SELINGKUH, BIAR KUAT MINUM OBAT KUAT, MENINGGAL AKIBATNYA – Poskota.co

SELINGKUH, BIAR KUAT MINUM OBAT KUAT, MENINGGAL AKIBATNYA

Kamar hotel 103 tempat penemuan mayat
Kamar hotel 103 tempat penemuan mayat

POSKOTA.CO – Seisi Hotel Kediri tiba-tiba dikejutkan dengan penemuan sosok mayat Toni Saptono, warga Desa Pesanggrahan Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang, yang berstatus PNS di Dinas Pengairan, sabtu (04/06/2016) di kamar nomor 103.

Danramil Kandangan Kapten Czi Kustoyo dan Kapolsek Kandangan, AKP Eko Sanusi yang saat itu sedang melakukan persiapan Safari Ramadhan di Balai Kecamatan Kandangan yang lokasinya hanya berjarak 100 meter dari Hotel Kediri langsung mendatangi tempat kejadian perkara.

Dari keterangan AKP Eko Sanusi, korban diduga meninggal akibat serangan jantung dan di lokasi kejadian tersebut juga ditemukan obat kuat merk Cobra serta 2 sachet kapsul sudah dalam kondisi kosong.

Dari hasil identifikasi pada tubuh korban, juga tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan, demikian juga tidak adanya bukti sperma yang keluar dari pria paruh baya tersebut.

Sebelumnya korban diketahui sedang berduaan di kamar tersebut, dengan Eny Kurniawati, warga Desa Sidowareg Kecamatan Ngoro Kabupaten Kediri. Dan saat ini, wanita cantik itu, berada di Polsek Kandangan, untuk dimintai keterangan lebih lanjut, sedangkan korban sendiri, langsung dibawa ke RS Bhayangkara Kediri, untuk menjalani visum et repertun dari unit Polres Kediri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)