dan Presiden mau mendengar saya sebagai rakyat kecil yang menjadi korban dari mafia tanah. Kasihanilah kami, anak-anak kami yang masih kecil yang dizalimi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Maman.

Sebelumnya, Tim Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri telah menetapkan 8 pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN), 1 orang pensiunan pegawai BPN dan 1 orang sipil sebagai tersangka kasus keterangan palsu ke dalam akta autentik dan/atau pemalsuan akta autentik dan/atau pemalsuan surat. Sehingga, total tersangka ada 10 orang dalam perkara tersebut.

Adapun, 10 orang yang dijadikan tersangka adalah Yuniarto, Eko Budi Setiawan, Marpungah, Tri Pambudi Harta, Siti Lestari, Taryati, Kanti Wilujeng dan Warsono yang merupakan pegawai BPN. Lalu, satu orang pensiunan pegawai BPN bernama Marwan dan satu warga sipil, Maman Suherman.

“Mereka dijadikan tersangka berdasarkan hasil penyelidikan dan gelar perkara atas laporan dari Direktur PT Salve Veritate, RA pada 28 Oktober 2020, dengan nomor laporan polisi: LP/B/0613/X/2020/Bareskrim,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjenpol Andi Rian Djajadi saat dikonfirmasi pada Selasa (14/12/2021). (*/rihadin)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.