MENJADI PEMIMPIN ‘ZERO EMOTION’


Oleh: Rully Rahadian

SANGATLAH wajar jika emosi kita meledak saat kita merasa diinjak atau tersinggung karena ucapan maupun tingkah laku seseorang yang mengganggu perasaan kita. Tidak jarang meledaknya emosi berujung pada keburukan, baik untuk orang yang kita anggap menyakiti perasaan kita, lingkungan kita, dan diri kita sendiri. Bahkan tidak sedikit akibat emosi yang meledak tersebut bisa berujung petaka.

Jika kita resapi masalah emosi kita sendiri, ternyata banyak hal yang sebenarnya tidak perlu ditanggapi dengan naiknya darah kita, sehingga komunikasi menjadi buntu dan membawa kepada perdebatan sengit yang tidak perlu. Perdebatan adalah hal yang wajar dan sehat, namun perlu dipahami bahwa berdebat bukan untuk mencari kemenangan, namun mencari solusi dan jalan tengah yang akan mempertemukan dua perbedaan yang bertolak belakang.

Sangat tidak mudah dalam menjaga emosi kita, atau menjadi seorang yang tergolong kepada ‘zero emotion’. Seorang yang memiliki kemampuan ‘zero emotion’ adalah seorang yang memiliki kecerdasan emosional atau ’emotional quotient’ yang sangat tinggi. Kecerdasan emosional tidak berbanding lurus dengan kecerdasan intelegensia seseorang. Tidak menjamin seorang yang cerdas secara akademik juga cerdas secara emosional. Banyak juga orang yang dianggap cerdas, pandai, pintar, atau sebutan lain untuk menggambarkan kehebatan pengetahuan logika seseorang, namun tidak dapat mengendalikan emosinya, dan bersikap bak manusia tak berpendidikan dengan sikap dan ucap yang kasar, penuh caci maki dan perkataan yang tak pantas.

Perlu kita pahami juga bahwa di lingkungan kita masih banyak orang yang kecerdasan emosionalnya jauh di bawah rata-rata meskipun mempunyai pendidikan dan pergaulan yang baik dan terhormat. Bahkan sering terjadi ketika kita berhadapan dengan orang yang salah terhadap kita, katakanlah orang tersebut berbohong kepada kita, namun menjadi lebih galak daripada kita sendiri.
Sangat wajar, terutama jika orang tersebut berbohong dan menutupi sesuatu kepada kita, dan kita tidak terima karena kita tahu merasa dibohongi dan dia jelas berbohong, pastinya akan berusaha menutupi kebohongannya dengan mencari celah untuk menyerang kita terlebih dulu dengan tuduhan yang mirip dengan yang dilakukannya, seolah kitalah yang bersalah, sehingga lebih dulu marah serta memaki dengan bahan yang dia miliki.

Orang yang mempunyai kemampuan ‘zero emotion’ tentunya tidak akan melawam secara frontal tuduhan balik yang dilancarkan. Sebenarnya tidak perlu khawatir tentang hal tersebut, karena apa yang dituduhkan kepada kita jika kita memang tidak melakukan tuduhan tersebut, akan berbalik secara cepat atau lambat, karena orang yang sabar dan tidak menyerang balik sebenarnya menabung energi yang ditransformasikan menjadi bentuk sikap bijak dan wibawa. Sementara itu seorang yang emosinya cepat meledak, energinya cepat terkuras, dan banyak kehilangan kebijakan dalam dirinya, termasuk wibawanya, sehingga mudah terserang penyakit yang sumbernya dari kelabilan psikis seperti gangguan saraf, sistem sirkulasi darah dan sistem pernapasan seperti tekanan darah tinggi, jantung, asma, gangguan ginjal, asam urat/rematik, tukak lambung, vertigo, migrain, dan lain-lain.

Kebanyakan orang terseret emosi karena rasa gengsi dan harga diri yang terlalu tinggi, takut dinilai pengecut, bodoh, dan lemah. Padahal diam atau tidak menyerang secara frontal adalah sikap yang lebih baik daripada melawan dengan cara yang sama. Seseorang akan lebih terhormat jika tidak mengangkat aib orang yang sedang emosi di hadapannya meskipun ia tahu orang tersebut menutupi aibnya dengan bereaksi secara berlebihan. Secara moralitas maupun agama, tidak mengumbar aib orang sebagai bahan menyerang orang tersebut adalah pilihan bijak seoramg manusia yang lebih mulia.

Tentunya dengan harapan agar kita bisa menjadi orang yang ‘zero emotion’, biarlah orang seperti itu dengan keyakinan semu yang dibuatnya sendiri. Sebagai orang yang berniat baik dan berniat jujur apa adanya, posisikan diri kita sebagai orang yang lebih beruntung karena kita pada posisi yang benar dan yakin kebenaran selalu akan melindungi langkah kita. Bagaimana kita bisa menjadi seorang yang ‘zero emotion’ jika hidup kita selalu diliputi kebohongan dan menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya? Kebohongan, ketidakjujuran dan tidak apa adanya adalah pintu yang paling besar dan jalan yang paling licin untuk masuk dan menggelincirkan seseorang untuk semakin jauh dari ‘zero emotion’.

Selain masalah integritas diri, manusia ‘zero emotion’ akan selalu menjadi manusia yang tenang lahir batin meskipun beban dalam diri menumpuk. Manusia ‘zero emotion’ akan memandang semua masalah secara bijak dan berorientasi kepada solusi, bukan kepada menang atas debat yang terjadi, atau menjadi manusia yang merendahkan manusia lainnya, serta merasa paling benar dan paling pintar. Bagi manusia ‘zero emotion’, kesepahaman dan kebersamaan dalam melangkah adalah sebuah kebahagiaan yang tiada taranya.

Dalam kurum waktu yang cukup panjang, bangsa kita ini sedang mengalami krisis pengendalian emosi. Di mana-mana terjadi keributan yang kebanyakan awalnya dimulai dari friksi kecil yang semakin melebar, karena tidak segera ditanggapi secara bijak. Kesabaran hanya tinggal kata tanpa makna di bangsa ini. Hampir sebagian besar manusia di bangsa ini tidak mempunyai kesabaran. Semua hanya ingin didengar, tapi tidak mau mendengar. Sikap egosentris yang selalu diperlihatkan, karena orientasinya hanyalah dirinya sendiri. Dirinyalah subjek, sedangkan orang lain, makhluk hidup lainnya, serta lingkungannya hanyalah objek yang bisa ia atur semaunya. Celakalah bangsa ini jika masyarakatnya sudah berperilaku demikian.

Dalam situasi bangsa yang seperti ini, seorang peminpin dituntut menjadi orang yang ‘zero emotion’. Apalagi seorang pemimpin adalah pelayan masyarakat yang dipimpinnya. Sangatlah tidak elok jika seorang pemimpin mudah sekali diombang-ambing emosinya. Bagaimana bisa dipercaya sebagai seorang pemimpin jika emosinya mudah sekali dibakar api amarah.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menguasai emosi yang ada dalam dirinya. Tidak sedikit pemimpin yang jatuh karena emosi. Dampak langsung yang tercipta adalah salahnya mengambil keputusan karena desakan emosi yang menikam simbiosis rasio dan rasa yang seharusnya selalu dalam keadaan seimbang. Tidak jarang pula karier yang diembannya sebagai amanah hancur luluh karena emosi yang tidak bisa dikendalikan.

Sekali lagi, menjadi manusia ‘zero emotion’ bukan hal mudah. Yang paling sulit adalah mengalahkan ego kita yang bersemayam di diri kita. Keberhasilan seorang pemimpin dalam menjalankan amanahnya salah satunya adalah mampu mengendalikan emosinya. Tidak sedikit pemimpim yang berkarakter temperamental. Memang tidak sedikit juga yang merupakan pekerja keras dan berhasil dalam kariernya. Namun pemimpin yang ‘zero emotion’-lah yang mampu hadir menyiram air dingin di antara percikan bara maupun panasnya api dalam sekam. Pemimpin yang mampu membuat rasa ‘adem’ saat situasi panas adalah pemimpin panutan yang mampu membangun serta mempertahankan jalinan silaturahmi serta persaudaraan masyarakat yang dipimpinnya. (Penulis adalah Ketua Lembaga Konservasi Budaya Indonesia, dan Wakil Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Online Independen Nusantara /PWOIN)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *