SERANG – Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi susu nasional saat ini hanya berkisar di angka 16,3 kg per kapita per tahun. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand (33 kg), Malaysia (50,9 kg), hingga Singapura yang jauh lebih tinggi.
Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak) Hongbiao Li, menegaskan bahwa rendahnya konsumsi susu berisiko menghambat ambisi Indonesia mencapai masa keemasan di tahun 2045. Mengingat susu merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik yang mampu mencukupi kebutuhan nutrisi harian anak-anak. Bahkan susu menjadi instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda.
“Jadi susu bukan sekadar menu pelengkap dalam menu harian anak-anak. Ini adalah produk penting untuk mendukung pertumbuhan dan kecerdasan anak-anak,” tegas Hongbiao Li dalam jumpa pers dengan awak media di Pabrik PT Lami Packaging Indonesia di Cikande, Serang, Banten, Selasa (20/1/2026).
Karena itu, ia mengapresiasi masuknya komponen susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi kebijakan nasional pemerintah Indonesia. Pemberian susu dalam menu MBG, memungkinkan konsumsi susu terutama pada anak-anak dapat meningkat secara signifikan. Program serupa kata Hongbiao Li sudah banyak dilakukan di banyak negara maju di dunia seperti Jepang, China dan Amerika Serikat.
Sejumlah penelitian ilmiah menyebutkan bahwa anak-anak yang rutin mengonsumsi susu cenderung memiliki perkembangan otak dan fungsi kognitif yang lebih baik, memperbaiki daya ingat, meningkatkan daya konsentrasi, dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Rutin minum susu juga membantu meningkatkan kemampuan nalar dan konsentrasi anak usia sekolah.
“Indonesia baru memulai dan saya pikir itu sangat bagus. Kami sangat mendukung program MBG,” lanjut Hongbiao Li.
Ia percaya bahwa program ini menjadi langkah yang tepat untuk menjadikan masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat. Ini adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sudah dimulai di negara China, India, Amerika Serikat dan banyak negara maju lainnya.
Untuk membagikan susu kemasan pada anak-anak Indonesia, tentu membutuhkan dukungan material berupa produk kemasan dalam jumlah besar. Dalam hal ini, LamiPak, lanjut Hongbiao Li siap memproduksi kemasan susu untuk memenuhi kebutuhan program MBG.
“LamiPak mendukung program MBG dengan menyediakan kemasan aseptik. Berapapun kebutuhannya, kami siap memproduksi,” jelasnya.
Kemasan aseptik yang bisa digunakan untuk wadah susu ini, memiliki sejumlah keunggulan dibanding produk kemasan biasa. Salah satu keunggulannya adalah sterilitas produk yang tinggi, sehingga memungkinkan makanan dan minuman tahan lebih lama hingga berbulan-bulan tanpa pengawet dan tanpa perlu pendinginan (suhu ruang). Teknologi ini sekaligus menjaga nutrisi, rasa, dan aroma lebih baik karena sterilisasi suhu tinggi waktu singkat (UHT), serta menghemat biaya distribusi.
Beroperasi sejak 2024 di Serang, Banten, LamiPak kata Hongbiano Li memiliki kapasitas produksi hingga 21 miliar kemasan aseptik per tahun. Kapasitas sebesar itu mampu memenuhi kebutuhan kemasan di Indonesia baik untuk produk minuman, maupun makanan. “Sebagian besar produk kami memang untuk diekspor. Tetapi bukan berarti pasar domestik bukan target kita. Kami mendukung program pemerintah, dalam hal ini program MBG,” ujarnya.
Aspek Distribusi Jadi Tantangan
Meski menjadi unsur penting dalam program MBG, penyediaan produk susu bukan persoalan mudah bagi pemerintah Indonesia. Kondisi geografis yang terdiri atas pulau-pulau, ditambah belum memadainya infrastruktur pendukung, membuat pengadaan susu menghadapi kendala yang tak mudah.
“Susu merupakan produk yang mudah rusak, sehingga kemasan yang digunakan bukan sekadar wadah, melainkan komponen vital untuk keamanan dan kualitas,” kata Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi, pada kesempatan yang sama.
Menurutnya, logistik di Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan suhu dan waktu. Produk susu membutuhkan sistem yang mampu menjaga kualitas dan keamanan dari proses produksi hingga siap konsumsi. Dan ini menjadi tantangan dalam persoalan distribusi produk susu. “Susu yang sampai ke tangan anak-anak kan harus dalam kondisi aman konsumsi dan tetap terjaga nutrisinya. Ini jadi tantangan kita,” ujarnya.
Di banyak wilayah, lanjut Ahmad Rizalmi, keterbatasan infrastruktur rantai dingin menjadi kendala utama, yang meningkatkan risiko penurunan mutu serta membatasi akses masyarakat terhadap produk susu yang aman. Akibatnya, masyarakat di daerah terpencil dan tertinggal sering kali menghadapi ketimpangan akses terhadap pangan bergizi berupa produk susu.
Tantangan ini menjadi semakin relevan dalam konteks program MBG, di mana susu menjadi salah satu komponennya. “Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk, tetapi juga pada kemampuan sistem distribusi untuk memastikan susu dapat disalurkan secara aman dan efisien ke seluruh wilayah. Tanpa dukungan pengemasan yang memadai, dampak gizi yang diharapkan dari program ini tidak akan tercapai secara optimal,” imbuhnya.
Peran Penting Teknologi Kemasan
Untuk mengantarkan produk susu yang aman dan terjaga kualitasnya sampai ke tangan anak-anak, peran teknologi kemasan menjadi kunci. Kemasan yang baik dan memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan, dapat menjaga kualitas susu hingga ke tangan anak-anak meski berada di wilayah yang sulit terjangkau.
“Kemasan yang baik mampu menjaga sterilitas susu tanpa harus menggunakan bahan pengawet,” terangnya.
Sayangnya, lanjut Ahmad Rizalmi, tidak semua kemasan susu mampu menjaga sterilisasi produk. Ada kalanya kemasan yang digunakan oleh produsen susu menyertakan syarat tertentu seperti penyimpanan di suhu rendah selama proses distribusi dan penyimpanan di gudang. Kondisi ini tentu menyulitkan proses distribusi dan pengadaan produk susu kemasan terutama untuk wilayah-wilayah yang belum memiliki infrastruktur memadai.
Sebagai salah satu pemimpin industri kemasan berkualitas tinggi yang ramah lingkungan, LamiPak berkomitmen menyediakan solusi kemasan aseptik yang mampu menjaga sterilitas susu tanpa memerlukan bahan pengawet. Kemasan aseptik LamiPak dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis yang memastikan nutrisi susu tetap terjaga meski didistribusikan ke wilayah pelosok tanpa rantai dingin (cold chain).
Teknologi perlindungan dengan 6 lapis yang dimiliki produk LamiPak yakni outer layer, paperboard with printing ink, lamination layer, alumunium foil, tie layer dan inside multilayer, jelas Ahmad Rizaldi, dapat memastikan bahwa satu kotak susu yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan susu yang diterima anak-anak di kota besar. “Artinya kemasan LamiPak dapat menjaga kondisi susu dengan sangat baik meski susu harus melewati jarak yang jauh, waktu yang lama dan kondisi jalan yang terjal,” ujarnya.

Kemasan aseptik menawarkan solusi praktis dengan memungkinkan distribusi susu tanpa memerlukan pendinginan, sekaligus menjaga keamanan dan kualitas nutrisi produk. Teknologi ini memungkinkan susu menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas dan terpencil, sehingga mendukung pemerataan akses gizi di seluruh Indonesia.
Pabrik Kemasan Aseptik Pertama di Indonesia
Diakui Ahmad Rizaldi, lebih dari 50 tahun kebutuhan kemasan pangan dan minuman di Indonesia sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Situasi ini tentu tidak menguntungkan bagi industri makanan dan minuman terutama industri susu di Indonesia. Sebab kehadiran manufaktur lokal menjadi kunci penting terhadap keberlanjutan industri nasional.
Karena itu, hadirnya LamiPak dengan kemasan aseptik di tanah air pada 2024 dengan pabrik di Kawasan Serang, Banten, menjadi angin segar bagi produsen makanan dan minuman nasional yang membutuhkan kemasan. Ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian nasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta mendukung ketahanan pangan jangka panjang.
Sebagai salah satu pemimpin industri penyedia produk dan solusi kemasan aseptik berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, LamiPak yang berpusat di Kunshan China, secara resmi memulai pembangunan pabrik pertamanya di Indonesia pada Mei 2022 dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun. Pabrik ini dilengkapi dengan mesin kelas dunia yang menganut industri 4.0 sehingga menjadikannya pabrik tercanggih dan terhubung yang pernah dibangun LamiPak. Mengadopsi teknologi modern, pabrik tersebut resmi beroperasi secara komersiil pada April 2024.
Beroperasinya pabrik LamiPak di Kawasan Serang Banten, tidak hanya menjadi ekspansi pertama LamiPak Global di luar negeri, tetapi juga menjadi pabrik kemasan aseptik pertama di Indonesia.
Dengan kapasitas produksi hingga 21 miliar kemasan aseptik per tahun, LamiPak siap mendukung pertumbuhan industri makanan minuman dalam negeri. Selain itu, dengan kapasitas produksi yang tinggi tersebut, LamiPak diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor produk kemasan.
Saat ini produk kemasan aseptik LamiPak sudah ekspor ke 86 negara di dunia. “Jadi kami tidak hanya siap mendukung kebutuhan produk kemasan tanah air, tetapi juga bisa ekspor ke negara lain,” tutup Ahmad Rizaldi. (in)







Komentar