JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmen mempercepat ketersediaan dan pemerataan dokter spesialis melalui kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan rumah sakit daerah. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto sebagai keynote speaker pada Seminar Nasional Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (Arsada), Jumat (28/11).
Menteri Brian menyampaikan apresiasi atas kiprah panjang Arsada dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan daerah. Ditekankan bahwa organisasi seperti Arsada berperan penting dalam mewujudkan prioritas negara.
“Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto menyampaikan mandat kebutuhan percepatan pemenuhan tenaga medis, khususnya dokter spesialis dan subspesialis, sebagai prioritas nasional,” tegas Menteri Brian.
Sebagai tindak lanjut amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Kemdiktisaintek bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membentuk Komite Bersama untuk menyelaraskan kebijakan pendidikan, pelayanan, dan penelitian kesehatan. Komite ini melibatkan lembaga akreditasi, organisasi profesi, asosiasi institusi pendidikan, hingga rumah sakit (RS) jejaring dan Pemerintah Daerah (Pemda).
Saat ini Indonesia memiliki 136 fakultas kedokteran yang menghasilkan sekitar 3.600 lulusan dokter spesialis per tahun. Namun distribusinya masih timpang, dengan sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa.
“Ini tantangan besar yang harus diselesaikan melalui deregulasi, kebijakan afirmatif, dan kolaborasi pendanaan,” tegas Mendiktisaintek.
Pemerintah melalui pidato Presiden pada 15 Agustus 2025 menargetkan pembukaan 148 program studi baru yang terdiri dari 125 prodi spesialis dan 23 prodi subspesialis di 57 fakultas kedokteran. Selain itu, akan dibuka 25 prodi kedokteran umum dan kedokteran gigi, serta peningkatan beasiswa untuk memperkuat akses pendidikan medis. Kebijakan ini akan diikuti peningkatan kuota mahasiswa residen menjadi hampir 8.000 pada 2026, sehingga jumlah lulusan meningkat menjadi 6.000 dokter spesialis per tahun pada 2030. Dalam lima tahun, lulusan dokter spesialis diproyeksikan meningkat 160%.
Menteri Brian menegaskan bahwa kenaikan kuota ini tidak dapat berjalan tanpa kesiapan rumah sakit daerah sebagai wahana pendidikan. Karena itu, perguruan tinggi diarahkan menerapkan model Sistem Kesehatan Akademik sejak 2022 untuk menghubungkan institusi pendidikan, RS pendidikan, RS jejaring, dan pemerintah daerah dalam satu ekosistem terstruktur.
“Arsada memiliki peran strategis untuk meningkatkan kapasitas rumah sakit daerah sebagai RS pendidikan utama maupun jejaring. Variasi kasus klinik di daerah menjadi kunci peningkatan kompetensi residen,” ujar Menteri Brian.
Kemdiktisaintek juga mendorong transformasi kurikulum kedokteran agar selaras dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi, standar profesi, dan perkembangan global. Penjaminan mutu berbasis eviden, penguatan riset transnasional, serta pengembangan teknologi kesehatan menjadi fondasi ekosistem pendidikan dokter masa depan. Pencegahan dan penanganan kekerasan di pendidikan kedokteran juga menjadi fokus Kemdiktisaintek.
Menutup sambutannya, Mendiktisaintek menegaskan bahwa seluruh agenda transformasi sesuai misi Diktisaintek Berdampak hanya dapat berjalan melalui kolaborasi kuat lintas kementerian, perguruan tinggi, pemda, dan rumah sakit daerah. Kemdiktisaintek bersama Kemenkes mengupayakan bahwa tenaga medis Indonesia kompeten dan merata hingga ke pelosok negeri melalui penguatan kualitas pendidikan, riset, dan jejaring layanan.







Komentar