oleh

Sido Muncul Berkomitmen Jaga Keamanan Produk Tolak Angin melalui Riset Ilmiah

JAKARTA – PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) berkomitmen menjaga mutu dan keamanan produk Tolak Angin melalui riset ilmiah. Riset tersebut menggandeng peneliti dari dua institusi akademik yakni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang.

Hal tersebut mengemuka pada diskusi yang dilakukan bersama media secara hybrid di Jakarta pada Rabu (20/01/2026). Hadir secara luring bintang iklan Tolak Angin, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, Brand Ambassador Andy F. Noya dan Komisaris Independen  DR. Dr. Muhammad Adib Khumaidi., Sp.OT. Sedang secara daring, hadir Dr. apt. Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc, Peneliti Tolak Angin dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, apt. Phebe Hendra, Ph.D, peneliti Tolak Angin dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si, peneliti Tolak Angin dari Fakuktas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

Direktur Sido Muncul Dr. (HC) Irwan Hidayat menegaskan dua riset Tolak Angin dilakukan pada tahun 1992 ketika Tolak Angin akan dihadirkan dalam bentuk kemasan cair. Riset meliputi uji toksisitas, uji mutu bahan baku herbal, hingga uji praklinis guna memastikan keamanan dan khasiat Tolak Angin.

“Uji toksisitas dilakukan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma dan ujii khasiat dilakukan oleh tim riset Fakultas Kedokteran UNDIP,” kata irwan.

Riset tersebut menjadi bagian dari inovasi Tolak Angin dalam bentuk cair siap minum dalam kemasan sachet. Inovasi ini membuat produk lebih praktis, higienis, dan mudah dibawa, sekaligus menjawab kebutuhan konsumen modern.

Irwan Hidayat menegaskan riset ilmiah bagi Sido Muncul menjadi fondasi utama dalam pengembangan produk perusahaan. “Kami tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional, tetapi juga memastikan setiap produk harus terjaga kualitasnya, termasuk Tolak Angin yang didukung oleh penelitian ilmiah. Ini merupakan bentuk tanggung jawab kami kepada konsumen agar produk yang diminum benar-benar aman, berkualitas, dan bermanfaat,” ujar Irwan.

Uji toksisitas terhadap Tolak Angin dilakukan 23 tahun lalu, saat produk masih berbentuk serbuk yang harus direbus. Seiring perkembangan zaman dan perubahan bentuk produk menjadi cair siap minum, Sido Muncul kembali melakukan uji praklinik sebagai bentuk pembaruan ilmiah.

“Uji toksisitas Tolak Angin merupakan dorongan kami di awal tahun untuk melakukan riset ini bersama Universitas Sanata Dharma dan Universitas Diponegoro. Kedua lembaga ini independen, sehingga hasilnya objektif dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Hasil Uji Toksisistas

Uji toksisitas subkronis merupakan salah satu uji untuk menentukan keamanan dari suatu produk. Secara umum uji toksisitas subkronis dilakukan untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang pada hewan uji selama sebagian umur hewan.

Dalam uji toksisitas produk Tolak Angin, tim peneliti, kata Dr. apt. Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma menggunakan hewan uji berupa tikus jantan dan betina, galur Sprague Dawley, umur 2 bulan, berat badan 150- 200 gram. Hewan uji dibagi 5 kelompok secara acak lengkap masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus jantan dan 5 ekor tikus betina.

Kelompok 1 sebagai kontrol dan 4 kelompok diberikan Tolak Angin Cair dengan 4 peringkat dosis 0,45; 1,35; 4,05; 12,15 ml/kgBB.

Uji praklinik dilakukan untuk mengetahui gejala klinik dan uji darah rutin diamati untuk mengetahui spektrum efek toksik yang timbul secara fisiologis, mengetahui spektrum efek toksik secara biokimiawi, histologi organ diamati untuk mengetahui spektrum efek toksik secara structural dan uji reversibilitas dilakukan untuk mengetahui keterbalikan efek toksik yang terjadi secara fisiologi, biokimia dan structural.

“Hasil penelitian tidak ditemukan adanya kematian dan perubahan gejala klinis selama 90 hari perlakuan Tolak Angin Cair pada tikus jantan maupun betina. Perlakuan Tolak Angin Cair selama 90 hari tidak mempengaruhi berat badan dan system hematologi, tidak ditemukan perubahan structural pada organ paru, lien, jantung, usus, lambung, uterus/testis dari hewan uji,” ujarnya.

