oleh

Kita Wajib Mengagungkan dan Menghormati Nabi Muhammad SAW

ALLAH Subhana wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzâb ayat 21, : “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Rasulullah Saw. bersabda, : “Aku kesayangan Allah (dan tidak congkak). Aku membawa panji “PUJIAN” pada hari Kiamat, di bawahnya Adam dan yang sesudahnya (dan tidak congkak). Aku yang pertama pemberi syafa’at dan yang diterima syafa’atnya pada hari Kiamat (dan tidak congkak). Aku yang pertama menggerakan pintu surga dan Allah membukanya untukku dan aku dimasukkan-Nya bersama-sama orang-orang beriman yang fakir (dan tidak congkak). Dan Aku lah yang paling mulia dari kalangan terdahulu dan terbelakang di sisi Allah (dan tidak congkak).” (HR. Turmudzi).

Rasulullah Saw. adalah manusia pilihan Allah, manusia paripurna. Rasulullah Saw. dijuluki “Al-Amin” yang artinya penuh amanah, jujur dan dapat di percaya. Juga beliau memiliki sifat-sifat kerasulan yang tidak dimiliki Nabi-Nabi yang lain, seperti sidiq, artinya jujur, berkata benar; amanah artinya dapat dipercaya; tabligh artinya menyampaikan; dan fathonah artinya cerdas dan pandai. Juga Rasulullah Saw. ma’shum artinya terhindar dari pberbuatan kemaksiatan, terpelihara dari dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar.

Tentang rupa dan keindahannya, harmonisnya segala akhlak yang agung dan adab susila yang bersumberkan ajaran agama, ilmu pengetahuan, kasih sayang, kesabaran, bersyukur, keadilan, zuhud, rendah hati, pema’af, hidup bersih, pemurah, berani, pemalu, punya harga diri, pendiam, pengasih, hormat, penyayang, baik budi dalam pergaulan dan lain-lainnya yang dapat dihimpun dalam kata: Akhlak yang mulia.

Ketika Aisyah Ra. ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud & Muslim). “Aku diberi (oleh Allah) hikmah-hikmah yang banyak dalam ucapan-ucapan yang sedikit (Maksudnya, ucapan-ucapan beliau singkat tetapi mengandung makna yang luas dan berisi, dalam). (HR. Ahmad).

Tentang rupa dan keindahannya, harmonisnya segala anggota badan satu sama lain. Banyak atsar yang shahih dan mashur yang menerangkan, bahwa Nabi Muhammad Saw. mempunyai warna kulit yang sangat bagus, sangat hitam bola-bola matanya, bermata luas lagi menarik, kemerahan kedua putih matanya, tebal alis matanya, bersinar wajahnya, tipis melengkung panjang kedua bulu matanya, mancung hidungnya, rapi giginya, bundar mukanya, luas keningnya, tipis jenggotnya, rata perutnya, besar dadanya, lebar bidang bahunya, besar tulangnya, kuat kedua otot-otot lengan dan hastanya, luas kedua telapak tangan dan kakinya.

Dari dadanya sampai ke perut nya tumbuh bulu-bulu yang halus; sederhana tingginya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Walaupun demikian, tidak seorangpun yang berjalan seiring dengan beliau, namun Rasulullah kelihatannya lebih tinggi dari orang lain.

Bila ia tersenyum wajahnya bersinar bagaikan cahaya kilat dikala hari akan hujan. Bila ia berkata-kata ia bicara lancar bagaikan ada sinar terang yang keluar memancar dari celah-celah giginya. Orang yang terbagus lehernya, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, mempunyai fisik (badan) yang kuat padat dengan otot.

Berkata Bara’ bin ‘Azib : “Saya tidak pernah melihat orang yang yang bercambang hitam diatas kulit yang agak kemerah-merahan yang lebih bagus dari pada Rasulullah saw.

Berkata Abu Hurairah: “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus dari pada Rasulullah, seolah-olah cahaya matahari memancar dari wajahnya; dan bila ia tertawa dindingpun turut bercahaya. Dan dalam hadits Ibnu Abi Halah dikatakan : “Wajah beliau bersinar laksana bulan purnama raya.”

Berkata Ali bin Abi Thalib pada akhir ucapannya dalam melukiskan Rasulullah Saw. : “Barangsiapa yang melihatnya secara berhadapan, ia akan merasakan kehebatan beliau; dan barangsiapa menggauli beliau dari dekat, ia akan mencintainya.

Karena Rasulullah itu manusia pilihan, maka terjaga dalam kebersihan badannya.

Tentang kebersihan badan beliau, keharuman baunya dan peluhnya, sucinya dari berbagai kotoran dan cacat-cacat tubuh, maka hal itu telah dikhusus oleh Allah Swt. dengan keistimewaan-keistimewaannya yang tidak terdapat pada diri orang lain. Kemudian Allah menambahkan kesempurnaannya lagi dengan kesucian agama atau syari’at yang dibawanya.

Berkata Anas bin Malik : “Saya belum pernah mencium minyak harum maupun kasturi dan tidak pula sesuatu yang lain yang lebih harum dari pada baunya Rasulullah”.

Jabir bin Abdullah mengatakan, bahwa Rasulullah saw. pernah menyapu pipinya, katanya : “Maka saya merasakan tangannya sejuk dan harum seakan-akan tangan itu dikeluarkannya dari tempat simpanan minyak wangi”.

Berkata pula sahabat yang lain : “Tangan Nabi Saw. senantiasa harum, apakah ia menyentuh minyak wangi ataupun tidak, orang yang berjabat tangan dengan beliau akan senantiasa sehari-harian itu akan merasakan bau yang wangi; ia letakkan tangannya diatas kepala anak kecil, maka itu akan dikenal diantara anak-anak dengan keharuman baunya”.

Adalah keistimewaan Nabi Saw, bahwa apabila beliau mendirikan shalat, ia dapat memandang orang yang dibelakangnya seperti halnya beliau memandang orang yang di depannya. Sebagaimana penafsiran para mufasir, dalam surat Asy-Syu’ara, 219, : “dan (melihat) perubahan gerakan badan mu di antara orang-orang yang sujud.”

Aisyah Ra, berkata : “Adalah Nabi Saw. dapat melihat di dalam gelap seperti halnya beliau melihat diwaktu terang.” Abu Hurairah Ra. berkata : “Saya tidak melihat seseorang yang lebih cepat jalannya dari pada Rasulullah, seolah-olah bumi ini berlipat baginya, kami telah mengeluarkan banyak tenaga, tetapi beliau kelihatan berjalan biasa tanpa mengeluarkan tenaga.”

Tentang tertawanya Nabi Saw, bahwa beliau menunjukkan kegirangan hatinya dengan senyum. Bila ia berpaling, maka ia berpaling dengan keseluruhan badannya; bila ia berjalan ia bergerak dengan gerak-tangkas.”

Dengan demikian, jelaslah bahwa Rasulullah Saw. dijaga oleh Allah Swt. melalui Malaikatnya, sebagai manusia yang paling sempurna di muka bumi, baik fisiknya, tingkah lakunya, kebersihan badannya, dan yang lain-lainnya. Semoga kita tetap mengormati, memuliakan dan mengagumi baginda Rasulullah Saw, tidak boleh merendahkan, menghinakan beliau. Semoga kita tetap istiqamah dan terhindar dari kesombongan dan keangkuhan. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Karsidi Diningrat
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Agggota PB Al Washliyah
* Penulis aktif poskota.co

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *