BOGOR – Larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai masih menjadi tantangan besar bagi upaya pengurangan sampah di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Apalagi jika hal ini diterapkan di pasar tradisional banyak sekali kendalanya.
Pemkot Bogor telah membuat Perda (peraturan daerah), namun baru terlaksana di minimarket. Kampanye ramah lingkungan terus digencarkan namun faktanya sebagian besar masyarakat nekat menggunakan kantong plastik ketimbang membawa tas belanja atau goodie bag sendiri dari rumah.
Kendala penerapan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 61 Tahun 2018 terkait aturan pembatasan kantong plastik, makin rumit ketika bicara tentang pasar tradisional. “Kebijakan belum diterapkan secara menyeluruh di Kota Bogor. Kami di pasar tradisional masih pakai kantong plastik,” kata Abah Rahmat, pedagang ikan tongkol asap di Pasar Jambu Dua, Rabu (19/112025).
Cecep, pedagang ayam menambahkan, kondisi di lapangan masih menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang dan pelanggan tetap mengandalkan plastik sebagai wadah belanja utama.
Atas kondisi ini, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, penerapan aturan pembatasan plastik di pasar tradisional memang butuh persiapan matang.
Selain menyesuaikan teknis pelaksanaan, Pemkot juga mempertimbangkan revisi Perwali agar lebih realistis dan dapat diterapkan tanpa mengganggu aktivitas ekonomi para pedagang.
“Penerapan di pasar memang masih perlu dipertimbangkan sekaligus revisi Perwali bila semua perangkat sudah siap,” kata Dedie. Perilaku membawa tas belanjaan sendiri, belum menjadi kebiasaan dan kesadaran masyarakat. Walau budaya tentang bahaya sampah plastik mulai meningkat, perilaku membawa tas belanja sendiri belum menjadi kebiasaan umum.
“Ini faktor dan kendala yang kita hadapi. Kami terus berusaha mencari solusi terbaik. Pemerintah Kota Bogor terus mencari langkah inovatif untuk menangani persoalan sampah. Salah satunya, kami sedang persiapkan program pengolahan sampah menjadi energi listrik,” katanya.
Dedie mendorong warga agar membawa goodie bag atau tas belanja sendiri, saat berbelanja. Hal ini selain membantu mengurangi sampah plastik, juga berkontribusi pada gerakan lingkungan yang lebih luas. “Tantangannya masih besar, tetapi perubahan bisa dimulai dari langkah paling sederhana meninggalkan kantong plastik dan beralih ke tas pakai ulang,” kata Dedie. (yopy/jo)







Komentar