JAKARTA-Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan kegiatan “Bincang Bersama Menteri Kebudayaan: Satu Tahun Kementerian Kebudayaan” bersama puluhan awak media di Restoran Danau Sentani, Senayan Park, Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengulas perjalanan dan capaian satu tahun pertama Kementerian Kebudayaan sejak resmi dibentuk pada 21 Oktober 2024.
Pertemuan ini menjadi ruang untuk menyampaikan capaian, arah kebijakan, serta langkah strategis yang telah dan akan dilakukan Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat ekosistem kebudayaan nasional. Dalam kesempatan ini, turut diulas berbagai inisiatif kebudayaan yang telah dijalankan selama satu tahun terakhir, mulai dari pelestarian warisan budaya, penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya, hingga perluasan kerja sama kebudayaan di tingkat nasional maupun internasional.
Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa pembentukan lembaga ini merupakan tonggak penting dalam sejarah pembangunan kebudayaan Indonesia, setelah selama hampir delapan dekade urusan kebudayaan melekat pada kementerian lain. Kini, dengan berdirinya Kementerian Kebudayaan, arah pembangunan kebudayaan menjadi lebih fokus, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Berbagai program unggulan juga telah diluncurkan untuk mendorong peran aktif masyarakat dalam pemajuan kebudayaan, antara lain melalui pemberdayaan pelaku budaya di daerah, fasilitasi pendidikan kebudayaan, hingga penguatan diplomasi budaya Indonesia di kancah dunia.
Membuka dialog bersama awak media, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan pentingnya langkah cepat dan kerja keras dalam mempercepat kemajuan kebudayaan nasional. Menbud menjelaskan bahwa di bidang pelindungan kebudayaan dan tradisi, Kementerian Kebudayaan memprioritaskan percepatan kerja direktorat terkait warisan budaya, sejarah dan museum, serta hak kekayaan intelektual dan pranata kebudayaan.
“Pencatatan terhadap warisan budaya saat ini baru ada 228, kita harap ke depannya, cagar budaya kita bertambah 60, dan juga ada yang kita verifikasi ulang dari tahun-tahun lalu. Saya minta penambahannya mencapai 300,” jelasnya.
Masih Banyak PR
“PR kita masih banyak, tapi kita tetap akseleratif,” tambahnya.
Menteri Fadli juga menyoroti pentingnya peningkatan jumlah museum di Indonesia. “Museum-museum di Indonesia baru tercatat 481, dan kita akan perbanyak lagi pencatatannya. Dalam satu tahun ini, saya meresmikan kira-kira 15 museum baru, dan kita harap ke depan semakin banyak museum yang tumbuh dan terus kita dorong,” ujarnya.
Selain itu, Kementerian Kebudayaan juga mendorong RUU Permuseuman agar segera dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat.
Di sisi lain, kerja sama internasional juga diperkuat melalui repatriasi benda budaya dan perjanjian kebudayaan dengan berbagai negara. “Kita juga melakukan repatriasi. Terdekat, kita berhasil memulangkan artefak Eugène Dubois berupa kurang lebih 30.000 potongan artefak,” paparnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, Kementerian Kebudayaan mengedepankan semangat gotong royong dengan melibatkan komunitas, sektor swasta, dan masyarakat. “Program kami meskipun dalam keterbatasan, kita membangun semangat gotong royong yang melibatkan komunitas maupun skema public-private partnership. Saya juga mendorong dewan penyantun, terutama dalam hal museum dan cagar budaya. Kita perlu partisipasi publik karena jika hanya mengandalkan APBN, tentu saja tidak cukup,” tuturnya.
Menanggapi pertanyaan terkait progres penulisan sejarah yang diajukan oleh awak media, Menteri Fadli menuturkan bahwa penulisan tersebut telah memasuki tahap editing jilid dan akhir yang kemudian akan dilakukan uji publik dalam beberapa waktu ke depan.
“Penulisan sejarah masih dalam tahap edit oleh para editor jilid dan editor umum. Kemudian, setelah itu akan kita lakukan 1-2 kali uji publik sehingga kita berharap akan dapat diluncurkan pada 14 desember mendatang, bertepatan dengan Hari Sejarah Nasional,” ucapnya.
Perkuat Ekosistem Musik Tanah Air
Wakil Menteri Kebudayaan yang turut hadir mendampingi Menteri Fadli menjawab pertanyaan terkait tindak lanjut Konferensi Musik Indonesia (KMI) yang akan membentuk Tim Kerja Bersama Pemajuan Ekosistem Musik Indonesia. Tim tersebut diharapkan bisa menjadi dinamisator kebijakan dalam memperkuat ekosistem musik Tanah Air. “Usai KMI, kita langsung membentuk tim kerja yang berasal dari teman-teman ekosistem musik Indonesia. Mereka berasal dari berbagai latar belakang bidang, mulai dari pendidikan, sarana dan fasilitas, hingga musik tradisi.
Inti dari semuanya, kita berharap akan menghasilkan suatu data untuk mengukur berapa nilai ekonomi dari ekosistem musik kita,” ujar Wamen Giring.
Terkait pertanyaan lainnya mengenai narasi artefak Eugène Dubois, Menteri Kebudayaan mengungkapkan bahwa kedatangan artefak tersebut akan menjadi perhatian khusus Kementerian Kebudayaan, khususnya berkaitan dengan narasi bahwa awal mula manusia purba berasal dari nusantara. “Eugène Dubois menyebut dirinya sebagai The Man Who Found the Missing Link, sesuai dengan buku pertamanya. Ini menjadi narasi dasar mengenai early civilization yang harusnya berpusat di Indonesia. Sehingga narasi besar dari semua itu adalah Indonesia merupakan peradaban tertua di dunia,” tutur Menbud.
Bincang Bersama Menteri Kebudayaan turut dihadiri oleh jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan, di antaranya Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha; Sekretaris Jenderal, Bambang Wibawarta; Inspektur Jenderal, Fryda Lucyana; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, jajaran Staf Khusus Menteri; Staf Ahli Menteri Kebudayaan; serta pejabat Eselon I dan Eselon II Kementerian Kebudayaan.
Kekayaan Budaya Indonesia Luar Biasa
Sebagai penutup, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia luar biasa dan membutuhkan kerja sama semua pihak untuk dijaga dan dikembangkan. “Kebudayaan kita ini kaya sekali, kekayaan budaya yang luar biasa atau mega-diversity. Ada 2.213 lebih warisan budaya takbenda, ditambah 500 yang akan diumumkan. Enam belas sudah jadi warisan dunia UNESCO, dan tiga lagi akan kita usulkan, yaitu Tempe, Makyong, dan Jaranan,” ujarnya.
Menbud Fadli menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak. “Semua butuh kerja sama semua pihak sehingga keberadaan kebudayaan kita ini bisa benar-benar dirasakan,” tutup Menteri Fadli Zon.
Melalui momen satu tahun perjalanan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat fondasi ekosistem kebudayaan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Ke depan, kementerian akan terus menggerakkan kolaborasi lintas sektor, memperluas partisipasi publik, serta memastikan bahwa kebudayaan menjadi sumber nilai, identitas, dan daya saing bangsa di tengah dinamika global. (fs)







Komentar