MATARAM-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menekankan peran pendidikan tinggi dan sains sebagai fondasi menuju negara maju berbasis inovasi dan sumber daya manusia yang unggul. Pesan ini merupakan benang penghubung dalam seluruh rangkaian kunjungan Menteri Brian di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (8/11).
“Negara kita memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi negara maju. Kuncinya ada pada Sumber Daya Manusia (SDM, red) unggul dan kemampuan kampus melahirkan terobosan berbasis sains dan teknologi,” ujar Menteri Brian.
Dalam paparannya Menteri Brian menjelaskan, untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, Indonesia perlu meningkatkan pendapatan per kapita hingga 15.000 USD per tahun, atau setara dengan sekitar Rp18 juta per bulan. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia masih di kisaran 5.400 USD per tahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia perlu membangkitkan industri yang tidak lagi ekstraktif, tetapi dengan hilirisasi riset, dan inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat.
Visi Diktisaintek Berdampak menjadi arah kebijakan Kemdiktisaintek dalam memperkuat relevansi, dan kontribusi pendidikan tinggi terhadap masyarakat. Kebijakan ini menekankan pentingnya transformasi kampus dari sekadar tempat belajar menjadi pusat solusi sosial dan ekonomi. Pendekatan ini juga membuka ruang kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah daerah, dan komunitas lokal agar hasil riset dapat langsung dirasakan manfaatnya.
Kampus Tempat Tumbuh Solusi
Menteri Brian juga menyoroti tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim dan krisis pangan hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, dunia membutuhkan manusia yang berpikir lintas disiplin.
“Kita perlu generasi yang mampu menghubungkan sains dengan kemanusiaan, teknologi dengan etika, serta kebijakan dengan realitas masyarakat,” jelas Menteri Brian.
Hal ini juga dapat diwujudkan dengan mengembangkan creative class di kalangan masyarakat Indonesia. Para ilmuwan, dosen, guru, hingga seniman menjadi SDM unggul yang kreatif dan inovatif, sebuah kunci perekonomian yang baru.
“Nilai ekonomi terbesar hari ini adalah kemampuan manusia menciptakan ide dan solusi. Untuk menjadi negara maju, setidaknya 20 persen penduduk kita harus masuk ke dalam creative class. Saat ini baru sekitar 8%. Kampus adalah garda terdepan untuk meningkatkan angka tersebut,” kata Menteri Brian.
Mendiktisaintek lalu menilai NTB sebagai wilayah strategis dalam peta delapan bidang industri prioritas nasional, meliputi pangan, energi, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, digitalisasi (AI dan semikonduktor), material dan manufaktur maju, pertahanan, serta maritim. Menurut Menteri Brian, kekuatan lokal dan budaya NTB dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Rangkaian kunjungan Menteri Brian di Lombok meliputi tiga titik, yakni pertemuan dengan pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Pulau Lombok, kuliah umum bersama sivitas akademika Unram, dan orasi ilmiah dalam Wisuda ke-VI UNU NTB. Dalam setiap kegiatan, ia menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas sektor dan memperluas ruang belajar mahasiswa agar lebih dekat dengan kehidupan nyata.
“Kampus dapat menjadi tempat tumbuhnya solusi dan harapan, karena di sanalah ilmu pengetahuan menemukan maknanya,” pungkas Menteri Brian. (*/mk)







Komentar