Secara umum, fungsi ginjal dan hepar masih dalam batas normal pada dosis yang telah dianjurkan. Kesimpulannya, Tolak Angin cair aman dikonsumsi sesuai aturan yang telah ditentukan.

Hal senada disampaikan apt. Phebe Hendra, Ph.D dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Ia menjelaskan uji dilakukan pada tikus jantan dan betina selama 90 hari, yang setara dengan 101 bulan pada manusia.

“Uji toksisitas pada hewan diharapkan dapat menggambarkan keamanan penggunaan pada manusia. Pada dosis tertinggi, setara konsumsi sembilan sachet sekaligus selama periode panjang, tidak ditemukan kematian maupun perubahan signifikan pada hewan uji,” ungkap Phebe.

Hasil Uji Khasiat

Dari sisi khasiat, Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si dari Fakultas Kedokteran Undip menyampaikan Tolak Angin terbukti berperan dalam menjaga daya tahan tubuh melalui peningkatan respons imun.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Tolak Angin cair terhadap jumlah limfosit Tdan produksi IFN-g serta IL-4 yang diketahui mempunyai peran sentral pada aktivitas imunitas seluler dan humoral.

Subyek penelitian terdiri dari 109 pria dan wanita sehat, usia 15 s/d 45 tahun. Secara acak subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, di mana kelompok 1 sejumlah 99 responden mendapatkan TAC dengan dosis 2 X 1 sachet per hari. Kelompok 2 sejumlah 10 responden mendapatkan placebo.

Pada hari ke- 0 dan hari ke -6 dilakukan pemeriksaan prosentase limfosit T perifer dengan metode roset (E-rosette). Dari 99 responden, 20 diantaranya diperiksa kapasitas produksi IFN-g dan IL-4 sel mononuklear darah tepi melalui stimulasi dengan PHA. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan jumlah sel T perifer secara bermakna pada pemakaian Tolak Angin cair pada hari ke 0 dibandingkan hari ke 6 ( Mean ± SD : 62, 98 ± 12,5 vs 73,49 ± 10,8 ; p 0.001). Peningkatan rasio IFN-g/IL-4 juga ditemukan pada kelompok perlakuan.

“Kesimpulannya, Tolak Angin cair dapat meningkatkan jumlah limfosit T perifer dan produksi sitokin tipe 1 pada pemakaian selama 7 hari dan tidak mempengaruhi fungsi hepar dan ginjal. Tolak Angin cair dapat menjaga daya tahan tubuh,” katanya.

Selain pemaparan ilmiah, acara ini juga menghadirkan testimoni dari figur publik yang menjadi bintang iklan Tolak Angin.

Prof. Rhenald Kasali menilai Sido Muncul telah berhasil memodernisasi jamu ke arah industri farmasi. “Uji laboratorium membuat masyarakat lebih percaya karena semuanya diuji secara ilmiah. Ini produk Indonesia yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Sementara itu, Andy F. Noya menekankan pentingnya pendekatan berbasis data. “Uji coba ini berangkat dari keinginan agar produk tidak hanya berdasarkan kata-kata, tetapi berbasis data dan kajian ilmiah. Karena itu, Tolak Angin melibatkan para pakar untuk membuktikan hasil uji toksisitas dan khasiatnya,” kata Andy.

“Uji laboratorium membuat masyarakat lebih percaya karena semuanya diuji secara ilmiah. Ini produk Indonesia yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Dukungan Kemandirian Obat Nasional Menguat

Dalam kesempatan tersebut, Irwan juga menilai dukungan pemerintah terhadap kemandirian obat nasional semakin kuat pada 2026. Hal ini sejalan dengan visi Sido Muncul untuk menghadirkan produk herbal berbasis ilmiah yang mampu bersaing di industri farmasi.

“Menghadapi 2026, kami ingin mengingatkan Sido Muncul adalah perusahaan yang siap dengan produk berbasis ilmiah. Ketahanan dan kemandirian pengobatan nasional harus didukung oleh riset yang kuat,” katanya.

Saat ini, Tolak Angin hadir dalam berbagai varian, mulai dari Tolak Angin Cair, Serbuk, Tablet, Flu, Anak, Kapsul, hingga Batuk, yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *