oleh

Jagalah Hati dari Kotoran

Oleh: Karsidi Diningrat

BENTUK amalan hati banyak sekali, dalam hal ini anggota badan hanya bertugas melaksanakan semua kehendak hati. Oleh karena itu jika hati baik, maka baiklah seluruh (amalan) anggota tubuh, dan bila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh (amalan) anggota tubuh. Sebagaimana dalam Sabda Nabi Muhammad Saw, “ … Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, apabila ia baik, maka baiklah seluruh (amalan) tubuh, dan bila ia rusak (buruk) maka buruklah semua (amalan) tubuh. Ingatlah (bahwa segumpal darah) itu adalah hati.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits lain disebutkan, “Siapa manusia yang paling utama? Beliau menjawab, ‘Yaitu orang yang makhmum hatinya dan benar perkataannya.’ Mereka berkata, ‘Orang yang benar perkataannya sudah kami mengerti, tetapi apakah yang dimaksud dengan makhmumul qalbi?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu orang yang hatinya bersih, bertaqwa, tidak diliputi dosa, tidak diliputi pelanggaran dan kezhaliman, serta dengki.” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah menginginkan umatnya agar memiliki hati yang bersih, bertaqwa, tidak diliputi dosa, kezhaliman, kecurangan, penipuan, dan dengki atau iri hati. Yang demikian itu tidak akan tercapai kecuali dengan melakukan pelatihan-pelatihan dan mengendalikan jiwa dari hal-hal yang diharamkan Allah Swt., dan mempergunakan sesuatu yang dihalalkan Allah dengan tidak berlebihan. Hati setiap mukmin memiliki potensi untuk melakukan kebaikan atau keburukan.

Rasulullah saw telah bersabda, “Di dalam hati itu ada dua bisikan, yaitu bisikan dari malaikat yang berupa ajakan kepada kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barangsiapa mendapati hal itu, hendaklah ia ketahui bahwa hal itu dari Allah, dan hendaklah ia memuji-Nya. Dan satu bisikan lagi dari musuh (setan) yang berisi ajakan kepada kejahatan, mendustakan kebenaran, dan melarang perbuatan baik. Barangsiapa mendapati hal ini hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.’ Kemudian beliau membaca firman Allah (QS. Al-Baqarah [2]:268) yang artinya: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (HR. Tirmidzi).

Hati Dibagi Menjadi Tiga Macam

Prof. Dr. Ali Abdul Halim Mahmud mengatakan bahwa para ulama salaf membagi hati menjadi tiga macam. Pertama: hati yang ‘diramaikan’ dengan ketakwaan, disucikan dengan riyadhah (pelatihan), dan bersih dari segala kotoran. Maksudnya, hati yang selalu diisi dengan amal saleh yang berupa syukur, sabar, khauf, raja’, faqr (selalu merasa butuh kepada Allah), zuhud, cinta, ridha, rindu, tawakal, tafakkur, dan muhasabah (intropeksi). Inilah hati yang selalu tenang dengan mengingat Allah: “… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

Salah satu kandungan makna hati adalah sesuatu yang lembut (lathifah) yang bersifat robbani dan ruhani. Hati jenis inilah yang menjadi sandaran jasad. Hal yang lembut ini adalah hakikat manusia yang dapat memahami dan mengetahui serta mengerti. Hati inilah yang diajak bicara, disiksa, dicerca dan dituntut melaksanakan kewajiban.

Dalam perspektif sufistik, qalbu sebagai kelembutan Rabbaniyah Rohaniyah yang merupakan hakikat manusia. Salah satu term nya adalah shudurun, dimaknai dengan hati. Hati yang bermaksud baik, hati yang berzikir dan sebagainya, maka Allah tidak pernah luput dari mengetahui isi hati manusia. Kata hati yang buruk dan yang baik akan selalu dievaluasi. Jadi, kata shudur yang digunakan dalam sebutan hati, agar manusia dapat memahami, betapa tingginya ilmu Allah yang mengetahui bisikan hati sanubari manusia, dan shudur manusia itu selalu diawasi dan dievaluasi Allah. Allah menguji apa yang ada dalam hatimu, apakah hati itu dibersihkan? atau hati itu dibiarkan kotor. Bersih di sini, bahwa hati manusia selalu diberikan kebenaran, hati sebagai awal perbuatan. Allah mengetahui isi hati manusia, apakah hati itu mencari jalan kewajiban atau hati itu mencari jalan kefasikan.

Allah Swt. telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2).

Kedua: hati yang hina yang penuh dengan hawa nafsu dan kotoran, yang di dalamnya terbuka bagi setan. Jenis hati ini selalu menuruti hawa nafsu dan tergerak anggota tubuhnya untuk melaksanakannya sehingga ia menjadi sumber maksiat. Inilah hati yang dikatakan dalam Al-Qur’an, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqan [25]: 43-44)

Ketiga: hati yang di dalamnya ada dorongan hawa nafsu dan dorongan iman yang masing-masing berusaha untuk mengusai anggota tubuh agar menuruti kehendaknya. Hati yang demikian ini oleh Al-Qur’an dinasehati, “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS. An-Naazi’at [79]: 37-41).

Penyakit yang Berkaitan dengan Hati

Hati menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah yang dikutip oleh Dr. Ahmad Husain Ali Salim terbagi tiga. Karena penyakit maknawi itu berkaitan dengan hati, maka selayaknya membagi hati itu menjadi hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati.

Pertama: hati yang sehat, yaitu hati yang menjadikan pemiliknya selamat pada hari kiamat karena dirinya membawa hati jenis ini. Hati yang selamat adalah hati yang telah selamat dari syahwat yang menyalahi perintah Allah dan larangan-Nya, selamat dari setiap syubhat yang bertentangan dengan kabarnya, selamat dari penyembahan selain-Nya, selamat dari mengambil hukum selain Rasul-Nya. Atau selamat dari kecintaan kepada Allah dengan menjadikan Rasul sebagai hakim dalam rasa takutnya, harapannya, tawakal kepadanya, kembali kepadanya, tunduk kepada-Nya, senantiasa mengutamakan keridhaan Allah dalam segala hal, menjauhi segala kemurkaan Allah dengan berbagai cara. Semua ini merupakan hakikat penghambaan yang tidak pantas kecuali untuk Allah.

Kedua: hati yang sakit, yaitu hati yang memiliki kehidupan dan penyakit, yakni penyakit.  Hati jenis ini memiliki dua materi; kadang-kadang ditarik oleh materi ini dan kadang juga oleh materi lain. Hati ini tergantung dari materi yang dapat mengalahkan materi lainnya. Di dalamnya ada kecintaan kepada Allah, keimanan kepada-Nya, keikhlasan untuk-Nya dan bertawakal kepada-Nya dan ini merupakan materi kehidupannya. Di dalamnya juga ada kecintaan syahwat, mengutamakannya dan nafsu untuk mencapainya, kesombongan dan ketakaburan, cinta kehormatan, dan kerusakan di bumi dengan kepemimpinan yang termasuk materi kerusakan dan kehancuran. Hati ini diuji antara dua penyeru; penyeru yang menyerunya kepada Allah, Rasul-Nya dan kampung akhirat; dan penyeru yang menyerunya kepada kehidupan dunia yang cepat sirna. Hati ini akan memenuhi seruan penyeru yang paling dekat pintunya dan paling rendah kedekatannya.

Hati yang sakit, jika penyakitnya lebih dominan, maka hati ini bergabung dengan hati yang keras. Jika kesehatannya lebih dominan, maka hati ini bergabung dengan hati yang selamat. Lafazh-lafazh yang dilemparkan oleh setan ke dalam pendengaran, dan kesamaran serta keragu-raguan yang dilemparkan ke dalam hati merupakan fitnah bagi kedua hati ini (hati yang keras dan hati yang sakit). Namun, menjadi kekuatan bagi hati yang hidup dan sehat. Sebab, hati yang sehat menolak, membenci dan murka kepada kesamaran dan keragu-raguan. Juga mengetahui kebatilan hal-hal yang dilemparkan oleh setan, sehingga bertambahlah keimanannya kepada kebenaran dan mencintainya serta kufur dan benci kepada kebatilan. Sedangkan hati yang terkena fitnah terus-menerus dalam keraguan dengan lemparan setan. Dengan demikian, hati yang selamat, selamanya tidak dibahayakan oleh apa-apa yang dilemparkan oleh setan.

Fitnah Menempel Kedalam Hati

Dalam hal ini Rasulullah saw telah bersabda, “Fitnah menempel ke dalam hati sebagaimana tikar dianyam sehelai demi sehelai. Jika fitnah itu masuk ke dalam hati, maka timbullah satu bintik. Dan, hati manapun yang menolak fitnah tersebut, maka timbullah bintik putih sehingga hati kembali kepada dua hati; hati yang hitam bercampur dengan bintik-bintik putih seperti panu yang melengkung, tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kebatilan, kecuali hawa yang masuk ke dalamnya. Dan satu lagi hati yang putih yang tidak dibahayakan oleh fitnah apa pun selama masih ada langit dan bumi.” (HR. Muslim).

Ketiga: hati yang mati. Mayit adalah sesuatu yang tidak memiliki kehidupan. Ia tidak mengenal Tuhannya, tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya dan apa-apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya. Namun sebaliknya, hati ini terus-menerus bergelimang bersama syahwat dan kelezatannya, meskipun ada kemurkaan dan kemarahan Tuhannya. Ia tidak peduli jika menang dalam syahwatnya dan keuntungannya, Tuhannya ridha atau tidak. Ia terus menyembah selain Allah; dengan rasa cinta, takut, harapan, keridhaan, kemurkaan, pengagungan dan penghinaan diri.”

“Jika mencintai, maka ia mencintai untuk syahwatnya. Jika marah, maka ia marah karena hawa nafsunya. Kalau memberi, maka ia memberi karena hawa nafsunya. Kalau menahan pemberian, maka ia menahannya karena hawa nafsunya sehingga hawa nafsunya lebih diutamakan di sisinya dan lebih dicintai dari keridhaan Tuannya. Hawa nafsu menjadi imamnya, syahwat dan kebodohan supirnya, dan kelalaian adalah kendaraannya. Ia selalu digenangi pemikiran untuk menggapai tujuan duniawinya. Ia mabuk dengan hawa nafsu dan kecintaaan kepada sesuatu yang cepat, menyeru kepada Allah dan kampung akhirat dari tempat yang paling jauh namun tidak merespons kepada orang yang memberi nasihat, malahan dia mengikuti setan yang durhaka.”

Bertolak dari persepsi di atas maka nyatalah bahwa hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Apabila ia baik, maka baiklah amalan seluruh anggota tubuhnya, dan apabila ia jelek, kotor, maka jeleklah amalan seluruh anggota tubuhnya. Jadi amalan hati ialah kehendak dan mahabbah serta rasa benci dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sedangkan, amalan anggota badan menjadi penguasa terhadap amalan hati baik kecil maupun besar. Hati inilah yang dibawa Rasulullah. Maka tidak boleh hati ini membawa suatu akidah atau perkataan atau perbuatan yang tidak sesuai dengannya. Walalhu alam bish-shawwab.

-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *