JAKARTA-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggandeng 30 kampus dan industri asal China. Langkah ini sebagai upaya mempercepat hilirisasi dan industrialisasi di Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di sela-sela kegiatan “2025 China-Indonesia Education-Industry Collaboration Summit” di Jakarta, mengatakan, dalam upaya hilirisasi diperlukan banyak tenaga ahli di berbagai bidang. Hanya, saat ini belum banyak dimiliki oleh Indonesia.
“Itulah mengapa penting sekali untuk bisa meningkatkan (kualitas) yang bekerja sebagai tenaga ahli di perusahaan-perusahaan besar dari asing. Misalnya dari China ini adalah orang-orang kita sendiri, lulusan kita sendiri. Kita harus membuatnya dari sekarang, dari universitasnya, dari politekniknya,” katanya, Sabtu 18 Oktober 2025.
Selain itu, Wamendiktisaintek Stella menyebut sebuah industri tidak akan menjadi industri yang berhasil bila industri tersebut tak mampu berinovasi.
“Karena, kalau industrinya tidak ikut inovasi, itu tentu saja lama-lama akan mati secara perekonomian, secara bisnis,” ucap Stella Christie.
Lebih jauh Wamendiktisaintek Stella mengungkapkan, di negara yang maju, banyak inovasi yang hadir dari kampus. Bahkan jumlahnya lebih banyak dibandingkan inovasi yang berasal dari perusahaan.
Karena itu, dalam kegiatan ini Kemendiktisaintek mengajak keduanya, baik dari universitas maupun industri asal China, untuk dapat berkolaborasi dalam rangka mewujudkan akselerasi hilirisasi dan industrialisasi di Indonesia.
“Inilah juga yang kita ingin dorong. Jadi matching ini dalam dua hal. Dalam tenaga kerja dan juga dalam me-matching-kan inovasi. Sehingga, para peneliti-peneliti kita yang hebat di Indonesia ini bisa menghilirisasikan dan men-scale up hasil dari penelitian mereka,” paparnya.
Stella juga menjelaskan, China dipilih dalam hal ini karena banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Menurut dia, hal ini dipengaruhi oleh pendidikan yang berkualitas. Serta, diimbangi dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan biaya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan negara di Eropa atau Amerika.
“Dan kesempatan untuk berkarya setelahnya juga menarik sekali. Bukan melulu di China sebenarnya, tapi justru di Indonesia. Karena banyak perusahaan dari sana yang investasi di Indonesia,” tutur Wamendiktisaintek Stella Christie. (fs)







Komentar