oleh

DPRD DKI Soroti Revitalisasi Kebon Binatang Ragunan Jangan Ditindaklanjuti dengan Kenaikan Tiket Masuk

JAKARTA – Revitalisasi Taman Margasatwa Ragunan (TMR) agar tidak dilanjuti dengan kenaikan harga tiket masuk. Pemprov DKI Jakarta harus bisa mempertahankan citra TMR sebagai taman rekreasi yang murah meriah bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike menanggapi rencana rencana revitalisasi kebon binatang di wilayah Ragunan Jakarta Selatan. Saat ini upaya revitalisasi sudah memasuki tahap perencanaan yang segera ditindaklanjuti dengan proses pengerjaan.

“Revitalisasi boleh saja. Tapi ingat, setelah revitalisasi selesai, jangan sampai dikomersialkan dengan menaikkan tarif tiket dan sebagainya,” ujar Yuke di gedung DPRD DKI Jakarta kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (27/1). Kebon binatang yang di dalamnya juga terdapat ribuan jenis tumbuhan itu dibangun pada era kolonialisme dan dari dulu dikenal sebagai tempat hiburan rakyat yang nyaman dan terjangkau.

Untuk itu, Yuke mewanti-wanti agar revitalisasi TMR jangan sampai menghilangkan fungsi utamanya sebagai ruang rekreasi edukatif dan terjangkau bagi seluruh lapiran masyarakat.
“Yang terpenting, harga tiket harus tetap terjangkau dan Ragunan bisa terus dinikmati oleh warga Jakarta, dari lapisan paling bawah hingga paling atas,” ujar Yuke.

Dikatakan Yuke, tingginya angka kunjungan ke TMR mencerminkan besarnya minat masyarakat terhadap ruang rekreasi yang murah sekaligus edukatif di Jakarta. Saat ini harga tiket masuk dewasa Rp 4 ribu dab anak-anak Rp 3 ribu.

Menurutnya, dengan jumlah pengunjung yang bahkan sempat melampaui empat juta orang per tahun tidak terlepas dari status TMR sebagai salah satu taman hiburan rakyat dengan harga tiket yang sangat terjangkau.

“TMR ini bisa dibilang satu-satunya taman hiburan rakyat yang murah, karena tempat rekreasi lain milik Pemprov DKI sidah tidak terjangkau oleh rakyat. Contohnya, Ancol itu sudah terlalu komersil, tiketnya mahal. Selain fungsi konservasi, TMR juga tersedia ruang terbuka hijau yang luas. Masyarakat bisa berekreasi dengan biaya minim, membawa keluarga, piknik, sekaligus mendapatkan edukasi dengan melihat satwa,” ucapnya.

Yuke menilai, Ragunan memiliki potensi besar untuk terus menarik minat pengunjung, mengingat luas kawasan yang mencakup area hutan kota. Meski demikian, ia menekankan, perlunya penataan serta peningkatan sarana dan prasarana agar kenyamanan pengunjung semakin terjamin.

“Yang perlu kita telaah adalah revitalisasi apa saja yang dibutuhkan, termasuk peningkatan fasilitas pendukung dan akses transportasi. Letaknya berada di pinggiran Jakarta Selatan, sehingga bagi warga dari wilayah lain perlu usaha ekstra untuk menjangkaunya,” tandasnya. Fasilitas transportasi harus ditingkatkan. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *