oleh

Pemkot Tangerang Siapkan Strategi Optimalisasi Pengolahan Sampah

TANGERANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus berupaya mengubah persoalan sampah menjadi peluang ekonomi melalui berbagai inovasi pengelolaan dari hulu hingga hilir. Penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tingkat pemukiman warga hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing.

Setiap hari, Kota Tangerang menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah, dan Pemkot bertekad menjadikan volume besar itu bukan lagi sekadar beban, melainkan sumber manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menjelaskan bahwa strategi pengelolaan sampah dilakukan secara bertahap dan terintegrasi, dengan dukungan sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan partisipasi masyarakat. “Penanganan sampah dilakukan secara tertata mulai dari pemukiman, industri, hingga pusat keramaian, kemudian berakhir di TPA Rawa Kucing,” ujar Wawan, Sabtu (18/10/2025).

Wawan menuturkan, Pemkot Tangerang terus mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah serta memperluas pembentukan bank sampah yang kini telah mencapai lebih dari 90 titik. Selain itu, Pemkot Tangerang juga telah menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) pada sejumlah tempat sampah umum. Sensor tersebut memantau kapasitas tempat sampah secara real time dan mengirimkan data langsung ke pusat pengendalian.

“Di masyarakat, kami terus sosialisasikan pemilahan sampah, pembentukan bank sampah, hingga penggunaan sensor IoT yang memantau kapasitas secara real time,” jelasnya.

Tak hanya itu, DLH juga mendorong masyarakat untuk mengolah sampah menjadi sumber penghasilan, seperti pembuatan pupuk kompos, budidaya maggot, dan inovasi daur ulang lainnya. “Pelatihan ini menjadikan sampah bukan lagi masalah, tapi peluang cuan bagi warga,” tambah Wawan.

RDF dan Peta Jalan Pengelolaan Sampah

Pada tahap pengelolaan akhir, Pemkot Tangerang akan memperluas penerapan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif. Salah satu titik yang akan menjadi proyek percontohan adalah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Benua Indah di Kecamatan Karawaci.

“Tahun ini TPST Benua Indah akan direhabilitasi gedungnya dan dipersiapkan untuk pemasangan alat RDF. Lokasi ini kami jadikan prototipe pengolahan sampah berbasis teknologi,” ungkap Wawan.

Ia menambahkan, Pemkot Tangerang juga tengah menyusun Peta Jalan Akselerasi Penuntasan Pengelolaan Sampah dan Rencana Induk Pengelolaan Sampah (RIPS) sebagai acuan kerja lintas sektor. “Ini akan menjadi acuan penyusunan rencana kerja pengelolaan sampah di Kota Tangerang,” ujarnya.

Kota Bersih Tanpa TPS di Jalan Protokol

DLH menargetkan tahun 2025 sebagai momentum penting menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah penutupan seluruh TPS di jalan protokol untuk memperindah tata kota dan mengurangi gangguan visual di ruang publik.

“Di tahun 2025, kami fokus pada pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan. Ini langkah penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga dan menjaga kebersihan lingkungan,” tutur Wawan.

Pemkot juga mendorong kolaborasi aktif masyarakat dan sektor swasta agar target pengurangan sampah dapat tercapai maksimal. “Penanganan sampah tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Diperlukan peran aktif masyarakat dan dunia usaha agar program ini berhasil,” pungkasnya.

Wali Kota Tangerang: Kunci Keberhasilan Ada pada Warga

Menyikapi upaya yang digencarkan DLH, Wali Kota Tangerang, Sachrudin menegaskan bahwa keberhasilan penanganan sampah memerlukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Persoalan sampah adalah tanggung jawab kolektif. Kami telah menyediakan infrastruktur dan teknologi. Namun, kunci keberhasilan utamanya ada pada kesadaran setiap warga untuk memilah sampah dari rumah,” tegas Sachrudin.

Wali Kota juga memberikan instruksi khusus kepada jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah untuk menjadi motor penggerak. “Saya meminta Camat dan Lurah untuk sering turun langsung ke lapangan, mengedukasi, dan memastikan program ini berjalan efektif di lingkungannya. Kita ingin memastikan semangat menjaga lingkungan ini bukan sekadar slogan, tetapi menjadi budaya yang melekat. Melalui sinergi ini, kita wujudkan Kota Tangerang yang semakin bersih, hijau, dan nyaman untuk ditinggali,” tutup Sachrudin.

Dengan strategi menyeluruh ini, Pemkot Tangerang optimistis dapat mencapai target lingkungan berkelanjutan dan menanggulangi tantangan persampahan di masa depan. (Imam/mk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *