ALLAH subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash, 28:77).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Allah Swt. telah berfirman, “Apabila hamba-Ku telah mencapai umur empat puluh tahun, niscaya Aku hindarkan ia dari tiga macam penyakit, yaitu dari penyakit gila, lepra dan supak. Apabila ia mencapai umur lima puluh tahun, niscaya ia Aku hisab dengan hisab yang ringan. Apabila ia mencapai umur enam puluh tahun niscaya Aku jadikan ia senang untuk kembali kepada-Ku (bertaubat). Apabila ia mencapai umur tujuh puluh tahun ia dicintai oleh para malaikat. Apabila ia mencapai umur delapan puluh tahun, semua amal kebaikannya dicatat dan semua keburukannya dihapuskan. Apabila ia mencapai umur sembilan puluh tahun, para malaikat berkata, ‘Dia adalah kekasih Allah yang ada di bumi-Nya’, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang dan ia dapat memberi syafaat kepada keluarganya.” (HR. Hakim melalui Utsman r.a.).
Panjang umur dalam ketaatan dan beramal saleh adalah hal yang sangat dituntut dan dianjurkan dalam agama. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?” Nabi saw. menjawab, “Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” Dia bertanya lagi, “Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?” Nabi saw. menjawab, “Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya.” (HR. Athabrani & Abu Na’im).
Selagi umur yang panjang itu dihabiskan dalam ketaatan dan kebaktian kepada Allah SWT, maka kebajikan-kebajikan pun akan bertambah dan derajatpun semakin meningkat. Sebaliknya, jika umur yang panjang dihabiskan dalam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah SWT, maka yang demikian itu merupakan bala dan kecelakaan, karena dirinya akan menambah kejahatan dan memperbanyak dosa. Barangsiapa menuntut panjang umur di dunia untuk memperbanyak amal saleh yang bisa mendekatkan diri kepada Allah swt. lalu ia benar dalam tuntutannya yakni, setiap hari mengerjakan amal saleh dan berkecimpung di dalamnya dengan menjauhkan diri dari segala urusan dunia yang bisa menghalanginya dari beramal, maka ia terhitung sebagai orang yang benar.
Sebaliknya, jika kita bermalas-malas dan selalu mengabaikan amal saleh, maka nyatalah bahwa kita terhitung sebagai seorang pendusta yang menuntut sesuatu tanpa ada faedah. Sebab, seseorang yang mencintai sesuatu hal, tentu kita akan memperhatikan benar-benar hal itu. Ia senantiasa khawatir bila hal atau perkara itu terlepas dari tangannya, atau kita akan terhalang dari perkara yang dicintainya itu. Terlebih lagi, karena amal saleh itu tidak bisa dikerjakan melainkan hanya di dunia. Alam akhirat bukanlah tempat untuk beramal saleh. Alam akhirat tempat balasan bukan tempat amalan.
Mohonlah pertolongan Allah dalam mengerjakan amal saleh dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Berusaha dan
bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Mulailah beramal saleh sejak sekarang sebelum terlambat. Gunakanlah kesempatan hidup ini sebelum kematian tiba secara mengejutkan. Sebab, kita senantiasa terbuka bagi malapetaka dan bencana, dan kapan saja kita bisa terperangkap dalam genggaman kematian. Modal yang kita miliki untuk membeli kebahagiaan yang abadi dari Allah SWT. ialah umur kita.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya kebahagiaan yang mencakup semua kebahagiaan adalah umur panjang lagi taat kepada Allah.” (HR. al-Khathib melalui Abdullah dari Bapaknya)
Tiada suatu kebahagiaan pun yang melebihi umur panjang seraya taat kepada Allah Swt. karena semakin panjang umurnya, semakin banyak pula pahala yang akan diperolehnya di hari kemudian.
Hati-hatilah, jangan kita membelanjakan masa, hari, saat dan nafas kita pada sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat dan faedah, karena kelak kita akan bersedih hati dan menyesalinya sesudah mati. Ketika itu, kita baru sadar, bahwa kita telah menyia-nyiakan umur kita ketika hidup di dunia dahulu.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara lainnya, yaitu: hidupmu sebelum matimu; sehatmu sebelum sakitmu; senggangmu sebelum sibukmu; mudamu sebelum tuamu; kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Abbas r.a.).
Makna hadits menganjurkan agar kita menggunakan kesempatan-kesempatan yang baik untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya agar di kala kesempatan itu tidak ada maka kita tidak kecewa karena kepergiannya. Untuk itu disebutkan, ingatlah lima perkara sebelum datang lima perkara lain yang menjadi lawannya. Ingatlah dalam masa hidupmu sebelum matimu, yaitu dengan memperbanyak amal saleh untuk bekal di hari kemudian sesudah mati.
Ingatlah dalam masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Atau dengan kata lain gunakanlah masa sehatmu itu untuk beribadah dengan giat dan rajin mencari penghidupan sebelum datang masa sakitmu. Jika seseorang terkena sakit, maka ia tidak lagi mampu mengerjakan amal-amal sunnah dan tidak mampu lagi berusaha mencari penghidupan. Isilah masa senggangmu dengan banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratmu, sebelum datang masa sibukmu. Gunakanlah masa mudamu untuk rajin bekerja, beribadah, dan menolong orang lain, sebelum datang masa tuamu (pikun). Dan beramallah di masa kayamu dengan banyak bersedekah dan membantu orang-orang yang miskin, sebelum datang masa miskinmu.
Nabi Muhammad Saw telah bersabda, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” (HR. Ibnu Asakir).
Makna hadits ini adalah bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau masih punya banyak waktu untuk mendapatkannya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau tidak punya waktu lagi untuk menangguhkannya. Ungkapan ini dimaksudkan untuk mengingatkan manusia yang sering melalaikan tujuan hidupnya karena kesibukannya dalam mengumpulkan harta duniawi dan bermegah-megahan.
Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw bersabda, “Seandainya engkau mengetahui ajal dan kelanjutannya, niscaya engkau akan membenci cita-cita dan tipuan-tipuannya.” (HR. Baihaqi).
Yang dimaksud dengan cita-cita dalam hadits ini ialah yang menyangkut perkara duniawi karena sesungguhnya kesenangan duniawi itu adalah kesenangan yang memperdayakan. Cita-cita ini berkepanjangan dalam arti kata tiada henti-hentinya hingga melupakan perkara akhirat, karena berusaha untuk memperoleh kebahagiaan yang ada padanya.
Oleh karena itu kita harus memiliki bekal untuk mengejar ke negeri akhirat, sebagaimana Nabi Saw. bersabda, “Malam dan siang adalah dua kendaraan, karena itu naikilah keduanya sebagai sarana untuk menuju ke akhirat.” (HR. Ibnu ‘Addi melalui Ibnu Abbas r.a.).
Makna hadits ini malam dan siang hari diserupakan dengan sesuatu yang kongkret, yaitu kendaraan; dengan pengertian masing-masing dari waktu dan kendaraan itu dapat mengantarkan kepada suatu maksud atau suatu tujuan. Oleh karena itu, gunakanlah malam dan siang hari untuk mencari bekal yang dapat mengantarkan kita ke negeri akhirat, yakni kebahagiaan yang abadi dengan banyak beramal saleh dan beribadah pada keduanya. “Seorang mukmin tidak akan dipatuk dua kali dari satu lubang.” (HR. Bukhari). Artinya orang yang benar-benar beriman tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Wallahu A’lam bish Shawabi.
Drs.H. Karsidi Diningrat M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Anggota PB Al Washliyah Jakarta.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.







Komentar