oleh

DMI Dorong Layanan Kesehatan Berbasis Masjid, Ini Alasannya!

JAKARTA – Masjid memiliki potensi besar untuk menjadi solusi pelayanan kesehatan yang efektif dan terjangkau bagi masyarakat. Karena itu Dewan Masjid Indonesia (DMI) mendorong setiap masjid di Indonesia untuk merintis layanan kesehatan berbasis masjid guna melayani jamaah.

Dalam webinar DMI bertema “Merintis Upaya Pelayanan Kesehatan Berbasis Masjid” yang digelar Departemen Kesehatan dan Lingkugan Hidup PP DMI, pada Sabtu (20/12/2025) Ketua Departemen Kesehatan dan Lingkungan Hidup PP DMI, dr. Prasetyo Widhi Buwono, Sp.Pd. KHOM menyebutkan alasan strategisnya mengapa masjid memiliki potensi menjadi solusi kesehatan masyarakat. “Tempat ibadah ini memiliki akses sangat luas, paling banyak dikunjungi masyarakat, memiliki struktur organisasi yang stabil, tingkat kepercayaan jamaah yang tinggi dan yang penting, banyak juga dikunjungi oleh orang-orang lanjut usia dengan berbagai risiko kesehatan,” ujar dr Prasetyo.

Menjadikan masjid sebagai solusi kesehatan bagi masyarakat menurutnya bukanlah hal yang baru. Zaman Rosulullah, masjid telah digunakan untuk berbagai kegiatan tidak hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai tempat bermusyawarah, pusat pendidikan, pusat kegiatan sosial dan sebagainya. “Bahkan ketika perang, masjid dijadikan tempat untuk menolong para sahabat yang terluka di medan perang,” katanya.

Layanan kesehatan berbasis masjid, menurutnya tidak harus berbentuk klinik. Bisa juga dalam bentuk preventif dan promotif kesehatan seperti edukasi bahaya merokok, edukasi penyakit degenerative, edukasi stunting, layanan skrining kesehatan dan lainnya.

“Memang idealnya ada klinik kesehatan di masjid. Tetapi untuk mengoperasionalkan klinik kan tidak mudah, sehingga bisa saja fungsi layanan kesehatan bisa dilakukan dalam bentuk promotif dan preventif. Intinya kita bisa memulai dari hal-hal yang sederhana,” tambahnya.

DMI diakui sebenarnya sudah merintis layanan kesehatan di masjid-masjid. Salah satunya adalah masjid Al Furqon di Beji, Kota Depok. Masjid ini memiliki klinik pengobatan yang terintegrasi dengan PKU Muhammadiyah Beji.

Klinik kesehatan masjid Al Furqon menurut dr Prasetyo bisa menjadi role model bagi masjid-masjid lain, untuk menyelenggarakan layanan serupa. Masjid ini menjadi bukti bahwa banyak kegiatan bisa dilakukan di masjid, tak sekadar untuk ibadah shalat tetapi juga menjaga masyarakat agar tetap sehat dan sejahtera.

Masjid Al Furqon Beji, memiliki klinik layanan kesehatan sejak tahun 2019. Namun sempat tutup selama dua tahun akibat pandemi Covid-19. Lalu pada tahun 2021, klinik masjid Al Furqon dibuka lagi, dengan tiga dokter, dan tiga perawat.

“Saat ini klinik masjid Al Furqon memiliki lima dokter, lima perawat dan tiga petugas administrasi, dan satu mobil ambulans,” kata Naman Suryadi, pengurus.

Jumlah masyarakat yang mengakses layanan kesehatan di klinik masjid Al Furqon rata-rata 30 hingga 40 pasien setiap bulan. Jumlah tersebut diyakini akan terus meningkat seiring penambahan fasilitas klinik termasuk layanan dokter gigi dan akreditasi paripurna yang sudah diraih klinik.

Klinik ini sepenuhnya dikelola oleh Badan Eksekutif Masjid Al Furqon yang beranggotakan anak-anak muda yang memang tertarik untuk menghidupkan masjid. Sebelum memiliki klinik, masjid Al Furqon telah mengadakan pengobatan ala Rosulullah seperti bekam dan fasdu.

Sebelumnya, dalam pengantar diskusi, Ketua Umum Pimpinan Daerah DMI Kota Depok Eko Waludi mengatakan masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa masjid fungsinya hanya untuk shalat. Namun sejatinya masjid memiliki fungsi sosial, pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

Menurutnya membuka layanan kesehatan berbasis masjid sangat penting dan strategis. Karena hingga saat ini masih banyak masyarakat yang tidak memiliki akses layanan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas dengan berbagai alasan dan kendala.

“Di sinilah masjid bisa mengambil peranan untuk menjembatani gap yang ada. Masjid bisa membantu pemerintah untuk mengedukasi pentingnya gaya hidup sehat, melakukan pencegahan stunting, mengedukasi soal gizi seimbang, skrining kesehatan gratis, memberikan pertolongan sederhana dan pengobatan yang bersifat ringan,” kata Eko.

Senada juga disampaikan Ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup PP DMI Prof Fahmi Idris. Dalam pengantarnya, Prof Fahmi mengatakan menyediakan layanan kesehatan di masjid adalah bagian dari upaya memakmurkan masjid. Karena itu, penting setiap masjid menghidupkan layanan kesehatan meski bentuknya sangat sederhana seperti pengobatan gratis, edukasi kesehatan pada setiap kajian dan lainnya. (in)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *