oleh

Banjir Rendam Kabupaten Tangerang, Pernyataan Staf Bupati soal APBD Tuai Sorotan

TANGERANG – Banjir kembali mengepung sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang. Kondisi ini memicu sorotan warga terhadap kesiapsiagaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang dalam mengantisipasi bencana yang disebut terjadi hampir setiap musim hujan.

Wilayah terparah dilaporkan berada di Kecamatan Jayanti. Di Perumahan Taman Cikande, banjir merendam permukiman warga hingga mencapai atap rumah dengan ketinggian air sekitar 4 meter.

Di tengah situasi tersebut, tanggapan salah satu staf Bupati Tangerang, Sukma, justru menjadi perhatian publik. Sukma membandingkan kemampuan anggaran Kabupaten Tangerang dengan DKI Jakarta.

“Kita hanya APBD Rp 8 triliun, DKI Jakarta saja yang ratusan triliun memang bisa membendung banjir,” ujar Sukma.

Sukma yang merupakan staf protokoler Infokom Pemkab Tangerang dan kerap mendampingi Bupati Tangerang dalam berbagai agenda resmi itu juga menyebut penanggulangan banjir dilakukan secara bertahap.

“Penanganan bencana semua ada tahapannya,” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya empat wilayah di Kecamatan Jayanti terdampak banjir, yakni Desa Cikande, Jayanti, Pasir Muncang, dan Gintung. Ketinggian air bervariasi mulai dari 60 sentimeter hingga mencapai 4 meter.

Banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Cidurian serta tingginya intensitas hujan. Perumahan Taman Cikande menjadi salah satu lokasi terparah, dengan rumah-rumah warga terendam hingga ke atap.

“Kami terpaksa mengungsi karena banjir sudah mencapai atap rumah,” kata Erwin, warga Kecamatan Jayanti.

Erwin menilai banjir kali ini seharusnya bisa diantisipasi lebih awal. Ia menyebut para pemangku kebijakan telah lama mengetahui titik-titik rawan banjir di wilayah tersebut.

“Ada istilah sedia payung sebelum hujan. Titik banjir itu sudah bukan rahasia lagi. Kenapa baru ramai turun ke lapangan setelah banjir terjadi, sebelum-sebelumnya ke mana?” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa tingginya curah hujan tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan. Menurutnya, persoalan utama terletak pada sistem drainase dan pengendalian sungai yang belum optimal.

“Kalau sungai meluap, seharusnya bisa diantisipasi dengan tanggul. Pajak dari uang kami digunakan untuk apa? Kenapa saluran air dan tanggul tidak dibenahi sejak awal?” tegasnya.

Erwin menambahkan, Bupati Tangerang Maesyal Rasyid dinilai memahami persoalan banjir, mengingat sebelumnya pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang. (Imam/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *