oleh

Tim Dokter RSCM Berhasil Pisahkan Bayi Kembar Siam dengan Kompleksitas Tinggi, Proses Operasi Butuh Waktu 36 Jam!

JAKARTA — Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam dengan tingkat kompleksitas tinggi yang melibatkan sejumlah tim medis lintas spesialisasi. Operasi tersebut menjadi salah satu tindakan pemisahan kembar siam terlama yang pernah dilakukan RSCM, dengan durasi mencapai 36 jam.

Kedua bayi berjenis kelamin laki-laki bernama Arkanza dan Arkana tersebut mengalami kondisi kembar siam yang menyatu pada bagian bawah perut dan tulang panggul. Kompleksitas kasus tidak hanya terletak pada pemisahan jaringan dan organ yang menyatu, tetapi juga pada rekonstruksi bagian tubuh serta upaya memastikan fungsi organ kedua anak tetap berjalan setelah operasi.

Operasi kembar siam yang melibatkan puluhan dokter dari berbagai spesialis dan subspesialis tersebut dipimpin langsung oleh Prof. Dr.dr. RA Setyo Handrastuti, Sp.A, Subsp Neuro (K).

Dr. dr. Riana Pauline Tamba, Sp.B, Subsp. Ped (K) yang terlibat dalam tim bedah anak, menjelaskan bahwa RSCM telah menangani berbagai kasus kembar siam sejak 1987. “Kami sudah menangani sekitar 48–50 kasus bayi kembar siam dengan tingkat kompleksitas yang beragam,” ujarnya.

Dalam kasus ini, proses penanganan dimulai sejak kedua bayi lahir pada 10 Desember 2024. Tim medis melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan radiologi untuk memetakan organ yang terpisah dan bagian tubuh yang menyatu. Pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk menentukan kemungkinan pemisahan, menyusun strategi operasi, serta mempersiapkan kebutuhan rekonstruksi setelah kedua bayi dipisahkan.

Evaluasi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran anak, termasuk kardiologi anak, gastrohepatologi anak, nutrisi dan penyakit metabolik, endokrinologi, neurologi, serta bidang tumbuh kembang anak.

Setelah melalui pemantauan dan evaluasi berkala, tim medis kembali melakukan pembahasan pada Desember 2025. Berdasarkan hasil evaluasi, tim menilai pemisahan dapat dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi kedua bayi dan kesiapan tindakan medis. Keputusan tersebut kemudian dibicarakan bersama orang tua. “Orang tua bayi menyetujui rencana pemisahan setelah mendapatkan penjelasan mengenai kondisi anak dan penanganan yang akan dilakukan,” lanjutnya.

Persiapan operasi mencakup pemantauan kondisi kesehatan, pemeriksaan lanjutan, serta persiapan rekonstruksi jaringan. Tim bedah lastic juga melakukan persiapan menggunakan tissue expander, yaitu alat untuk membantu memperluas jaringan kulit sehingga dapat digunakan dalam proses penutupan area tubuh setelah pemisahan.

Organ Terpisah dan Menyatu Menambah Kompleksitas Operasi

Dr Riana menjelaskan bahwa kasus ini memiliki tingkat kesulitan tinggi karena sejumlah organ dan struktur tubuh kedua bayi berada dalam kondisi terpisah, sementara bagian lainnya menyatu. Organ yang dilaporkan terpisah meliputi jantung, paru-paru, lambung, usus halus, sistem empedu, serta pembuluh darah besar di perut. Masing-masing bayi juga memiliki dua ginjal, dua kandung kemih, dan struktur tulang belakang hingga tulang ekor masing-masing.

Namun, beberapa bagian tubuh lainnya menyatu, termasuk sebagian hati, pembuluh darah vena porta di hati, usus besar, serta bagian panggul. Kedua bayi juga memiliki satu lubang anus yang berfungsi bersama, bagian saluran kemih yang menyatu, serta dinding perut bagian depan yang terhubung.

Kondisi tersebut membuat operasi tidak cukup dilakukan dengan memisahkan jaringan yang menyatu. Tim harus merencanakan penanganan terhadap organ pencernaan, saluran kemih, tulang panggul, jaringan lunak, serta penutupan dinding perut.

Menurut Dr Riana, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim bedah adalah memastikan kedua bayi memiliki struktur tubuh yang memungkinkan fungsi organ berjalan seoptimal mungkin setelah pemisahan. Bagian saluran pencernaan dan saluran kemih memerlukan penanganan khusus, sementara struktur panggul dan jaringan di sekitarnya harus direkonstruksi sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Kompleksitas tersebut menjadikan operasi membutuhkan koordinasi ketat antara berbagai spesialisasi, baik selama pemisahan maupun dalam tahapan rekonstruksi.

Operasi Berlangsung Puluhan Jam

Durasi tindakan operasi pada bayi pertama Arkanza mencapai sekitar 29 jam, sedangkan pada bayi kedua Arkana berlangsung sekitar 23 jam 50 menit. Durasi tersebut merujuk pada tindakan operasi dan belum mencakup seluruh waktu persiapan maupun tahapan pendukung lainnya.

“Ini adalah operasi pemisahan kembar siam terlama yang pernah dilakukan tim dokter RSCM,” terang Dr Riana.

Prosedur melibatkan tim bedah anak, anestesi, bedah plastik, ortopedi anak, serta spesialisasi lain yang diperlukan sesuai kondisi kedua bayi. Setelah pemisahan dilakukan, penanganan berlanjut pada upaya memperbaiki dan merekonstruksi bagian tubuh yang sebelumnya menyatu.

Penanganan saluran pencernaan menjadi salah satu aspek yang membutuhkan perhatian khusus. Struktur saluran cerna kedua bayi tidak sepenuhnya sama, sehingga tim perlu memastikan kebutuhan masing-masing anak dapat ditangani secara tepat.

Tim bedah juga harus membuat stoma, yaitu saluran buatan untuk mengeluarkan kotoran melalui dinding perut, menjadi bagian dari penanganan yang diperlukan pada kasus ini. Selain itu, pemisahan dan rekonstruksi saluran kemih serta struktur tulang panggul membutuhkan koordinasi dengan dokter spesialis urologi, ortopedi anak, dan bedah plastik.

Enam Dokter Anestesi Bergantian Menjaga Kondisi Pasien

Operasi dengan durasi lebih dari satu hari menjadi tantangan tersendiri bagi tim anestesi. Dr. dr. Andi Ade Wijaya Ramlan, Sp. An-TI, Sunsp. An.Ped (K), yang mewakili tim anestesi, menjelaskan bahwa enam dokter anestesi dibagi menjadi dua kelompok untuk mendukung pelaksanaan tindakan. Tim anestesi bertanggung jawab menjaga kondisi kedua bayi tetap stabil selama operasi, termasuk memantau pernapasan, sirkulasi darah, kehilangan cairan, produksi urine, serta perubahan kondisi fisiologis selama prosedur berlangsung.

Perubahan posisi tubuh pasien menjadi salah satu tantangan penting. “Kondisi kembar siam dan banyaknya peralatan medis yang terpasang membuat pemindahan posisi harus dilakukan dengan perencanaan yang cermat,” jelasnya.

Lamanya operasi juga menuntut pemantauan berkelanjutan terhadap berbagai parameter klinis. Kehilangan darah dan cairan selama pembedahan harus ditangani secara hati-hati agar kondisi pasien tetap terjaga.

Tim anestesi memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan pasien selama seluruh tahapan operasi, meskipun tugasnya tidak selalu terlihat seperti tindakan pembedahan yang dilakukan tim bedah.

Dr. dr. Aryadi Kurniawan Sp.OT, Subsp. A (K) mewakili tim ortopedi anak menjelaskan bahwa penanganan kasus ini membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melampaui kolaborasi antardokter dalam satu bidang.

Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah penanganan tulang panggul dan penutupan dinding perut setelah pemisahan. Tim ortopedi melakukan penanganan terhadap struktur tulang agar bagian tubuh yang sebelumnya menyatu dapat direkonstruksi sesuai kebutuhan kedua anak. “Di sisi lain, tim bedah plastik berperan menangani jaringan lunak dan menutup area tubuh yang terbuka setelah pemisahan,” tegasnya.

Dr. dr. Indri Aulia, SpBPRE, Subps GE (K) yang mewakili tim bedah plastik, menjelaskan bahwa penutupan luka membutuhkan pendekatan bertahap sesuai kondisi jaringan. Tim menggunakan berbagai teknik rekonstruksi, mulai dari metode dasar hingga teknologi pendukung untuk menilai kondisi dan kelayakan jaringan yang digunakan dalam penutupan luka.

Tim juga menyiapkan rencana rekonstruksi lanjutan, termasuk pada bagian tubuh yang belum dapat diselesaikan dalam operasi pertama. Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk pemulihan luka, tetapi juga untuk mendukung fungsi tubuh dan kualitas hidup kedua anak dalam jangka panjang.

Kondisi Kedua Bayi Stabil dan Dipindahkan ke Ruang Perawatan Biasa

Setelah menjalani operasi pemisahan dan perawatan intensif, kedua bayi dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk mendapatkan pemantauan ketat. Selama masa perawatan, kondisi kedua anak terus dievaluasi, termasuk penyembuhan luka operasi, pemenuhan kebutuhan nutrisi, fungsi organ, dan risiko infeksi.

Direktur Medik dan Keperawatan RSCM dr. Renan Sukmawan, Sp.JP(K), PhD, MARS menyampaikan bahwa kondisi kedua bayi telah stabil. Keduanya dilaporkan tidak mengalami demam, perawatan luka operasi masih berlangsung, dan asupan melalui mulut telah mencapai tahap yang semakin optimal.

Berdasarkan perkembangan tersebut, tim merencanakan pemindahan kedua bayi dari ruang perawatan intensif ke ruang perawatan biasa.

Meski demikian, tim menegaskan bahwa pemindahan ruang perawatan bukan berarti seluruh rangkaian penanganan telah selesai. Kedua anak masih membutuhkan pemantauan menyeluruh dan kemungkinan tindakan lanjutan sesuai perkembangan kondisi masing-masing.

Dr Renan mengatakan operasi pemisahan merupakan tahap awal dari rangkaian perawatan jangka panjang. Setelah operasi utama, perhatian akan diarahkan pada pemulihan fungsi organ, pemenuhan nutrisi, penyembuhan jaringan, pencegahan infeksi, serta pemantauan tumbuh kembang.

Tim kesehatan anak akan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa sistem pencernaan kedua bayi dapat berfungsi dengan baik, termasuk kemampuan menyerap nutrisi dan proses pengeluaran sisa pencernaan. Pemantauan juga akan dilakukan terhadap fungsi saluran kemih, kondisi tulang dan panggul, serta kemampuan gerak kedua anak.

Departemen rehabilitasi medik akan dilibatkan untuk membantu mendukung perkembangan fungsi gerak dan kemampuan fisik. Sementara itu, tim bedah plastik dan spesialis terkait akan mengevaluasi kebutuhan rekonstruksi lanjutan, termasuk penanganan bagian tubuh yang memerlukan perbaikan pada tahap berikutnya.

Dengan kondisi anatomi yang kompleks, perkembangan setiap anak perlu dipantau secara individual. Tujuannya adalah memastikan kedua anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin.

RSCM Perkuat Peran sebagai Rumah Sakit Rujukan Nasional

Direktur Utama RSCM dr. Supriyanto Dharmoredjo menegaskan bahwa penanganan kasus kompleks merupakan bagian dari mandat rumah sakit pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat, termasuk pasien yang menggunakan BPJS Kesehatan.

Menurutnya, tantangan pembiayaan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab untuk mengupayakan penanganan terhadap pasien yang membutuhkan layanan medis khusus. Mekanisme pengelolaan keuangan dan subsidi silang menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan layanan yang membutuhkan biaya tinggi.

RSCM juga menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, sehingga penanganan kasus langka menjadi bagian dari pengembangan kapasitas tenaga medis dan pembelajaran klinis.

Kasus bayi kembar siam tersebut menjadi salah satu contoh tantangan yang dihadapi rumah sakit rujukan nasional. Selain memiliki tingkat kesulitan medis tinggi, tindakan semacam ini juga membutuhkan biaya besar dan sumber daya yang tidak sedikit.

Ia mengakui bahwa pembiayaan untuk kasus-kasus kompleks dapat menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika biaya pelayanan tidak seluruhnya dapat ditutup melalui klaim penjaminan kesehatan. Meski demikian, RSCM menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan fungsi pelayanan publik dan membantu pasien yang membutuhkan penanganan medis khusus.

Subsidi Silang untuk Menjaga Keberlanjutan Pelayanan

Dalam penjelasannya, dr. Supriyanto menyebut mekanisme subsidi silang sebagai salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan pelayanan kesehatan di RSCM. Melalui pengelolaan pendapatan rumah sakit, dukungan terhadap layanan yang membutuhkan biaya besar dapat diupayakan agar pasien tetap memperoleh penanganan yang diperlukan.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena rumah sakit rujukan nasional tidak hanya menangani penyakit yang umum dijumpai, tetapi juga berbagai kasus langka dan kompleks yang membutuhkan teknologi, fasilitas, serta keahlian khusus.

Ia menjelaskan bahwa tanggung jawab RSCM tidak terbatas pada pelayanan pasien, tetapi juga mencakup pendidikan dan penelitian kedokteran, baik penelitian klinis maupun nonklinis.

Penanganan kasus kompleks memberikan kesempatan bagi tenaga medis untuk mengembangkan keterampilan dan pengalaman. Pada saat yang sama, proses tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran bagi dokter peserta pendidikan agar memiliki pengalaman menghadapi kasus dengan tingkat kesulitan tinggi.

Dengan demikian, pelayanan terhadap kasus langka tidak hanya ditujukan untuk membantu pasien yang sedang dirawat, tetapi juga mendukung peningkatan kapasitas tenaga medis dan keberlanjutan layanan kesehatan pada masa mendatang.

RSCM lanjutnya terus melakukan transformasi layanan untuk memperkuat kemampuannya menangani berbagai penyakit dan kondisi medis yang membutuhkan penanganan khusus. Dalam konferensi pers tersebut, pihak rumah sakit menyinggung sejumlah layanan kompleks, termasuk transplantasi ginjal, transplantasi hati, dan transplantasi sumsum tulang.

Selain itu, rumah sakit juga memberikan perhatian terhadap penanganan kondisi kegawatdaruratan seperti serangan jantung dan stroke.

Menurut dr. Supriyanto, pasien yang membutuhkan pertolongan medis harus mendapatkan penanganan sesuai kondisi klinisnya, termasuk pasien yang mengalami keterbatasan kemampuan finansial. Prinsip tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab rumah sakit dalam menjalankan fungsi pelayanan publik.

Transformasi layanan, menurut pihak rumah sakit, bukan semata-mata bertujuan meningkatkan pendapatan, melainkan juga memperluas kemampuan rumah sakit dalam menjangkau masyarakat dan menyediakan pelayanan medis yang dibutuhkan.

Dukungan terhadap layanan kompleks juga berkaitan dengan penguatan fasilitas, pengembangan kompetensi tenaga medis, serta pengelolaan sumber daya agar pelayanan tetap dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, dr. Supriyanto turut menjelaskan bahwa pengelolaan RSCM sebagai Badan Layanan Umum (BLU) memberikan ruang bagi pendapatan rumah sakit untuk dimanfaatkan kembali dalam mendukung operasional dan peningkatan kualitas pelayanan.

Pendapatan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat fasilitas, mengembangkan layanan, serta mendukung penanganan pasien yang membutuhkan tindakan medis kompleks.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *