oleh

Segera Bertobat Atas Setiap Dosa yang Dilakukan

BILA seseorang ingin hidup bahagia di dunia dan di akhirat, maka Allah memerintahkan kepada orang tersebut agar bertobat. Yaitu bertobat dari dosa-dosa yang dilakukannya. Begitulah kehebatan peranan tobat kepada Allah. Sungguh besar nilai tobat. Maka tidak diragukan lagi bahwa tobat itu harus dilaksanakan sesegera mungkin. Sebab, pengetahuan bahwa perbuatan maksiat itu membinasakan adalah termasuk bagian dari iman, dan hal itu wajib dilakukan dengan segera. Kepada setiap Mu’min yang durhaka dengan melakukan perbuatan maksiat, hendaklah segera kembali kepada Allah Swt, dengan bertaubat kepada-Nya dari dosa tersebut sebelum terlambat kelak, jika mati, ia akan menemui Tuhannya dengan keadaan kotor dan celaka.

Ketahuilah, sesungguhnya kewajiban bertobat itu telah sangat jelas dinyatakan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Saw. Juga sangat nyata bila dilihat melalui cahaya mata batin (bashirah), bagi orang yang nuraninya terbuka dan hatinya dilapangkan oleh Allah dengan adanya cahaya iman, sehingga ia mampu memandang menerobos kegelapan kebodohan, tanpa perlu seorang pemandu yang akan menuntunnya setiap langkahnya.

Di antara para salik (penempuh jalan Allah) mungkin ada yang buta, sehingga ia membutuhkan penuntun dalam setiap langkahnya. Sementara para salik yang dapat melihat, hanya memerlukan penuntun di awal langkahnya saja, kemudian ia akan menuntun dirinya sendiri.

Sebaliknya, ada orang yang beruntung dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima Islam, dan terus disinari oleh cahaya Tuhan. Dia cepat merespon setiap sinyal selemah apapun untuk menempuh perjalanan yang penuh rintangan dan berbagai kesulitan yang melelahkan. Di hatinya selalu terpancar cahaya Al-Qur’an dan cahaya iman. Cahaya dalam batinnya itu begitu tajam sehingga ia sudah merasa cukup dengan penjelasan yang hanya sekilas.

Allah subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur, 24: 31). Dalam Firman-Nya yang lain disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kamu kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu menutupi kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkanmu ke dalam surga yang di bawahnya mengalir beberapa sungai, pada hari yang Allah tidak menyia-nyiakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami untuk kami, dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim, 66: 8).

Yang dimaksud dengan “taubatan nashuha” dalam ayat ini adalah melakukan tobat dengan ikhlas, murni karena Allah semata dan bersih dari noda-noda pamrih serta syirik. Umar bin Khaththab r.a. yang dikenal dengan sebutan Amirul Mukminin pernah ditanya tentang taubatan nashuuha, maka dia menjawab, “Seseorang yang bertobat karena melakukan suatu perbuatan buruk, kemudian dia tidak melalukannya lagi selama-lamanya.” Dalam riwayat lain, dari Muadz, yang dinyatakan marfu’, “Taubatan nashuuha yang dimaksud, bahwa orang itu tidak akan membutuhkan tobat yang lain lagi.”

Kesimpulan para ulama ahli tafsir tersebut ialah, “Orang yang bertobat itu tidak akan mengulangi perbuatannya yang salah. Walaupun ia disiksa agar melakukannya lagi.” Tobat itu hukumnya wajib, baik karena berbuat maksiat, berbuat dosa besar, maupun berbuat dosa kecil. Tobat dilakukan ketika sadar, bahwa dirinya telah berbuat salah, dan tidak ditunda-tunda lagi.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya, selagi rohnya belum sampai di tenggorokan (hampir lepas nyawanya).” (HR. Tirmidzi melalui Ibnu Umar r.a.).

Ada suatu riwayat, “Rasulullah Saw. dengan ditemani oleh Abu Bakar dan Umar mendatangi seorang laki-laki Yahudi yang sedang membacakan Taurat dihadapan anaknya yang tengah menunggu ajal. Rasulullah bersabda, “Demi Allah yang telah menurunkan Taurat, aku bertanya kepadamu, apakah kamu dapati dalam kitabmu tentang sifat-sifatku dan tanda-tanda aku diutus sebagai Nabi”? Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, yang maksudnya: tidak ada. Kemudian anak dari orang Yahudi itu tiba-tiba menyahut, “Ya, Demi Allah yang telah menurunkan Taurat, kami dapati dalam kitab kami sifat-sifatmu dan tanda-tandamu sebagai utusan Allah. Karena itu, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan sesungguhnya engkau Muhammad adalah utusan Allah.” Mendengar jawaban anak itu, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Perlakukanlah orang Yahudi yang satu ini seperti saudaramu yang mukmin.” Setelah anak Yahudi itu meninggal, Rasulullah mengurusnya, mengafankan, dan menshalatkannya.”

Di dalam ayat di atas (QS. At-Tahrim, 66: 8) Allah menyatakan dengan tegas, bahwa orang yang bertobat dengan sebenar-benarnya atau semurni-murninya akan diampuni kesalahan-kesalahannya yang tidak disengaja. Dia akan menghapus semua dosa kecil terhadap sesamanya. Dan juga akan menutupi kesalahan-kesalahan yang dilakukan, lalu dimasukkan ke surga. Karena itu hamba Allah hendaknya kembali ke jalan-Nya, Allah pasti menerimanya. Ingatlah! Sungguh, keuntungan dan kebahagiaan itu berada di balik ampunan dan anugerah Allah. Orang yang bertobat dan kembali ke jalan Allah akan mendapatkan surga serta keridhaan-Nya. Itulah nikmat yang terbesar.

Seluruh umat telah sepakat bahwa bertobat itu hukumnya wajib, serta menyadari bahwa dosa dan maksiat itu hanya membawa kepada kehancuran dan menyebabkan pelakunya jauh dari Allah. Hal ini tentu saja termasuk perkara yang wajib diimani, namun kita sering lalai. Orang yang beriman dengan hati dan lisan, tetapi melalaikan perintah-perintah Allah Swt. dengan melakukan perbuatan maksiat setiap hari, maka ia berada dalam bahaya yang berat. Sekiranya orang tersebut tidak mendapat taufik dan petunjuk Allah Swt. untuk segera bertaubat dari dosanya sebelum ajal menjemput, dikhawatirkan akan dimasukkan dalam kelompok kaum munafik dan kafir yang akan dicampakkan ke dalam api neraka yang membakar hingga ke pangkal hati.

Seorang ahli maksiat, yang tidak merasa takut akan berada kekal di neraka akibat dosa-dosa yang ia lakukan, adalah seperti orang sehat yang tenggelam dalam kubangan nafsu yang membahayakan. Ia tidak merasa takut terhadap kematian karena ia merasa fisiknya sangat sehat, dan ia yakin bahwa kematian itu tidak akan datang secara tiba-tiba. Maka sebaiknya kita menyadari bahwa, “Orang yang sehat itu bisa tiba-tiba sakit, dan jika jatuh sakit, ia bisa mati.” Begitu pula kepada orang yang gemar melakukan maksiat atau berbuat dosa, baik maksiat kepada Allah dan maksiat kepada sesama kita, karena dikhawatirkan ia akan mengalami akhir kehidupan yang buruk, su’ul khatimah, niscaya ia akan kekal berada di neraka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang yang bertobat dari dosanya, maka dia seperti orang yang tidak berdosa.” (HR. Thabrani melalui Abdullah bin Mas’ud). Dalam firman Allah Swt. dinyatakan, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.” (QS. Az-Zumar, 39: 54).

Dalam pendapat Ar-Raghib mengatakan, “Yang dimaksud kembali kepada Allah ialah kembali kepada-Nya dengan tobat dan keikhlasan beramal.” Sedang Imam Baihaqi, maksud ayat di atas (QS. Az-Zumar, 39:54) mengatakan bahwa, “Cepatlah bertobat dari segala macam kemaksiatan dan ikhlaskanlah amal kebaikanmu untuk Allah. Berserah dirilah kamu, serta tunduklah terhadap hukum-Nya sebelum azab datang kepadamu, kemudian kamu tidak akan dapat ditolong lagi.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Semua anak Adam pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan ialah mereka yang bertaubat.” (HR. Addarami). Dalam hadits yang lain dinyatakan, “Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat.” (HR. Ahmad). Dan dalam suatu riwayat disebutkan, “Apabila kamu melakukan dosa maka lakukanlah pula tobat. Apabila (dosa itu) dirahasiakan maka taubatnya juga dirahasiakan dan apabila dosa itu terang-terangan maka taubatnya pun terang-terangan pula.”

Imam Ghazali mengatakan, “Kewajiban untuk bertaubat sudah menjadi hukum azali yang ditetapkan atas umat manusia, yang tidak mungkin bisa berubah selama sunnatullah tidak berubah. Padahal mustahil hukum Allah itu bisa berubah. Setiap orang yang memasuki usia baligh dalam keadaan kafir dan bodoh, dia harus bertaubat dari kebodohan dan kekafirannya. Sementara bagi orang yang memasuki usia baligh sebagai seorang Muslim yang hanya bertaklid kepada kedua orangtuanya, namun lalai akan hakikat keislamannya, ia juga harus bertaubat dari kelalaiannya itu dengan cara berusaha tekun memahami makna agama Islam. Sebab, ia tidak cukup sekedar mengandalkan keislaman orang tuanya sedikit pun, selama ia belum menghayati keislaman dirinya sendiri. Jika sudah memahami, ia harus segera menghentikan kebiasaan buruknya mengikuti hawa nafsu secara terus-menerus. Yaitu dengan kembali kepada batasan-batasan yang telah digariskan oleh Allah. Ini jelas pintu tobat yang paling berat untuk dimasuki, dan di sanalah banyak orang celaka lantaran tidak mampu menghadapinya. Semua itulah yang disebut kembali dan bertaubat.”

Maka kita wajib bertobat secara terus menerus dan dalam setiap keadaan, bisa dijelaskan bahwa itu dikarenakan anggota tubuh kita memang tidak dapat lepas dari perbuatan maksiat dan dosa. Sekalipun misalnya dalam waktu tertentu kita sanggup menahan anggota-anggota tubuh kita dari berbuat maksiat, kita tetap tidak bisa terbebas dari keinginan di hati untuk melakukan dosa. Dan kalaupun suatu waktu kita mampu membebaskan diri kita dari keinginan di dalam hati tersebut, kita tidak akan mampu melepaskan diri dari bisikan-bisikan setan yang mengganggu (was was), yang menyusup ke dalam pikiran kita sehingga kita menjadi lengah dari berzikir mengingat Allah.

Sulit dibayangkan ada seorang anak manusia yang bisa bebas dari kekurangan ini. Hanya saja, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, dari segi kuantitas dan ukurannya. Tapi, secara prinsip harus diakui bahwa mereka pasti memiliki kekurangan tersebut. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh hatiku terkadang bisa tertutup kabut, sehingga sehari semalam aku memohon ampunan kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari). Dalam hadits yang senada disebutkan, “Sungguh hatiku mendapatkan pertolongan. Sungguh aku benar-benar memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu tobat adalah upaya meninggalkan berbagai kemaksiatan seketika itu juga, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang. Selain itu, juga harus memperbaiki kekurangan atau kesalahan yang terjadi di masa lalu. Dan semua itu hukumnya wajib, tidak ada keraguan lagi. Demikian pula wajib menyesali kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan merasa sedih dengannya. Inilah spirit dari tobat, karena dengan begitu akan muncul upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang yang berbuat dosa lalu membersihkan diri (wudhu atau mandi), kemudian ia salat dan memohon pengampunan Allah maka Allah akan mengampuni dosanya. Setelah berkata demikian Rasulullah mengucapkan firman Allah surat Ali Imran ayat 135: “Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji mereka itu sedang mereka mengetahui.” *Wallahu* *a’lam* *bish-shawwab* .

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *