oleh

Selamat Jalan Moses Misdi Maestro Pelukis Rakyat

POSKOTA.CO – Pagi hari tanggal 31 Januari 2021 saya membaca di media sosial Moses Misdi meninggal dunia. Beberapa hari yang lalu tergolek lemah di rumah sakit. Kalau tidak salah kesehatan beliau mulai membaik namun berita duka menyebar beliau meninggal dunia.

Moses Misdi pelukis rakyat. Karyanya sangat banyak dan berkarya sejak muda hingga usia yg lanjut. Ia melukis pantai laut kapal kapal nelayan petani pemandangan pasar bunga dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Kekuatan karyanya pada cat tebal tebal.

Moses menemukan gaya sendiri dan mencampur cat sendiri. Ia terus berkelana ke mana mana dan membuat karya. Entah berapa banyak karyanya ia membuat dengan hatinya. Moses juga menyadari hidupnya dari melukis dan menggantungkan lukisannya untuk hidup. Ia tergolong pelukis kerakyatan yang peka peduli akan situasi sosial di sekitarnya.

Moses bisa saja seperti almarhum Koempoel Sudjanto. Melukis melukis dan melukis untuk hidup tdk mempedulikan berbagai belenggu atau standar-2 akademik. Namun itulah seniman anak bangsa telah menunjukkan kualitas berkeseniannya yang total terus menerus dan dng sepenuh hati.

Walaupun ia sendiri menyadari bahwa hidup menjadi pelukis memang harus bekerja keras dan menghadapi sulit dan kemelaratan hidup ( dari segi ekonomi). Moses berhasil menembusnya. Karya karyanya menghiasi toko2 bingkai dan toko2 lukisan. Pada era 80 an sd awal 2000 an karya Moses bileh dibilang menjadi bintang dan pembicaraan.

Harganyapun merambat naik terus menerus dan karyanya mulai dikenal dalam kalangan luas. Moses lahir di Banyuwangi 14 Desember 1941 belajar melukis secara otodidak dan ia terus menekuni gaya lukisanya hingga ia tercatat sebagai salah satu pelopor yang mengenalkan teknik palet.

Kekhasan dari gaya lukisan Moses yang tebal tebal menghasilakn efek tiga dimensi, di mana dalam lukisan itu terdapat tonjolan cat yang menyerupai relief yang dioleskan dengan pisau palet. Moses mengawali kariernya sebagai pelukis profesional sejak ia berpameran tunggal di Kuala Lumpur Malaysia th 1969. Setelah itu, berpameran di Darwin, Perth, Casuarina (Australia), hingga Bangkok hanya dengan bermodalkan 5 dollar.

Tahun 2000, Moses membangun Mozes Misdy Museum & Art Gallery, di tanah kelahirannya, Banyuwangi yang difungsikan sebagai wahana pengkajian dan tempat pameran bagi para pelukis muda. Karya karya dan totalitasnya berkesenian menginspirasi banyak pihak.

Retno Nagayomi ( pelukis Surabaya), sebagai pengagumnya menulis buku tentang Moses Misdy berjudul Mozes Misdy, Ekspresionisme of Mozes in unity. Moses Misdi telah pergi namun keabadiannya telah ia tancapkan sebagai tonggak peradaban bangsa. Selamat jalan Sang Maestro semoga menemukan kebahagian yang abadi bersama Sang Khalik di Surga. Amin. (cdl)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *