Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si
ALHAMDULILLAH kita telah dan sedang merayakan peringatan HUT RI yang ke-78. Ditandai dengan penyelenggaraan upacara bendera dari mulai di Istana negara sampai di Kecamatan-kelurahan. Upacara dimaksudkan untuk mengingat dan mengenang kembali perjuangan kemerdekaan Indonesia oleh para pahlawan kusuma bangsa untuk mengusir penjajah dari negeri tercinta yang sudah menjajah lebih dari tiga abad lamanya. Tiga ratus lima puluh tahun adalah bukan waktu yang singkat dijajah oleh Belanda yang ditambah Jepang tiga setengah tahun.
Demikian lamanya mungkin seorang kakek yang hidup pada masa penjajahan tidak akan pernah tahu kapan indonesia bisa merdeka dari penjajah.
Peringatan HUT Kemerdekaan ini juga diisi dengan berbagai macam aneka lomba sebagai cerminan bahwa perjuangan harus terus dilanjutkan dan dikobarkan untuk menjaga NKRI dan mengobarkan semangat berjuang untuk mengisi kemerdekaan demi kemajuan bangsa dan negara Kita bersyukur bahwa akhirnya bisa merdeka dan berdaulat, meski pada awal-awal kemerdekaan penjajah masih terus berdatangan, belum lagi pemberontakan dalam negeri seperti PKI, NII, PRRI Permesta dan lain sebagainya. Kini sudah tujuh puluh delapan tahun merdeka dan terlihat dengan kasat mata pembangunan demikian maju pesat dan pemberontakan nyaris tidak ada. Jika pun ada hanya di Papua yang tidak terlalu mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tiga Cara Bersyukur
Menurut pakar Tafsir kita Prof. Habib Quraish Shihab, bersyukur mencakup tiga sisi, yaitu bersyukur dengan hati, bersyukur dengan lidah dan bersyukur dengan perbuatan.
Bersyukur dengan hati dengan menyadari bahwa sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dari Allah swt. Kemerdekaan Indonesia tidak akan terwujud tanpa kehendak-Nya. Bersyukur dalam hati pun mengikhlaskan segala penderitaan yang pernah
dialami di masa penjajahan karena merasa karunia dari Allah swt berupa Iman dan Islam dan dapat istiqomah menjalaninya jauh lebih besar. Sehingga tidak ada setitik pun rasa tidak puas, protes kepada Allah swt atas segala penderitaan saat dijajah selama masa penjajahan. Justru mampu mengambil hikmah untuk kehidupan selanjutnya yang lebih baik.
Kedua, bersyukur dengan lisan dengan mengakui anugerah kemerdekaan ini dari Allah swt, dan selalu menyebut dan memuji Allah swt melalui ibadah ritual yang kita lakukan setiap harinya, baik melalui sholat lima waktu maupun dzikir kapan dan dimanapun kita berada (pagi atau sore hari, di rumah, di lingkungan sekitar, tempat bekerja dan tempat berusaha dan dimanapun).
Kemudian sisi yang ketiga adalah bersyukur dengan perbuatan dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya. Anugerah kemerdekaan menyebabkan bangsa Indonesia bebas menentukan nasibnya sendiri di masa mendatang. Karena itu sebagai rasa syukur, wajib untuk mengisi kemerdekaan untuk menggapai cita-cita kemerdekaan mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhai oleh Allah swt.
Bersyukur kepada Allah Berarti Bertambah Anugerah-Nya
Jika kita mampu mensyukuri kemerdekaan dengan baik, baik melalui hati, ucapan maupun perbuatan maka janji Allah sebagaimana dalam Al-Qur-an: “Dan Tuhanmu telah memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrahim: 7).
Mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai: Baldatun Toyyibatun wa robbun ghofur. “Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Pengampun.” (QS Saba’: 15).
Menurut Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, ayat di atas mengisahkan kisah suatu kaum yang berada di sebelah selatan negeri Yaman, yaitu kaum Saba’, yang menempati suatu daerah yang amat subur sehingga hidup makmur dan telah mencapai kebudayaan yang tinggi.
Penduduk Saba’ menempati sebuah lembah yang luas dan subur berkat pengairan yang teratur dari Bendungan Ma’rib. Di kiri dan kanan terbentang kebun-kebun yang amat luas dan subur yang menghasilkan bahan makanan dan buah-buahan yang melimpah ruah. Kaum Saba’ pada mulanya menyembah matahari, namun setelah pimpinan kerajaan dipegang Ratu Balqis, mereka menjadi kaum yang beriman dengan mengikuti ajaran Nabi Sulaiman. Jadi menyukuri kemerdekaan dengan perbuatan adalah dengan mewujudkan negeri yang makmur sebagaimana kaum Saba’ yang diceritakan Al-Quran di atas.
Berterimakasih kepada Para Pahlawan
Islam sangat mengajarkan bahwa setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita, kecil maupun besar, banyak atau pun sedikit, patut kita berterimakasih kepada yang memberi nikmat tersebut. Sebagaimana berterimakasih anak kepada orang tua yang telah mengasuhnya, berterimakasih seorang murid kepada guru yang telah mendidiknya, berterimakasih seorang bawahan kepada atasannya yang telah memberinya pekerjaan. Dalam hadits nabi saw dikatakan:
“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterimakasih) kepada manusia (HR Abu Dawud).
Oleh karena itu sudah barang tentu kita semua bangsa Indonesia berterimakasih kepada para pejuang pahlawan kusuma bangsa yang telah berjuang mewujudkan kemerdekaan bangsa kita. Dengan perjuangan yang demikian heroik, dengan waktu yang lama, mengorbankan harta dan nyawa, dengan rahmat-Nya, Allah swt mengabulkan ikhtiar dan doa para pendiri bangsa dan rakyat saat itu sehingga Indonesia terbebas dari cengkraman penjajah. Dalam Al-Qur-an Allah Swt berfirman: “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS Al-Ra’du:11). Ayat inilah yang menginspirasi para pejuang kita untuk memperoleh kemerdekaan.
Kemerdekaan bukan disikapi dengan diam seribu bahasa, nrimo, pasrah dengan nasib, meratapi takdir (yang katanya kejam). Kemerdekaan harus diperjuangkan sampai Allah swt benar-benar melihat kesungguhan bangsa Indonesia untuk merdeka. Akhirnya, sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Atas Rahmat Allah swt dan dengan didorong keinginan yang luhur dan seterusnya, Indonesia dapat merdeka.
Implementasi Syukur
Lalu bagaimana selanjutnya langkah kita generasi saat ini yang sudah merasakan kemerdekaan selama tujuh puluh delapan tahun ini sebagai bukti terimakasih kita kepada Allah Swt atas nikmat kemerdekaan Bangsa Indonesia, dan terimakasih kepada para pahlawan Kusuma bangsa atas segala ikhtiar perjuangan tak kenal lelah berkorban dengan jiwa raga?
Pertama, mencintai negeri dengan sepenuh hati dengan menjalankan peran sosial dengan sebaik-baiknya sesuai profesi dan keahliannya. Misalnya sebagai pejabat publik mensyukuri kemerdekaan dengan menjaga amanah untuk melayani masyarakat dan tidak mengkhianati negara dengan melakukan hal-hal yang menyebabkan kerugian negara, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang sampai saat ini ‘menghiasi’ lembaga-lembaga negara.
Jangan pernah berpikir dan berniat memberontak dengan pemerintahan yang sah (bughot), mendirikan negara dalam negara, keinginan menciptakan khilafah dan yang semacamnya yang tidak sesuai dengan I’tikad Islam ahlussunnah wal jamaah.
Kedua, mengisi kemerdekaan dengan menambah ketakwaan kepada Allah swt dengan selalu komitmen menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala hal yang dilarang-Nya.
Menjalani semua kegiatan hidup sesuai dengan ridho-Nya. Allah swt mengingatkan dalam berfirman-Nya: Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya kami akan bukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan dari bumi…” (Al-A’raf: 96).
Ketiga, berterimakasih kepada para pahlawan kusuma bangsa dengan senantiasa selalu menyampaikan doa untuk mereka, mengambil suri teladan dari mereka. Allah mengajarkan kepada kita berdoa dalam firmannya:”…Ya Tuhan kami ampunilah kami dan orang-orang yang telah mendahului kami dalam iman…” (QS. Al Hasyr: 10). Demikian. Wallahu A’lam. (ta)
*Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.







Komentar