oleh

Rasa Haru dan Kebanggaan di Lapangan PRIMA: Kepulangan Satgas Garuda dari Lebanon

JAKARTA – Suasana haru bercampur bangga menyelimuti Lapangan PRIMA, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (3/6/2026). Setelah 13 bulan bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang konflik yang mencekam di Lebanon Selatan, ratusan prajurit Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL akhirnya kembali menapakkan kaki di tanah air. ​Mereka pulang membawa baret biru yang membanggakan, namun misi kali ini dibayar dengan harga yang sangat mahal.
​
​Mewakili Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Letjen TNI Bobby Rinal Makmun menyambut kepulangan para penjaga perdamaian ini dengan dada sesak sekaligus bangga.

​Dalam dinamika konflik Lebanon Selatan yang sangat kompleks dan penuh risiko, Indonesia harus merelakan empat prajurit terbaiknya yang gugur sebagai Kusuma Bangsa. Kehilangan ini menjadi bukti nyata bahwa jargon “menciptakan perdamaian dunia” bagi TNI bukan sekadar retorika, melainkan komitmen yang ditebus dengan darah dan nyawa.

​”Selama 13 bulan, para prajurit berada di tengah lingkungan operasi yang sangat dinamis dan penuh risiko. Keteguhan mental dan profesionalisme mereka adalah bentengnya,” tulis Panglima TNI dalam amanatnya.

Namun, di tengah dentuman senjata, kemanusiaan tetap menyala. Di bawah komando Kolonel Inf Raja Gunung Nasution, pasukan Garuda berhasil mengukir prestasi yang menggetarkan markas PBB. ​Tidak tanggung-tanggung, Force Commander UNIFIL Mayjen Diodato Abagnara menganugerahkan dua penghargaan sekaligus, yaitu  pertama ​Bidang Kemanusiaan (Letter of Appreciation). Di saat warga lokal Lebanon Selatan krisis air akibat perang, prajurit TNI turun tangan membangun sistem penjernihan air layak minum. Mereka mengalirkan kehidupan di tanah yang kering akibat konflik.

Kedua Bidang Operasi (Letter of Commendation): Pasukan Garuda menjadi “juru damai” di garis paling depan, berhasil meredam deeskalasi ketegangan antara Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang nyaris menyulut perang terbuka.

​”Kami bersyukur bisa membangun sistem penjernih air bagi masyarakat Lebanon Selatan yang selama ini kesulitan mendapatkan sumber kehidupan paling mendasar. Ini adalah bagian dari pengabdian dan wajah ramah bangsa Indonesia di dunia,” ujar Kolonel Inf Raja Gunung Nasution dengan mata berkaca-kaca.

​Oase di Tengah Konflik

​Satgas gabungan yang terdiri dari berbagai elemen—mulai dari pasukan mekanis, polisi militer, tim medis Hospital Level II, hingga unit penjangkauan sipil—telah membuktikan bahwa TNI tidak hanya mahir angkat senjata, tetapi juga menyembuhkan luka sosial.

Mereka telah kembali. Menuntaskan mandat Konstitusi demi perdamaian dunia, menjadi duta budaya yang dicintai warga lokal, dan membawa pulang kehormatan tertinggi bagi Ibu Pertiwi. Selamat datang kembali, Patriot! (aga)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *