JAKARTA – Ketersediaan daging untuk kebutuhan perayaan Natal dan Tahun Baru di Jakarta dipastikan aman. Pemprov DKI melalui BUMD Perumda Dharma Jaya saat ini tengah mendatangkan daging sapi segar atau hidup sebanyak 1.000 ton dari daerah atau negara produsen.
Bahkan jika kebutuhan warga untuk Nataru lebih dari itu, maka pemerintah siap menambah lagi daging sesuai kebutuhan pasar. Intinya, masyarakat Jakarta tidak perlu khawatir atas isu kelangkaan daging sehingga harus berebut menimbun barang yang justru merusak kondusifitas pasar.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman mengatakan ketersediaan daging untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dari menjelang hingga pasca liburan Nataru dalam kondisi aman. “Setiap perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN), kami selalu menyiapkan stok daging, baik itu sapi, ikan, dan ayam sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/12).
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, perusahaannya telah menyiapkan strategi jitu mengamankan stok eksisting maupun cadangan. “Hingga hari ini, kami telah menyiapkan sekitar 1.000 ton daging sapi, 500 ton daging ayam, dan lebih dari 300 ton ikan. Jumlah stok ini cukup untuk memenuhi kebutuhan Nataru sampai Ramadan dan Idulfitri. Alhamdulillah, stok aman,” ungkap Raditya.
Ia memperkirakan, kebutuhan daging saat HBKN di DKI Jakarta, termasuk Nataru, tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya dengan jumlah rata-rata mencapai 6.000 ton per bulan atau mengalami peningkatan sekitar 10-15 persen dari hari biasa. “Tanda peningkatan kebutuhan daging sudah terlihat. Namun, masyarakat tidak perlu khawatir, stok daging untuk Nataru aman,” ujarnya.
Secara terpisah, Asisten Perekonomian dan Keuangan DKI Jakarta, Suharini Eliawati menilai, Dharma Jaya menunjukkan kinerja yang semakin positif dengan perluasan jaringan kerja sama hingga wilayah Indonesia bagian timur.
Hal ini dinilai sebagai bukti kesiapan BUMD tersebut dalam menjaga stabilitas pangan, terlebih menjelang Nataru.
Eli menjelaskan, kebutuhan daging di Jakarta juga masih mengandalkan impor, termasuk dari Australia, sehingga kerja sama bisnis antarperusahaan (B2B) dan kontrak beli putus menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pasokan.
Menurutnya, dengan kesiapan stok serta strategi penguatan jaringan suplai, Pemprov DKI Jakarta optimistis kebutuhan warga, khususnya protein hewani dapat terpenuhi dengan baik dan stabilitas harga tetap terjaga. “Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan ketahanan pangan Jakarta tetap kuat memasuki perayaan Nataru,” ucapnya. (jo)







Komentar