JAKARTA–Tim dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menerapkan teknologi pengendali ketinggian air otomatis berbasis mikrokontroler untuk mendukung pengelolaan air bersih di Masjid Al Amanah Nurani Bangsa, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Wilayah Binaan Unggulan Universitas (PPM-WBU) 2026, UNJ juga melibatkan remaja masjid dalam pengenalan teknologi otomasi dan pemeliharaan perangkat.
Puncak kegiatan dilaksanakan pada Sabtu (10/10/26) dengan menghadirkan Contactless Water Level Control (CWLC) berbasis ESP32. Teknologi ini dirancang untuk mengendalikan pengisian tandon air secara otomatis sehingga pengelolaan air untuk kebutuhan wudu, sanitasi, dan kebersihan masjid dapat dilakukan dengan lebih praktis.
Selama ini, pengisian tandon yang mengandalkan pengoperasian manual memerlukan pengawasan agar persediaan air tetap tersedia dan tidak meluap. Melalui penerapan CWLC, tim UNJ memperkenalkan sistem kendali yang bekerja berdasarkan pembacaan ketinggian air menggunakan sensor ultrasonik.

Sensor tersebut mengukur jarak permukaan air tanpa bersentuhan langsung dengan air. Data pengukuran kemudian diproses oleh mikrokontroler ESP32 untuk mengendalikan pompa melalui perangkat relay. Ketika permukaan air mencapai batas minimum, sistem dapat mengaktifkan pompa. Sebaliknya, saat air mencapai batas maksimum, pompa akan dimatikan secara otomatis.
Penerapan sistem ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada pengawasan manual sekaligus membantu pengurus masjid mengelola persediaan air secara lebih teratur. Adapun tingkat penghematan air dan energi masih memerlukan pengukuran lebih lanjut berdasarkan penggunaan perangkat dalam operasional sehari-hari.
Perkenalkan Pemanfaatan Sistem Otomasi
Ketua tim pengabdian UNJ, Taryudi, mengatakan penerapan teknologi otomasi di lingkungan masjid merupakan upaya menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat. Menurut dia, teknologi yang dikembangkan tidak hanya ditujukan untuk membantu pengelolaan tandon air, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan sistem otomasi yang dapat dipelajari dan dirawat oleh masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mitra sekaligus memberikan kesempatan kepada remaja masjid untuk mengenal cara kerja sistem otomasi. Dengan pemahaman tersebut, mereka diharapkan dapat ikut memantau penggunaan perangkat dan melakukan pemeliharaan dasar,” ujar Taryudi.
Program tersebut dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Otomasi, Fakultas Teknik (FT) UNJ, di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNJ. Koordinator Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Otomasi, Syufrijal, turut mendukung pelaksanaan kegiatan yang menerapkan kompetensi instrumentasi, elektronika, pemrograman mikrokontroler, dan sistem kendali dalam konteks kebutuhan masyarakat.
Ketua LPPM UNJ, Prof. Iwan Sugihartono, menilai program pengabdian berbasis teknologi menjadi salah satu cara perguruan tinggi menerapkan hasil pengembangan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan di masyarakat. Kegiatan tersebut juga membuka ruang kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan mitra dalam mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi lapangan.
“Pengabdian kepada masyarakat perlu menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh mitra. Melalui kegiatan ini, kompetensi dosen dan mahasiswa diterapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus mendorong keterlibatan warga agar teknologi yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Prof. Iwan.
Dari pihak mitra, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah Nurani Bangsa, KH. Ma’mun Al Ayyubi, bersama pengurus masjid terlibat dalam koordinasi kegiatan dan pemanfaatan perangkat. Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jakarta Utara, Suwardi, turut menjadi bagian dari kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi dengan organisasi kemasjidan.
Pemberdayaan Remaja Masjid
Selain pemasangan teknologi, program PPM-WBU 2026 diarahkan pada pemberdayaan remaja masjid. Mereka diperkenalkan pada cara kerja sensor, mekanisme pengendalian pompa, pemantauan ketinggian air, serta pemeliharaan dasar perangkat. Keterlibatan ini diharapkan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap teknologi sekaligus mendukung keberlanjutan penggunaannya setelah program selesai.
Ke depan, sistem CWLC berpeluang dikembangkan melalui fitur pencatatan data dan pemantauan jarak jauh sesuai kebutuhan serta kesiapan infrastruktur. Teknologi serupa juga berpotensi diterapkan di sekolah, pesantren, dan rumah ibadah lain yang menggunakan tandon air, dengan penyesuaian terhadap kondisi fasilitas dan kebutuhan pengguna.
Melalui kolaborasi dengan DMI Jakarta Utara dan pengurus Masjid Al Amanah Nurani Bangsa, UNJ berupaya menghadirkan pengabdian yang memadukan penerapan teknologi tepat guna dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya terletak pada penggunaan perangkat otomatis, tetapi juga pada tumbuhnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola fasilitas secara mandiri. (fs)







Komentar