JAKARTA — Siloam Hospitals TB Simatupang mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan jantung dan tulang melalui kampanye “Let’s Check the Beat”. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya edukasi kesehatan yang mengajak masyarakat mengenali risiko penyakit sejak dini, menerapkan gaya hidup sehat, serta melakukan pemeriksaan medis sesuai kebutuhan.
CEO Siloam Hospitals TB Simatupang, Mada Shinta Dewi, dalam kegiatan media interview bertajuk “Kenali Area Rawan Patah Tulang dan Pentingnya Olahraga untuk Cegah Osteoporosis” yang berlangsung di Celebrity Fitness PIM Jakarta pada Jumat (16/10/2026) menyampaikan bahwa kampanye tersebut merupakan peluncuran nasional pertama yang diharapkan dapat dikembangkan melalui berbagai program lanjutan. Melalui inisiatif ini, masyarakat diajak untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan tidak mengabaikan gejala yang berpotensi berkaitan dengan gangguan jantung maupun tulang.
Mada juga menyoroti pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai aritmia atau gangguan irama jantung serta osteoporosis, yakni kondisi ketika kepadatan dan kekuatan tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rentan mengalami patah.
Kampanye ini menekankan bahwa kesadaran terhadap kesehatan tidak cukup hanya muncul ketika seseorang mengalami keluhan. “Pemeriksaan dan upaya pencegahan perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari agar risiko penyakit dapat dikenali dan ditangani secara tepat,” ujar Mada.
Media interview menghadirkan dua narasumber yakni Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Panggul dan Lutut Siloam Hospitals TB Simatupang, Dr. Wijaya Johanes Chendra, Sp.OT, Subsp PL (K), MMRS, AIFO-K, FICS dan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Siloam Hospitals TB Simatupang, Dr. Bernadette Laura, Sp.KO.
Osteoporosis Kerap Tidak Menimbulkan Gejala pada Tahap Awal
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Panggul dan Lutut Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Wijaya Johanes Chendra, Sp.OT, Subsp PL (K), MMRS, AIFO-K, FICS, dalam paparannya menjelaskan bahwa osteoporosis merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas.
Osteoporosis kerap disebut sebagai silent disease atau penyakit senyap. “Seseorang dapat mengalami penurunan kepadatan tulang tanpa menyadarinya hingga terjadi patah tulang, bahkan akibat benturan ringan atau terjatuh saat melakukan aktivitas sehari-hari,” katanya.
Ia mengatakan perubahan kondisi tulang dapat terlihat dari berkurangnya tinggi badan seiring bertambahnya usia. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan perubahan pada tulang belakang, termasuk patah tekan pada ruas tulang belakang akibat osteoporosis.

Osteoporosis dapat berdampak terhadap kualitas hidup seseorang. Patah tulang dapat menimbulkan rasa sakit, membatasi mobilitas, dan membuat pasien membutuhkan proses pemulihan yang panjang. Dalam kondisi tertentu, keterbatasan bergerak juga dapat mengurangi kemandirian seseorang dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. “Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menunggu sampai terjadi patah tulang untuk mulai memperhatikan kesehatan tulang,” tegasnya.
Menurut dr. Wijaya, risiko osteoporosis dipengaruhi berbagai faktor, antara lain pertambahan usia, kurangnya aktivitas fisik, asupan nutrisi yang tidak memadai, perubahan hormonal, serta kondisi medis dan penggunaan obat-obatan tertentu. Penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang, misalnya, dapat meningkatkan risiko osteoporosis.
“Oleh sebab itu, pasien yang menggunakan obat tersebut dalam jangka panjang perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai pemantauan kesehatan tulang,” lanjutnya.
Selain mengenali faktor risiko, pemeriksaan kepadatan mineral tulang menjadi salah satu langkah yang dapat membantu mendeteksi osteoporosis. Pemeriksaan ini dapat dilakukan berdasarkan usia, kondisi kesehatan, riwayat patah tulang, dan faktor risiko individu. Hasil pemeriksaan kemudian dapat digunakan dokter untuk menentukan langkah pencegahan maupun penanganan yang sesuai. Pada pasien yang telah mengalami osteoporosis, penanganan dapat mencakup perubahan gaya hidup, pemenuhan kebutuhan nutrisi, pencegahan jatuh, serta terapi medis sesuai indikasi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak usia muda. Kebiasaan beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan memenuhi kebutuhan kalsium serta vitamin D merupakan bagian dari upaya mempertahankan kekuatan tulang dalam jangka panjang.
Olahraga Membantu Menjaga Kekuatan Tulang dan Otot
Pencegahan osteoporosis tidak terlepas dari aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Siloam Hospitals TB Simatupang, Dr. Bernadette Laura, Sp.KO, menjelaskan bahwa olahraga berperan penting dalam menjaga kekuatan tulang, membangun otot, serta mempertahankan keseimbangan tubuh.
Tulang merupakan jaringan hidup yang mampu beradaptasi terhadap rangsangan mekanis. “Aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu mempertahankan kesehatan tulang, sedangkan kurang bergerak dapat berkontribusi terhadap penurunan kekuatan otot dan tulang,” kata dr Laura.
Ia menjelaskan pentingnya menggabungkan beberapa jenis latihan dalam program aktivitas fisik. Jenis latihan tersebut meliputi weight-bearing exercise, latihan kekuatan atau resistance training, latihan keseimbangan, dan latihan fungsional. Weight-bearing exercise merupakan aktivitas yang membuat tubuh menopang beratnya sendiri melawan gravitasi, seperti berjalan kaki. Sementara itu, resistance training dilakukan dengan memberikan tahanan pada otot, misalnya menggunakan beban, resistance band, atau berat badan sendiri.
Latihan kekuatan tidak hanya bermanfaat bagi otot. Kontraksi otot juga memberikan rangsangan mekanis pada tulang sehingga latihan yang dilakukan dengan tepat dapat mendukung pemeliharaan kekuatan tulang.
Adapun latihan keseimbangan dan fungsional membantu meningkatkan kemampuan tubuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kemampuan tersebut penting untuk mengurangi risiko terjatuh, terutama pada kelompok lanjut usia.
Ia menegaskan bahwa program olahraga tidak dapat disamaratakan untuk setiap orang. Kondisi kesehatan, usia, kemampuan fisik, riwayat cedera, dan tujuan latihan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis serta intensitas aktivitas.
Sebelum memulai program latihan, kata dr Laura, penilaian kondisi fisik diperlukan untuk mengetahui kemampuan dan keterbatasan seseorang. Dari hasil penilaian tersebut, program dapat disusun secara individual dan dievaluasi secara berkala.
Salah satu prinsip yang perlu diterapkan adalah progressive overload, yaitu meningkatkan beban atau intensitas latihan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
Sebagai contoh, seseorang yang baru memulai latihan dapat mengawalinya dengan gerakan sederhana dan beban ringan. Setelah tubuh beradaptasi dan kemampuan meningkat, intensitas latihan dapat ditambah secara bertahap dengan tetap memperhatikan teknik yang benar.
Prinsip keselamatan juga harus menjadi perhatian. Latihan dengan beban berat atau gerakan berintensitas tinggi tidak selalu cocok untuk semua orang. Pemilihan latihan harus mempertimbangkan kondisi tulang, kekuatan otot, keseimbangan, serta kemungkinan adanya penyakit penyerta.
Bagi individu yang telah didiagnosis mengalami osteoporosis atau memiliki riwayat patah tulang, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan bentuk aktivitas yang aman.
Selain intensitas latihan, konsistensi menjadi faktor penting. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dan bertahap dapat membantu membangun kebiasaan sehat dalam jangka panjang.
Cegah Jatuh dengan Membangun Lingkungan yang Aman
Selain olahraga dan pemenuhan nutrisi, pencegahan jatuh merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan tulang, terutama bagi kelompok lanjut usia dan orang dengan risiko osteoporosis. Lingkungan rumah perlu ditata agar aman, antara lain dengan memastikan pencahayaan cukup, menjaga lantai tidak licin, menyingkirkan benda yang berpotensi menyebabkan tersandung, serta menyediakan pegangan pada area yang diperlukan.
Upaya tersebut kata dr Laura, perlu disertai latihan kekuatan dan keseimbangan untuk membantu seseorang mempertahankan stabilitas ketika berdiri, berjalan, atau berpindah posisi.
Pencegahan jatuh menjadi penting karena tulang yang mengalami penurunan kepadatan lebih rentan mengalami patah ketika menerima benturan. Dengan demikian, menjaga kekuatan tulang perlu berjalan beriringan dengan upaya mengurangi risiko cedera.
Pentingnya Kesadaran terhadap Kesehatan Jantung dan Tulang
Melalui kampanye “Let’s Check the Beat”, Siloam Hospitals TB Simatupang mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan secara menyeluruh, termasuk kesehatan jantung dan tulang.
Aritmia dan osteoporosis merupakan kondisi yang berbeda dan memerlukan pendekatan pemeriksaan masing-masing. Aritmia berkaitan dengan gangguan irama jantung, sedangkan osteoporosis berhubungan dengan penurunan kepadatan dan kekuatan tulang. Keduanya perlu dikenali melalui informasi kesehatan yang tepat dan pemeriksaan sesuai indikasi medis.
Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan gejala yang muncul, memahami faktor risiko, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki keluhan atau kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Ke depan, kampanye ini diharapkan dapat dikembangkan melalui program edukasi dan kegiatan kesehatan lanjutan. Rincian program berikutnya masih perlu dikonfirmasi kepada pihak penyelenggara.
Upaya menjaga kesehatan jantung dan tulang pada akhirnya membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui kebiasaan hidup sehat, aktivitas fisik yang sesuai, asupan nutrisi seimbang, pemeriksaan medis yang diperlukan, dan pencegahan cedera sejak dini. (in)







Komentar