JAKARTA – Kwartir Nasional Gerakan Pramuka akan menggelar Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-63 pada 14 Agustus 2024 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur dengan mengambil tema “Pramuka Berjiwa Pancasila Menjaga NKRI”. Upacara yang bakal dihadiri lebih dari 10.000 anggota Gerakan Pramuka dengan pembina upacara Wakil Presiden Ma’ruf Amin tersebut menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali nama besar Gerakan Pramuka.
“Terus terang Gerakan Pramuka dalam beberapa waktu terakhir ini seperti mati suri, meski kami sebenarnya sangat banyak kegiatannya,” kata Sekjen Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Mayjen TNI (Purn) Dr Bachtiar S.IP., M.AP kepada awak media, Senin (5/8/2024).
Karena itu penting bagi Kwarnas Gerakan Pramuka untuk membangun kembali brand atau imej Gerakan Pramuka agar semua kegiatan dan program kerjanya lebih dikenal masyarakat luas.
Diakui Bachtiar, Gerakan Pramuka sebenarnya bukan sekadar membangun karakter, tetapi juga berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan, pelatihan, bela negara, nasionalisme, cinta tanah air dan juga pelatihan leadership. Namun sayangnya, masyarakat lebih mengidentikkan Pramuka dengan membangun karakter. “Kegiatan lain seperti kurang dikenal, dan inilah yang menjadi tugas kita ke depan,” tegasnya.
Ia mengatakan Gerakan Pramuka sebenarnya memiliki kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan strategis di tengah masyarakat. Beberapa kegiatan yang dilakukan Gerakan Pramuka antara lain gerakan Pramuka Peduli, untuk terjun langsung menangani bencana. “Waktu ada pandemi Covid-19 misalnya, kita bentuk Duta Perubahan Perilaku, kita gelar sosialisasi vaksinasi, dan bantuan dalam bentuk lainnya, juga tim rescue,” jelasnya.
Lalu ada satuan Karya Rintisan dengan 12 bidang garapan. Mulai dari bidang pertanian, pangan, wirausaha, pariwisata, obat & makanan dan lainnya. “Dengan organisasi pangan dunia atau FAO, Gerakan Pramuka aktif dalam pembuatan smart farming. Dengan BPOM kita terlibat dalam upaya pengawasan obat dan makanan,” katanya.
Bachtiar memastikan bahwa peran, tugas dan fungsi Gerakan Pramuka itu besar sekali. Sehingga kurang bijak jika Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam salah satu kebijakannya tidak lagi mewajibkan ektrakurikuler Pramuka di sekolah-sekolah karena dianggap setara atau sama dengan ekskul lainnya.
Padahal ekstrakurikuler Pramuka menurutnya tidak bisa disamakan dengan pencak silat, English Club, kesenian atau ekskul-ekskul lainnya. Sebab dalam ekskul Pramuka terdapat pembentukan karakter building siswa dimana ini tidak bisa dilakukan secara online. “Pembentukan karakter itu tidak bisa dilakukan secara online tetapi harus dilatih, diawasi, dibiasakan. Itu saja terkadang masih meleset apalagi jika melalui online. Ini harus dipraktikkan langsung misalnya saat anak latihan, anak ikut kemah,” jelas Bachtiar.
Lebih lanjut Bachtiar menekannya bahwa dalam pendidikan itu ada tiga pilar penting yakni pendidikan formal yang digelar di sekolah-sekolah, pendidikan informal yang diemban oleh orang tua dan non formal yang dilakukan oleh organisasi, lembaga termasuk Gerakan Pramuka. “Ini artinya bahwa sebenarnya Pramuka itu membantu Kemendikbudristek untuk membangun karakter siswa melalui pendidikan non formal,” tegasnya.
Kwarnas Gerakan Pramuka sendiri telah berkirim surat langsung kepada Menteri Nadiem untuk membatalkan atau mencabut kebijakannya tersebut. Namun hingga kini surat tersebut belum mendapatkan respon dari Menteri Nadiem.
Terkait Hari Pramuka Nasional 2024, selain upacara di Bumi Perkemahan Cibubur sebagai puncak peringatan Hari Pramuka, Kwarnas Gerakan Pramuka juga telah menggelar beberapa kegiatan mulai dari bedah rumah warga, donor darah, pemberian sembako pada warga kurang mampu, pembersihan rumah ibadah dan fasilitas umum, pengobatan massal dan beberapa kegiatan ditingkat Kwarda.
“Pada puncak peringatan Hari Pramuka, kami akan adakan demonstrasi yang melibatkan peserta 500 orang yang digelar Kwarda Jawa Timur,” tandas Bachtiar. (*/fs)







Komentar