Oleh: Karsidi Diningrat
ALLAH Swt telah berfirman, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 10). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dan dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhulnya, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq [113]: 1-5). Dalam surat ini dijadikan oleh Allah Swt, agar manusia berlindung kepada-Nya dengan mengingat dengki.
Di antara perbuatan yang mencelakakan diri kita ialah sifat hasud atau dengki atau iri hati atau cemburu terhadap orang lain, senang melihat orang lain mendapat kesusahan, memendam permusuhan, busuk hati terhadap orang lain, tidak mempunyai perasaan rahmat dan kasih sayang dan suka berprasangka buruk terhadap orang lain. Semua sifat ini termasuk perbuatan yang membinasakan.
Rasulullah Saw telah bersabda, “Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Dawud).
Menurut sebagian ulama bahwa orang yang dengki adalah orang yang selalu ingkar karena tidak rela kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan. Dan pendapat lain mengatakan bahwa kata dengki dikutip dari firman Alah Swt, “Katakanlah, sesungguhnya yang diharamkan oleh Tuhanmu hanya segala yang keji, baik yang lahir maupun yang batin.” (QS. Al-A’raf [7]: 33). Bahwa yang dimaksud ‘yang batin” di dalam ayat itu adalah dengki. Di dalam sebagian kitab dijelaskan, orang yang dengki adalah orang yang membenci kenikmatan.
Raga yang sakit berbeda dengan raga yang sehat dan baik. Begitu juga halnya dengan penyakit hati. Penyakit hati adalah semacam kerusakan yang terjadi padanya, baik yang ditimbulkan karena syubhat maupun karena hawa nafsu. Dalam hal ini Mujahid dan Qatadah menafsirkan firman Allah, “Dalam hati mereka ada penyakit”, yakni keragu-raguan atau kedengkian. Terkadang ditafsirkan sebagai penyakit hawa nafsu. Mereka juga menafsirkan firman Allah, “Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 32). Yang dimaksud penyakit hati adalah suatu penyakit yang timbul di dalam hati. Oleh karena itu, hati yang dikuasai oleh hawa nafsu maka zikir hanya berada di pinggirannya saja. Ia tidak akan bersemayam di relung hatinya, karena relung hatinya telah dikuasai oleh setan.
Sesuatu yang paling mulia dalam diri manusia adalah hatinya. Karena, dengan hati itu ia mengetahui Allah, beramal untuk-Nya, dan berusaha mendekatkan diri serta menunjukkan apa saja yang ada di sisi-Nya. Adapun anggota badan hanya sekadar mengikuti dan menjadi pelayan bagi hati. Barang siapa mengetahui hatinya maka ia mengetahui Rabbnya. Kebanyakan dari kita tidak mengetahui hati dan jiwa kita. Allah menghalangi antara seseorang dan hatinya, yaitu dengan menghalanginya untuk bisa mengetahui dan muraqabah terhadapnya. Karena, memahami hati dan sifat-sifatnya merupakan dasar agama dan jalan orang-orang yang meretas jalan menuju Allah.
Hati adalah penghulu segala anggota dan pemimpinnya. Padanya, tersimpan semua asas akidah, akhlak, budi pekerti, niat yang baik dan niat yang buruk. Tidak ada kebahagiaan di dunia dan akhirat, selagi hati belum disucikan dan dibersihkan dari sifat-sifat buruk yang tercela, dan segera menyemarakan dan menghiasnya dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji.
Allah Swt telah berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaanya, sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu), dan sunggguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 7-10).
Menurut Syaikh Dr. Said Abdul Azhim mengatakan bahwa “Hati itu perlu dididik sehingga hati dapat tumbuh berkembang dan dapat menjadi baik dan sempurna, sebagaimana raga yang juga perlu ditumbuhkembangkan dengan berbagai makanan yang baik dan bergizi. Hati juga perlu dididik di antaranya dengan mengeluarkan zakat karena zakat dapat memadamkan kotoran hati sebagaimana halnya air dapat memadamkan api. Dalam hal ini Allah berfirman, “Memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengambil zakat dari harta kaum muslim, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103).
Meninggalkan perbuatan yang keji juga dapat membersihkan dan mensucikan hati, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, “Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar) selama-lamanya.” (QS. an-Nur [24]: 21). Yang dimaksud dari ayat di atas adalah tauhid dan iman yang dapat mensucikan hati”.
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Kebaikan itu dapat memancarkan cahaya di dalam hati, dapat memberikan kekuatan bagi tubuh, dan memberikan pancaran cahaya di wajah, memberikan kelapangan rezeki, dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya, perbuatan buruk itu akan mendatangkan kegelapan di dalam hati, kemuraman di wajah, kelemahan badan, kesempitan rezeki, dan kebencian di hati manusia. Pangkal baiknya hati adalah hidup dan tersinarinya hati dengan cahaya ilahi.
Yahya Ibnu Ammar berkata bahwa salah satu macam ilmu adalah ilmu yang menjadi obat bagi agama, yakni, ilmu tentang fatwa yang dapat mengobati hati orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang agama.
Dalam sebuah doa ma’tsur disebutkan, “Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an bersemi dalam hati kami dan cahaya di dada kami.” (HR. Ahmad). Yang dimaksud dengan bersemi adalah hujan yang turun dari langit sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Hati dapat tumbuh/hidup bercahaya karena di dalamnya ada cahaya sehingga ia dapat mendengar, melihat, dan menalar. Hati yang mati tidak dapat mendengar dan melihat dengan baik.
Orang yang hatinya hidup dan bercahaya, niscaya di dalam hatinya ada rasa malu yang mencegahnya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang jelek. Oleh karena itu, Nabi pernah bersabda, “Malu itu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Orang yang hatinya mati, niscaya ia tidak akan punya rasa malu. Yang dimaksud dengan tidak punya rasa malu adalah hati yang keras, lawan dari lembut. Jika hati itu keras dan tidak punya rasa malu, maka akan membuat wajah keras dan kasar karena di dalam hatinya tidak ada kehidupan yang membuat dirinya merasa malu.
Fungsi Hati
Selain potensi akal, manusia diberi potensi hati dengan tujuan agar akal dapat melakukan konfirmasi dan diskusi dengan hati. Sebab, kebenaran hakiki hanya dapat dicapai dengan hati. Jadi, fungsi hati lebih efektif dan aktif daripada akal dalam menemukan kebenaran hakiki. Dalam bahasa al-Qur’an, hati disebut “qalb”. Qalb adalah salah satu potensi yang dibawa oleh roh. Hati secara psikologis bersifat halus, abstrak dan bersinar, penuh dengan al-zawq, ia bersifat al-dhamir dan al-sir. Apabila hatinya mengalami sakit, dadanya pun terasa perih, muncul kegelisahan. Apabila hati seseorang sakit karena spiritual, berarti di dalamnya terdapat penyakit ruhani, seperti syirik, kufur, riya, ‘ujub, nifaq, fasik, dengki, iri hati, sombong, cemburu yang berlebihan, rasa tidak senang kepada orang lain, hasad dan sebagainya. Apabila sakit batin ini dimiliki manusia, muncullah penyakit lain yang memantul pada jasadnya.
Khalifahur Rasyidun ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib a.s. mengungkapkan bahwa seseorang yang tidak pandai memfungsikan qalb-nya, maka seorang itu dianggap mati, sehingga para sahabat yang bersamanya bertanya, “Siapakah orang-orang yang mati itu Ya Amir al-Mukminin?, ‘Ali menjawab, yaitu setiap hamba yang hidup bergelimang dalam kemewahan. Ketahuilah …! Sesungguhnya di antara bencana ada kefakiran, yang lebih berat dari kefakiran adalah penyakit badan, dan yang paling berat dari penyakit badan adalah penyakit hati. Ketahuilah …! Sesungguhnya di antara kenikmatan adalah banyak harta, yang lebih utama daripada banyak harta adalah kesehatan badan, dan yang lebih utama dari kesehatan badan adalah ketakwaan hati. Tanyailah hati tentang semua persoalan, sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap”.
Lebih lanjut Amir al-Mukminin mengatakan bahwa, “Sebaik-baik hati adalah hati yang ingat. Sinarkanlah hatimu dengan adab (akhlak) sebagaimana Anda menyalakan api dengan kayu bakar. Harta simpanan yang paling bermanfaat adalah cinta hati. Sesungguhnya hati memiliki keinginan, kepedulian dan keengganan, maka datangilah ia dari arah kesenangan dan kepeduliannya. Sebab, jika hati itu dipaksakan, ia akan buta. Sesungguhnya hati itu mengalami kejemuan, sebagaimana jemunya badan, maka berikanlah padanya anekdot-anekdot hikmah. Jika kamu ragu dalam hal kecintaan seseorang, maka tanyailah hatimu tentangnya.” Orang yang dianggap mati itu, adalah orang-orang yang hatinya hanyut dalam kehidupan kemewahan. Penyakit hati itu, lebih perih dari penyakit badan. Dalam setiap persoalan, sebaiknya selalu bertanya dan konfirmasi dengan hati nurani. Sebab, hati nurani itu tidak akan pernah memberikan kebohongan dan kepalsuan, ia anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia.”
Oleh karena itu, apabila kita telah mengetahui kesemuanya itu dan mengenalnya dengan baik, maka sebaiknya kita pun mengetahui, bahwa semua sifat tercela yang membalut hati, pada dasarnya adalah penyakit-penyakit berbahaya yang bisa menarik seseorang kepada kebinasaan di dunia dan akhirat. Kita tidak boleh mengabaikan upaya untuk mengobati hati kita yang sakit, agar segera sehat dan selamat dari penyakit-penyakitnya. Sebab, di akhirat kelak tidak akan selamat, melainkan orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih dan suci. Wallahu alam bish-shawab.
-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.







Komentar