oleh

Maaf, Saya Tidak Ikut Ambyar

POSKOTA.CO – Anak anak zaman milenial yang sedang patah hati menyebut diri sebagai “Sad Boys ” (bagi laki laki) dan “Sad Girls” (bagi perempuan). Mereka bergabung dalam komunitas “Sobat Ambyar” – dengan ritual, nonton konser dan nyanyi bareng –lalu menangis bareng– bersama “Imam Besar” mereka, “The Lord” Didi Kempot yang sudah sahih dinobatkan sebagai “The Godfather of Broken Hearts”.

Dalam gegap-gempita ratapan patah hati kolosal itu –saya tidak ikut ikutan. Saya tidak ikut ambyar – tidak ikut heboh. Bukan lantaran saya tak suka lagu pop Jawa atau hanya mengapresiasi musisi sekelas Sir Paul McCartney, yang “nginternasional”. Melainkan masa masa ambyar lantaran lagu sendu si “Dewa Patah Hati” ini sudah saya lewati, 28 tahun lalu.

Pada awal tahun 1992 –iya, 28 tahun lalu itu– saya baru mendarat di Kota Paramaribo, ibu kota Suriname, ketika staf KBRI di sana menyebut namanya. “Orang orang di sini lagi senang sama Didi Kempot, ” kata diplomat KBRI itu.

Mas Gunarso TS, senior yang saya, langsung menoleh, minta konfirmasi ke saya, yang jalan di sebelahnya. “Sopo iku Didi Kempot?” tanyanya. “Saya ndak tahu. Saya belum pernah dengar namanya, ” jawab saya jujur, sembari menggeleng.

Saya ke Suriname mengawal Mas Gun dalam perjalanan jurnalistik ke negeri orang orang Jawa di belahan selatan Amerika itu. Beliau jurnalis senior dan pakar budaya Jawa, piawai membaca dan menulis bahasa Jawa Kuna — seperti yang ada di candi-candi itu. Tapi tak bisa bahasa Inggris babar blas. Saya ditugasi mendampingi.

Masa itu, saya sudah tujuh tahun jadi wartawan peliput hiburan – khususnya film dan musik – selain menulis aneka features. Sebelum itu, sedari SD baca referensi artis dari koran dan majalah. Tapi belum pernah baca nama Didi Kempot.

Faktanya, sampai awal 1990-an di Indonesia nama Didi Kempot memang masih “nobody”. Entah siapa. “Di sini dia lagi jadi Superstar. Sama seperti Michael Jackson buat orang hitam Amerika, ” kata orang KBRI.

Saya bingung dan kurang percaya. ‘Lebay’ menurut istilah anak sekarang. Bahkan Mus Mulyadi (alm) –yang begitu kondang di Jawa dan Suriname– tak mendapat julukan sehebat itu.

Lalu, kami dibawa ke Radio ‘Garuda’ masih di kota Paramaribo. Radio satu satunya di dunia yang 24 jam siaran dalam bahasa Jawa! (yang di pulau Jawa sendiri tidak ada!-red).

Setelah seminggu di Suriname, saya baru percaya bahwa julukan untuk penyanyi “nobody” itu bukan julukan kosong. Siang malam saya mengunjungi komunitas Jawa di Suriname, meyambangi rumah demi rumah yang “dipanteng” hanya radio Garuda yang sedang memutar lagu Didi Kempot. Edan!

Dari Jakarta, kami memerlukan terbang selama 16 jam ke Amsterdam (Belanda) dan terbang lagi ke Paramaribo (Suriname) 9 jam dengan KLM untuk diberitahu lahirnya seorang “Superstar Pop Jawa” bernama Didi Kempot di tahun 1992 itu ! Edan!

Sebanyak tiga keping kaset menjadi oleh oleh saya saat pulang – berisi lagu lagu pilihan Didi Kempot yang ternyata anak dari pelawak Srimulat Ranto Gudel dan masih bersaudara dengan Mamiek Podang itu. Dan saya putar berulang ulang.

Saat itulah memang hati ini mulai hanyut, pelan pelan larut, ambyar. Porak poranda , remuk redam, hancur lebur. Luluh lantak. Terbawa oleh lirik dan nyanyiannya.

Lagunya yang paling berkesan darinya adalah “Cidro” (ingkar janji) – yang masih populer hingga kini.

Dalam versi pop yang direkam di Suriname, lagu “Cidro” diawali dengan lolongan panjang yang memilukan, ” Uuuuu…uu ” yang ternyata hilang dalam versi lagu Keroncong Campur Sari dan Dangdgut Jawa, kemudian.

“Wis sakmestine / ati iki nelongso / Wong sing tak trisnani mblenjani janji / Opo ora eling, naliko semono / kebak kembang, wangi jroning dodo ” (Yang artinya: sudah sepatutnya hati ini nelangsa / orang yang saya cintai ingkar janji / apakah tidak ingat /saat dahulu itu / penuh bunga mewangi di dada).

Bagian memilukan ada di-reffrain, (yang belakangan ini bikin penonton nangis massal-red) :

” Gek opo salahku iki ? / kowe tego mblenjani janji / opo mergo kahananku iki / mlarat bondo / ora koyo uripmu? ” (Apa sebenarnya salahku ini ? / kamu tega mengingkari janji ? / Apakah karena keadaanku ini ? / melarat harta / tidak seperti hidupmu ? )

Dan bagian paling pedih dan perih ada di penghujung (yang bikin penonton panggungnya histeris) :
“Aku nelongso / mergo kebacut trisno / ora ngiro sak ikine cidro “(Aku nelangsa / sebab sudah terlanjur cinta / tak kusangka sekarang kamu ingkar) .

Saking larutnya sama lagu itu saya pernah kepikiran membawa kasetnya ke penyanyi Nia Daniaty – agar dia mau merekam ulang. Sebab, di tahun 1990an, pelantun “Gelas Gelas Kaca” itu adalah penyanyi dengan “trade mark” lagu lagu sendu, patah hati, mengharu-biru dan meratap ratap, pasang wajah mewek. Tapi saat itu saya tak punya kontak Didi Kempot dan juga Nia.

Selain “Cidro”, lagu lagu yang saya sukai dari Didi Kempot adalah “Angin Paramaribo”, “Trimo Mundur” “Piring Pecah” dan “Layang Kangen”. Juga “Kalung Emas”

Seandainya saja saat itu Di-Kem juga sudah ngetop di sini mestinya saya juga jadi anggota “sad boys” dan meratap bareng “sad girls” (wis embuh he..he.. ) – julukan untuk komunitas #sobat ambyar sejagat.

Tapi saya sudah ketua’an. Saya sudah merasakan ambyar 28 tahun lalu. Ndak mau ambyar maning. (supriyanto)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *