oleh

Saya Patah Hati, Memendam Duka Lara dengan Luna Maya

POSKOTA.CO – Teriring salam Luna Maya. Ada kuncup mengembang dan harapan membuncah ketika Luna Maya putus dari Reino Barack dan bubaran dengan Ariel Noah. Benih benih harapan tumbuh di hati. Nampaknya masih ada kesempatan untuk menyunting Sang Dewi pujaan hati.

Tapi takdir dan kenyataan pahit menyatakan lain. Pada saat yang sama, saya memasuki masa pensiun. Dan setelah dihitung- hitung dengan cermat, ternyata tunjangan pensiun tak mencukupi untuk menafkahi si cantik jelita Luna Maya.

Maka lagi lagi harapan kuncup. Layu. Kandas. Tersisih. Tercekam sepi. Dan gundah gulana. Kalah. Untuk kesekian kalinya, saya patah hati. Memendam duka lara. Kali ini lumayan parah. Remuk redam. Hancur lebur. Luluh lantak. Ambyar!

Kehidupan memang sering tak seperti tampaknya. Dan kerap tidak adil. Ada kesedihan di balik kebahagiaan: lama! Ada kekalahan di balik kemenangan: sakit! Ada kegagalan di balik kesuksesan: pedih. Silih berganti. Sebentar saja. Berputar seperti roda pedati.

Ingin rasanya ketemu Mamah Dedeh. Sekadar curhat. “Maaah …. curhat Maah..” jerit saya. Tapi selalu gagal kontak, lantaran kalah cepat sama emak emak .

Mengapa perjalanan cinta saya dengan para selebritas dan bintang bintang banyak mengalami kegagalan?

Saya kalah bersaing dengan anak Konglomerat Ibrahim Risyad untuk mendapatkan Diana Pungky

Saya kalah bersaing dengan keluarga Cendana dan Raja Kapal untuk mendapatkan Lulu Tobing.

Saya kalah bersaing dengan pengusaha pemilik Menara Saidah untuk menggaet Inneke Koesherawaty.

Saya pernah dekat dengan Elma Theana. Tapi paham gelagat, mamahnya buru buru menitipkannya ke saya. “Mas titip anak saya ya, anggap saja keponakan sendiri!” kata mbak Waty Siregar, ibunya.

Akhirnya benar benar jadi keponakan. Dia selalu panggil saya “Oom” sebagaimana Anggun C. Sasmi – yang saya kenal sejak masih pakai seragam sekolah – karena saya berteman karib dengan bapaknya, almarhum Darto Singo. Memanggil saya “Oom”.

Saya kalah dengan sutradara muda Adhilla Dimitri yang ganteng untuk mendapatkan Wulan Guritno.

Tentu saja kegantengan saya tak ada apa apanya dibanding dengan model Brasil itu, Eryck Amaral, sehingga Aura Kasih memilihnya dan kini bahagia dengan buah hati mereka.

Daftar pesohor cantik yang saya dekati bisa saya perpanjang – sepanjang naskah yang biasa dibuat penulis skrip infotaiment – untuk mengakali slot kosong dan membuat “berita settingan” demi mempertahankan dan meningkatkan rating.

Dan akhirnya, saat harapan tumbuh mendapatkan kembali Luna Maya saya memasuki masa pensiun.

Bingkisan sebotol “pil biru” dari teman produser musik itu, sia sia. Tak kunjung terpakai.

Mamaah.., memgapa saya mudah sekali dilanda “ge-er” ? Gampang halu !? Jadi “sad-boys” ? Mengapa saya jadi suka mengobral cerita aib ini? Seharusnya saya pendam cerita sedih ini menjadi rahasia sendiri.

Akan tetapi pekan lalu senior menertawakan dan membuka lembaran yang sudah hampir terlupa.

Dia menyayat luka baru, di atas duka lama. (… “coba bayangkan betapa sakitnya? ” rintih satu lagu Ebiet G Ade).

“Teriring salam dari Luna Maya..” kata senior via Whatsapp.

Saya sungguh ge-er. Jantung berdegub kencang.

“Apa katanya?” tanya saya dengan dada berdesir.

“Lunamaya – lupakan usia yang penting terus nampang dan gaya ..” jawabnya.

Wah, kurang asem!

Rupanya senior saya – boss percetakan itu – lagi bahagia sama cucu dan asyik merayakan Hari Lansia.

“Ayo rayakan Hari Lansia! Ini cucuku, mana cucumu? ” katanya mengirim foto di WA bersama cucunya.

Buat para sahabat seusia yang baru dan sedang menjalani masa pensiun, teriring salam sehat dan ‘Salam Lunamaya’ : Lupakan usia tetaplah nampang dan gaya… di dunia maya. (supriyanto martosuwito)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *