POSKOTA.CO-Meningkatkan penambahan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan beberapa inovasi terus dilakukan aparatur pedesaan dengan menggunakan dana desa yang ada termasuk mengolah lahan tidur seluas 20 Ha di Desa Kuimasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
“Ini salah satu inovasi yang harus dijadikan contoh bagi 165 desa di Kabupaten Kupang dengan menanam tumbuhan yang memiliki ekonomi bagi masyarakatnya seperti tanaman lomtoro terambah untuk konsumsi hewan peternak, tanaman jagung serta pertanian lainnya,” kata Bupati Kupang, Korinus Masneno didampingi Kepala Pemberdayaan Masyatakat Desa (PMD) Kupang, Charles Panie dan Kades Kuimasi, Maksen Lifu saat menanam.pohpn lomtoro terambah di Desa Kuimasi, Senin (22/11).
Kegiatan ini merupakan yang pertama dilakukan menggunakan dana desa kerja sama dengan masyarakat khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan memanfaatkan lahan tidur tentunya ini salah satu inovasi membantu masrayakat desa mendapatkan penghasilan lebih baik untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Menurut dia, wilayah kita tentjnya begitu kaya dengan potensi sumber daya namun persoalan saat ini masyarakat maupun pemimpin lokal tidak miliki ide yang cukup mengembangkan usaha disini.
“Apalagi pemerjntah pusat mengalokasikan dana desa setiap tahun hampir Rp 200 miliar bisa dibayangkan kalau satu tahun 20 Ha setiap desa dapat dikelola dengan baik jika lima tahunntentunya akan memiliki lahan prpduktif sekitar 100 Ha yang diolah masyarakat,” ujarnya. Disini kita tidak pernah miskin, kita miskin karena kurang ide, kita tidak pernah bergandengan tangan. Hari ini saya berbangga terhadap kepala desa walaupun baru bebrrapa bulan sudah melakukan sesuatu yang luar biasa seperti ini, tuturnya.
Sementara itu, Kades Kuimasi, Maksen Lifu, mengatakan lahan tidur yang dikelola masyarakat mencapai 20 Ha selama puluhan tahun tidak dikelola. Kemudianmpihajnya mengambil inosiatif mengelola lahan dengan dua kkmoditas tanaman yaitu tanaman lamtoro terambah untuk peternakan dan jagung untuk pertanian.
Ada sekitar 20.000 tanaman anakan lamtoro terambah disiapkan sehingga satu Ha lahan ditanam 1.000 tanaman anakan lamtoro yang diswadayakan oleh masyarakat dengan lahan dan tenaga 30 persen serta pembiayaan 70 persen.
Untuk bibit dialokasikan dana Rp 25,5 juta rincian Rp 25 juta untuk pengadaan polibag dan 500 ribu untuk pengadaan bibit lamtor, imbuhnya yang menambahkan bibit tanaman tidak disemai di kantor desa tapi langsung diberikan ke para janda, pengangguran, lansia dan nanti desa membeli kembali dari masyarakat dengan 1 polibag seharga 1000 rupiah. (anton/fs)







Komentar