oleh

Belajar Rukun Lewat Angklung, Anak-Anak TK IT Mekar Insani Merajut Harmoni Sejak Dini

YOGYAKARTA-Suara angklung mengalun bersahutan di antara riuh ceria anak-anak TK IT Mekar Insani. Dengan penuh semangat, mereka memainkan lagu Padhang Bulan. Di balik permainan musik tradisional tersebut, tersimpan pembelajaran penting yakni anak-anak belajar mendengarkan, bersabar, bekerja sama, dan memberi kesempatan kepada teman.

Di antara peserta didik, ada kakak beradik yang bersekolah di TK IT Mekar Insani yakni Bintang dan Bulan. Mereka tampak asyik bermain angklung. Keduanya dipercaya memainkan angklung dengan nada ‘si’ dan terlihat antusias saat mendapat giliran membunyikan angklungnya. “Aku senang sekali,” kata Bintang yang diamini Bulan.

Bagi TK IT Mekar Insani, angklung bukan hanya sarana mengenalkan musik tradisional Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi ruang belajar yang menyenangkan untuk menumbuhkan karakter dan membiasakan anak hidup rukun bersama teman. Sejalan dengan semangat penguatan karakter yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kepala TK IT Mekar Insani, Zenny Savitri, menjelaskan bahwa bermain angklung menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan minat dan bakat anak di bidang seni. Setiap Kamis, anak-anak berlatih angklung bersama instruktur Achmad Miftahur Rochim.

“Melalui angklung, anak-anak belajar kolaborasi dan disiplin, sekaligus melatih kesabaran. Mereka harus menunggu giliran sesuai nada yang dimainkan. Dari kebiasaan sederhana ini, kami berharap tumbuh sikap positif yang terbawa dalam keseharian mereka,” ujar Zenny pada Kamis (15/10).

Achmad menjelaskan bahwa setiap anak memegang peran dalam membentuk sebuah lagu. Tidak ada satu anak pun yang dapat menghasilkan harmoni sendirian. Mereka perlu memperhatikan aba-aba, mengendalikan keinginan untuk terus membunyikan alat musik, dan mendengarkan teman-temannya.

Pembelajaran dilakukan melalui permainan, isyarat tangan, serta pendampingan sesuai kemampuan masing-masing anak. Anak yang belum percaya diri diberi dukungan agar berani mencoba tanpa takut melakukan kesalahan.

“Angklung mengajarkan bahwa keindahan tidak diciptakan oleh satu orang yang hebat, melainkan oleh banyak orang yang mau saling mendengarkan. Tugas kita bukan sekadar mencetak anak yang pandai bermain musik, tetapi membantu mereka belajar menyatukan perbedaan,” tutur Achmad.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang menyenangkan dapat menjadi pintu masuk untuk menanamkan nilai kerukunan sejak dini. Ketika anak belajar menunggu giliran, menghargai peran teman, dan menyelaraskan bunyi, mereka sesungguhnya sedang berlatih hidup bersama.

Dari setiap getaran bambu, anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang indah. Justru ketika semua saling menghargai dan mengambil bagian, terciptalah harmoni—nilai kebersamaan yang penting dibawa anak dari ruang belajar ke kehidupan sehari-hari. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *