JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) meluncurkan miniatur bus yang dapat dibeli oleh pelanggan. Miniatur berbahan plastik dan kardus tersebut dapat dibeli di Kidz Stasion terdekat dengan harga yang cukup mahal.
Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan, peluncuran miniatur bus ini merupakan kolaborasi Transjakarta dengan Dickie Toys yang merupakan bagian dari upaya mengedukasi pelanggan, terutama anak-anak dengan menggunakan media mainan. Melalui produk miniatur ini, anak-anak diharapkan bisa lebih mencintai bus sebagai sarana transportasi umum.
“Transjakarta adalah perusahaan yang mengutamakan kepuasan pelanggan, seiring dengan banyaknya permintaan untuk replika bus Transjakarta maka kami bersinergi dengan Dickie Toys di bawah naungan MAP untuk merilis dua model bus kami agar bisa dimiliki oleh pengguna setia kami. Dalam rangka menyambut Hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada hari Rabu, tanggal 4 September, kami merilis produk tersebut,” ujar Welfizon Yuza di Jakarta, Senin (2/9).
Welfizon menyampaikan, dengan peluncuran miniatur bus ini masyarakat bisa lebih mengenal jenis-jenis bus Transjakarta, khususnya mengedukasi untuk mengenal transportasi publik sejak dini. “Anak-anak bisa bermain dan mengenal tentang layanan Transjakarta. Ini komitmen kami tidak hanya hadir sekadar layanan transportasi tetapi juga media belajar bagi generasi penerus,” katanya.
Ada dua jenis miniatur bus yang diluncurkan yakni articulated bus (bus gandeng) dan Metrotrans Electrical Vehicle (bus listrik). “Pelanggan bisa membeli miniatur bus Transjakarta di seluruh gerai Kidz Station dengan harga Rp 329.000 dan Rp 299.000,” ujar Welfizon.
Transjakarta merupakan BUMD milik Pemprov DKI Jakarta yang bergerak di bidang jasa transportasi meliputi bus dan mikrotrans atau yang sering disebut Jaklingko. Belum lama ini, ribuan awak Jaklingko berunjuk rasa di depan gedung Balaikota DKI yang mendesak Pj Gubernur Heru Budi Hartono mencopot jabatan Dirut Welfizon dan jajaran direksi karena dinilai tidak adil dalam mengelola usaha Jaklingko. (jo)







Komentar