POSKOTA.CO – Bersama sama John lennon, Ringo Star, dan George Horrison, dengan bendera The Beatles, Paul sudah mengguncang dunia saat saya baru “nglower”, keluar dari perut emak – di awal tahun 1960 dan dia masih berjaya saat ini. Di usia 77 tahun!
Virus The Beatles mendunia saat itu dan penontonnya selalu histeris. Khususnya cewek cewek dibikin kelojotan dan meleleh melihat aksinya di pangggung pada dekade 1960 – 1970an.
The Beatles – yang kini dikenangkan sebagai “band terbaik sepanjang masa” adalah rockband pertama yang dalam konser sering tak bisa mendengarkan nyanyiannya sendiri – karena tenggelam oleh suara jeritan histeria fansnya di mana pun manggung. Silakan lihat video kalau nggak percaya!
Virus The Beatles menular dan merambah juga ke Indonesia. Tapi Presiden Sukarno mengharamkannya. “Wahai anak muda jangan terbawa budaya Imperialis. Jangan ikut ‘bitel bitelan’…, ” begitulah sabda Pemimpin Besar Revolusi Paduka yang Mulia Bung Karno.
Bung Karno sendiri suka budaya imperialis yakni dansa dansa – meski dikenangkan sebagai penggemar tari Lenso – khas Maluku.

Akibat ketidaksukaannya pada The Beatles, Koes Bersaudara jadi korbannya. Band kakak beradik dari keluarga Koeswoyo yang sering membawakan lagu The Beatles itu dilempari batu saat mangggung di Petamburan – Tanah Abang dan dikandangkan aparat Kejaksaan Agung di bui kawasan Glodok.
Tapi itu cerita jadul. Orde Baru membebaskannya. Bahkan di era reformasi bukan level Beatles lagi. Datang aliran musik yang lebih sangar : Heavy Metal ! Judas Priest, Metallica, Sepultura, Gun n Roses, dst – menjadi band favourite penguasa di Istana Negara.
BARU BARU INI saya mendengar selentingan, Sir Paul McCartney mau konser di sini dan promotornya sedang mengumpulkan 18 ribu penonton – sekurang kurangnya – agar bassist The Beatles dan Wings ini mau beraksi di Indonesia. Banyak pihak skeptis. Saya juga.

Mengumpulkan 5.000 pembeli tiket boleh jadi bisa. Tapi 18 ribu? Saya pun was was.
Juni 2019 lalu ada film drama musikal parodi yang menampilkan The Beatles sudah tak dikenal di negerinya sendiri. Ya, film “Yesterday” itu. Tragis ‘kan? Saya khawatir banyak anak muda kita yang melupakan The Beatle’s – setidaknya meski kenal ogah nonton beliau beraksi di panggung.
Saya sendiri andai pun Paul McCartney konser di sini bakal repot cari utangan. Sebab, buat saya, nonton langsung konser Paul McCartney itu memang hukumnya wajib. Kudu. “Fardlu ain”.
Akan tetapi – mau ngutang sama siapa coba, duit buat beli tiket konsernya Eyang Paul McCartney? (Supriyanto)







Komentar