ALLAH subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Âli-‘Imrân, 3:110).
Juga dalam surat yang sama Allah Swt telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli-‘Imrân, 3: 102). “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isrâ’, 17:70).
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Umatku telah dianugerahi sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seseorang pun dari umat-umat lainnya yaitu, di kala mereka tertimpa musibah hendaknya mereka mengucapkan : Innaa lillahi wainnaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali).” (HR. Ibnu Murdawaih melalui Ibnu Abbas r.a.). “Tidak ada orang yang lebih mulia di sisi Allah dari seorang mukmin.” (HR. Athabrani).
Salah satu di antara keistimewaan umat Nabi Muhammad Saw. ialah kalimat Innaa lillaahi wa Innaa laihi Raaji’uuna. Kalimat ini diberikan kepada mereka untuk diucapkan bila tertimpa musibah. Barangsiapa membaca kalimat tersebut di kala tertimpa musibah, maka ia mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya.
1. Orang mukmin itu suci.
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sesungguhnya jasad, akidah dan jiwa orang mukmin itu tidak najis. Lain halnya dengan orang kafir, jiwa orang kafir itu najis. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” QS. At-Taubah, 9:28).
2. Dilarang mencaci dan memerangi umat Islam. Rasulullah Saw. telah bersabda, “Mencaci orang muslim merupakan perbuatan fasik (durhaka) dan memeranginya merupakan kekufuran.” (HR. Syaikhan melalui Ibnu Mas’ud r.a.).
Mencaci orang muslim termasuk perbuatan fasik, yaitu durhaka. Dan memeranginya merupakan perbuatan kufur, yakni bila orang yang bersangkutan menghalalkan perbuatannya.
3. Dilarang membunuh orang muslim. Dalam hal ini Rasulullah Saw. telah bersabda, “Membunuh orang muslim lebih besar !(dosanya) di sisi Allah dari pada melenyapkan dunia.” (HR. Nasa’i).
Dosa membunuh orang mukmin itu lebih besar di sisi Allah daripada melenyapkan dunia dan seisinya. Makna hadits ini mengandung ancaman yang amat besar bagi pelakunya, dan bahkan perbuatan ini termasuk salah satu dari dosa-dosa besar yang urutannya sesudah mempersekutukan Allah Swt.
4.Tidak boleh menyakiti Orang muslim. Sebagaimana Rasulullah Saw. telah bersabda, “Cegahlah mulut kalian dari (menyakiti) kaum muslimin, apabila seseorang di antara mereka meninggal, maka katakanlah hal yang baik mengenainya.” (HR. Imam Thabrani melalui Sahl ibnu Sa’d).
Dalam hadits ini menyebutkan bahwa menyakiti orang muslim haram hukumnya, baik dengan lisan maupun dengan perbuatan. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa orang muslim itu adalah orang yang mencegah lisan dan tangannya dari menyakiti kaum muslimin. Selanjutnya dikatakan, bila seseorang dari kaum muslimin meninggal dunia, maka sebut-sebutlah kebaikannya.
5. Tidak boleh menyusahkan orang Islam. Rasulullah Saw telah bersabda, “Barang siapa membuat mudarat kepada seorang muslim, niscaya Allah akan berbuat mudarat kepadanya; dan barang siapa menyusahkan seorang muslim, niscaya Allah akan menyusahkannya.” (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits ini siapa orang yang menimpakan bahaya kepada orang muslim akan dibalas oleh Allah dengan bahaya yang serupa, dan orang yang menyulitkannya akan di balas pula dengan menimpakan kesulitan yang serupa terhadapnya.
6. Jangan menakut-nakuti orang Islam. Rasulullah Saw. telah bersabda, “Janganlah kalian menakut-nakuti orang muslim, karena sesungguhnya menakut-nakuti orang muslim itu merupakan perbuatan aniaya yang besar.” (HR. Thabrani). “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti saudaranya yang muslim.” (HR. Abu Dawud).
Barang siapa yang menakut-nakuti orang muslim hingga membuatnya sangat takut, berarti ia telah melakukan suatu perbuatan dosa yang besar.
7. Orang mukmin akan mendapat pengampunan dari Allah Swt.
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. mendekat kepada orang mukmin, lalu Dia menaunginya dan menutupinya dari mata manusia, dan Dia menyebutkan semua dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Untuk itu Dia berfirman kepadanya : “Apakah engkau pernah melakukan dosa ini, apakah engkau pernah mengerjakan itu?” Lalu hamba yang mukmin itu menjawab : “Aku mengakui, wahai Rabbku”. Setelah orang mukmin itu mengakui semua dosa-dosanya, hingga dia merasakan bahwa kebinasaan pasti menimpa dirinya, maka Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku telah menutupi (mengampuni) dosa-dosamu itu sewaktu di dunia, dan pada hari ini (hari kiamat) Aku mengampuninya pula”. Kemudian diberikan kepadanya kitab catatan amal kebaikannya dari sebelah kanannya. Adapun orang kafir dan orang munafik, maka para saksi mengatakan : “Mereka adalah orang-orang yang mendustakan Rabbnya, semoga laknat Allah menimpa orang-orang yang aniaya.” (HR. Ibnu Majah melalui Ibnu Umar r.a.).
Hadits ini mengatakan bahwa beruntunglah orang yang benar-benar beriman karena kelak di hari kiamat ia akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt. berkat kemurahan-Nya dan berkat istighfar serta tobat yang ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Proses pengampunan itu disebutkan dengan rinci oleh hadits ini, bahwa setelah semua dosanya diampuni, lalu tiada yang tertinggal baginya kecuali hanya catatan amal kebaikannya, maka kitab amal kebaikannya itu diberikan kepadanya dari sebelah kanannya.
Sebagaimana dalam firman Allah Swt, “Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqâq, 84: 7-9)
Orang-orang kafir dan orang-orang munafik pada hari itu disebutkan oleh para saksi sebagai orang-orang yang aniaya karena mereka telah menganiaya dirinya sendiri dengan menjerumuskannya ke dalam kekafiran dan kemunafikannya. Seperti dalam firman-Nya, “…Allah tidak menzalimi mereka, justru merekalah yang (selalu) menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. An-Nahl, 16:33).
Semoga kita tetap istiqamah terhadap ke-islam-an dan ke-iman-an kita, agar kita selamat dunia dan akhirat. Wallahu A’lam_bish Shawab.
Karsidi Diningrat
*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
*Anggota PB Al Washliyah Jakarta
*Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat







Komentar