POSKOTA.CO – Negara Mesir memiliki biduan berkatagori diva bernama Ummi Kalsum yang belum tertandingi di blantika musik internasional. Maka tak berlebihan jika di Indonesia ada yang menyamakannya, yaitu Rofiqoh Darto Wahab (76).
Perempuan asal Pekalongan inilah yang pertama menembus Istana Negara dengan lagu qasidah, lalu mempopulerkan. Uniknya, dia memulai semua itu saat kondisi politik negara sedang mencekam.
Suatu ketika Rofiqoh dikejutkan oleh suara sirine panjang di Istana Negara menjelang pecahnya Gestapu atau G30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia). Saat itu dia baru selesai melantunkan ayat-ayat suci Alquran.
Dari podium dia leluasa melihat kecamuk di wajah para tamu perhelatan Isra Miraj di bulan September tahun 1965 itu.
“Saya melihat pak Harto (Soeharto) melaporkan sesuatu ke pak Soekarno. Dan para tamu mulai berdiri dari kursi, saling pandang. Bingung ada apa? Saya juga khawatir,” ujar Hj Rofiqoh Darto Wahab dalam obrolan dengan poskota.co, Minggu (26/9/2021) siang.
Beberapa hari setelah insiden sirine itu, meletuslah G30S PKI. Peristiwa politik paling kelam itu menjadikan fitnah sebagai mesiu mematikan. Puluhan tahun kemudian, tepatnya hari ini aroma dupanya masih saja dihembus-hembuskan.
“Waktu itu pak Karno naik ke podium ngasih pengumuman untuk menenangkan para tamu istana. Jadi selain saya, ada pak Karno dan Duta Besar Aljazair di atas podium,” lanjut Rofiqoh.
Pengumuman yang disampaikan Presiden Soekarno saat itu, lebih mengejutkan Rofiqoh. “Pak Karno bertanya, apakah yang mengaji bisa bernyanyi? Saya bilang bisa. Lalu saya diminta bernyanyi,” ujar Rofiqoh yang lebih dari setengah usianya dihabiskan untuk berdakwah dan pendidikan umat.
Setelah Isra Miraj di Istana, suara merdu Rofiqoh mulai dikenal masyarakat melalui piringan hitam. Perusahaan rekaman meminangnya. Selanjutnya, sampai akhir 1990an rekaman lagu-lagu qasidah menjadi dunianya. Dia tak tergantikan.
“Di Istana waktu itu saya nyanyikan lagu salawat nabi dan lagu lainnya,” jelas pemilik 100an album lagu produksi beberapa perusahaan rekaman papan atas. Salahsatu tembang hits-nya “Hamawi Ya Mismis” yang melegenda.
Mungkin sebagian kita pernah mendengar atau fans beratnya. Tapi yang penasaran dengan lagu-lagu Hj Rofiqoh Darto Wahab silakan cari di Youtube. Banyak sekali versinya.
Sejak suaminya wafat tahun 1997, Rofiqoh mengurangi intensitas kegiatan luar rumah dengan mengelola dan memimpin kelompok pengajian seperti Ittihadul Ummahat (Persatuan Ibu-ibu) di Bekasi Timur, Romuna (akronim dari Rofiqoh, Munawwir, dan Munadzorah), dan Yayasan Gadi Fi Muna yang membawahi majlis taklim, taman kanak-kanak dan sejumlah kegiatan sosial.
“Saya rekaman lagu terakhir tahun 1990an,” kata Rofiqoh. Sayangnya hampir semua dokumen lagu berupa piringan hitam miliknya dicuri orang dari rumahnya.
Satu hal tentang profesinya, menurut Rofiqoh sangat berat di awal memulainya. Sebab reaksi masyarakat terhadap perempuan bernyanyi sangat keras. Musik dianggap haram pada jaman itu.
“Tapi ayah saya berpesan agar tidak membalas reaksi,” kenang Rofiqoh, yang terdidik dengan dunia santri. Di masa remaja dia menjuarai beberapa lomba qiroah (melantunkan ayat suci Alquran).
Dukungan ayahnya yang memiliki pesantren, lebih dari itu. “Ayah dan beberapa sahabatnya menyediakan waktu kepada orang untuk adu buka kitab, membahas soal keharaman musik. Tapi tidak ada yang datang,” kata Rofiqoh.
Perjuangan karir dan dakwah Rofiqoh tak sesederhana seperti yang terlihat hari ini. “Pahitnya banyak saya alami, tapi kalau kita ikhlas Alhamdulillah diberkahi Allah,” ujarnya. (tis)







Komentar