MINGGU MALAM, 2 Mei 2021 ini, telah memasuki hari 21 Ramadhan 1442 Hijriyah, sepuluh hari terakhir Ramadhan. Umat Islam di belahan dunia berlomba-lomba mengambil kesempatan terbaik ini untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa, antara lain dengan menambah frekuensi ibadah melaksanakan ibadah iktikaf di masjid. Tujuannya atas dasar niat yang suci untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ibadah iktikaf hanya boleh dilaksanakan di masjid. Tidak bisa di rumah atau di tempat lain. Maka masjid lah tempat satu-satunya untuk ibadah iktikaf. Oleh karena itu, iktikaf dapat dilaksanakan oleh kalangan orang dewasa dan remaja. Sementara anak di bawah lima tahun, tidak dianjurkan karena khawatir menimbulkan gangguan suasana iktikaf.
Kenapa iktikaf di 10 bulan terakhir Ramadhan? Banyak pendapat (dalil) yang diperoleh untuk menyatakan waktu pelaksnaan pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Pada 10 hari terakhir, khususnya pada malam ganjil, sebagian ulama berpendapat akan turun Lailatul Qadr. Dengan demikian, anjuran iktikaf juga merupakan bagian dari rangkaian menggapai Lailatul Qadr. Sementara keutamaan ibadah yang dilakukan lebih baik dari seribu bulan.
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya. Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan (1). Dan Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2). Malam Kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3). Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan (4). Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5)” (QS Al Qadr 1-5)
Iktikaf secara terminologi, menyebutkan berdiam di masjid disertai dengan niat. Untuk memaksimalkan ibadah iktikaf ini haruslah melakukan berbagai kegiatan ibadah di masjid, seperti salat malam, mengaji, zikir dan sebagainya. Tidak melakukan perbuatan sia-sia, misalnya hanya menumpang tidur di masjid, ngobrol tidak tahu ujung dan pangkalnya.
Hukum ibadah iktikaf ini sunnah, bukan wajib. Meski pun sunnah kalau dikerjakan pada bulan Ramadhan, maka pahala nya setara dengan wajib, malah dapat melebihi darinya. Apalagi mendapatkan Lailatul Qadr pada 10 malam terakhir Ramadhan, sungguh luar biasa. Inilah yang menjadi pemicu kenapa umat Islam dunia berlomba-lomba untuk meraih Lailatul Qadr. Sebagai upaya memperoleh Lailatul Qadr maka upaya (usaha) melalui iktikaf ini merupakan satu di antara jawaban.
Rasulullah SAW bersabda: “Dari Abdullah Bin Umar RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW beriktikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).
Pada hadist lain, Dari `Aisyah RA, ia berkata bahwasanya Nabi SAW biasa beriktikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beriktikaf setelah beliau wafat.” (HR Muttafaqun `Alaihi/HR Bukhari dan Muslim).
Kemudian keutamaan berikutnya, orang yang beriktikaf akan terjaga dari perbuatan maksiat. Setidaknya tidak melakukan perbutan yang sia-sia. Selain itu, orang beriktikaf akan mendidik dirinya untuk lebih taat dan patuh (tawadhu`) kepada Allah. Sebagai hamba Allah akan berusaha menempatkan dirinya pada tempat yang serendah-rendahnya untuk mengabdi kepada Sang Khaliq.
Keutamaan lainnya bahwa dengan iktikaf akan membentuk kepribadian seorang hamba untuk banyak bersyukur dan akan terbiasa sabar dalam mengharungi kehidupan dan penghidupan ini. Sungguh banyak lagi yang membawa keutamaan ibadah iktikaf ini.
Agar ibadah tidak sia-sia, maka sebaiknya pelaku iktikaf membenahi niat yakni semata-mata karena Allah. Kemudian menjaga tubuh dari hadast besar dan kecil. Perbanyak membaca Al Qur`an, salat sunnah, zikir dan seterusnya. Sementara iktikaf ini tidak hanya bisa dilakukan pada malam hari, namun juga dapat pada siang hari.
Sehubungan masih suasana dan kondisi pandemi Covid, sebaiknya pengurus masjid dapat mengatur pelaksanaan iktikaf. Pengurus masjid boleh membuat aturan atau pembatasan jumlah peserta agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Sebab pemberlakuan prokes juga sebagai ikhtiar (usaha)umat Islam untuk mencegah penyebaran penyakit.
Melalui bulan suci Ramadhan pada tahun ini, Insya Allah dapat mensucikan diri umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia terhindar dari ancaman penyakit. Allahu a`lam bish showab. [syamsir bastian munthe]






Komentar