POSKOTA.CO – Masa muda saya bukan hanya mimpi jadi Rano Karno dan Herman Felani. Jadi “ple-boi” yang disukai ABG sampai nenek nenek layaknya Roy Marten dan Robby Sugara. Mendambakan kekasih seanggun Jessy Gusman dan Yuni Arcan. Pengin punya gebetan yang ‘nggemesin’ seperti Ita Mustafa.
Masa muda saya adalah nonton Eva Arnaz dan Enny Beatrice. Jenny Rachman dan Marissa Haque dalam balutan bikini tali – lari lari di pantai. Mengoleksi kalender sexy Lina Budiarti dan Lela Anggraini, pemilik kaki indah.
“Dimas, ..sini..Dimas harus ketemu dia…” setengah berteriak bernada gembira H. Firman Bintang memanggil saya di tengah acara pernikahan resepsi anaknya di Aula Departemen Keuangan – Lapangan Banteng, Jakarta Pusat – tahun 2019 lalu.
“Siapa Bang?” tanya saya, kepada jurnalis senior yang juga ketua organisasi produser film ini.
“Eva Arnaz!” jawabnya. Wah surprise. Kami sama mencari di area VIP di samping panggung pengantin. Tak ketemu. Yang ada walikota Tangsel nan jelita, Airin Rachmi Diani, disitu. Ogah rugi kami sempatkan foto bareng. Ternyata Eva sudah pamitan dan langkahnya terhenti saat namanya dipanggil. Akhirnya dia berdiri di hadapan saya.
“Dimas jangan pegang! Nggak boleh pegangan..! ” teriak Bang Ilham bintang mengingatkan, diiringi tawa. Saya baru ‘ngeh’ bahwa Eva Arnaz kini sudah ‘hijroh’ – sudah berpakaian “syar’i”. Tidak bersentuhan dengan lawan jenis.

Oke, kami pun salaman gaya Sunda. Tanpa sentuhan.
SEJAK MENJADI isteri Dedi Omar Hamdun memang saya tak pernah ketemu wanita sexy yang telah menyebarkan kebahagiaan kepada jutaan pria ke seluruh penonton layar putih se Indonesia pada dekade 1980-’90an ini.
Entah apa yang terlintas di pikiran Anda tentangnya. Bagi saya dia sepenuhnya bidadari kahyangan yang mampir ke bioskop.
Saya masih jadi reporter peliput kriminal saat itu dan menunggang motor Honda 70 Cc ketika melaju ke bioskop – bioskop pinggiran di Tanjung Priok, Pasar Minggu hingga Klender di pinggiran Jakarta, demi menyaksikan body seksinya terpampang di layar perak.
Saya nonton bersama sohib saya, Raffles Lesmana. Dan dalam perjalanan pulang terus menerawang dan terbawa hingga alam mimpi.
Kadang kami menonton dua tiga kali film yang sama. Apa cerita dan bagaimana runtutannya tak penting benar. Yang dinantikan adalah pemunculanya dalam medium dan close up selayar bioskop.
Paling dasyat main saat dia main di film “Midah Perawan Buronan” dan “Ken Arok dan Ken Dedes” (1983) Oh, ya film film komedi Warkop juga, seperti “Depan Bisa, Belakang Bisa” “Atas Boleh, Bawah Boleh”. Dan juga “Montir Montir Cantik”.
Saya tidak punya keberuntungan bertemu dan mewawancarainya meski kemudian jadi wartawan film.
Sisi baiknya, Eva Arnaz tetap hidup bak Sang Dewi dalam fantasi saya. Terus menjadi idola saya.
Puncak keberuntungan kami saat diundang oleh Badan Sensor Film. Acara laporan bulanan. Tugas badan sensor adalah menyelamatkan masyarakat Indonesia dari film film dan adegan yang tidak pantas ditonton dan menyiapkan generasi muda menghadapi film film yang tak bisa disensor dan langsung hadir di media lain.
“Sebentar lagi akan ada perangkat parabola. Filmnya langsung dari dari langit. Kami tak bisa menyensornya,” kata Pak Thomas Soegito di pertengahan tahun 1980-an. Apa yang dikemukakannya tak lama kemudian jadi kenyataan.
Bukan hanya pidato Ketua BSF itu yang kami kenangkan. Agenda acara terakhir silaturahmi wartawan film dan BSF adalah nonton hasil potongan film film yang disensor. Nah!

Di sana lah, kami – para wartawan di film ibukota – dengan dada berdebar dan membuncah – nonton potongan film film asing dan lokal yang disambung-sambung – khusus adegan adegan yang tidak boleh beredar. Selain adegan sadis, yang sudah jelas tidak kami sukai – ada kumpulan potongan adegan buka bukaan.
Memang ada undang undang dan pasalnya yang melarang mempertunjukkan adegan ketelanjangan, persetubuhan, ciuman berlebihan, penampakan bagian dada dan pinggul polos, dll.
Kenyataannya sutradara Indonesia banyak yang bandel. Nekad. Adegan vulgar sengaja dibuat – meski sudah pasti akan digunting. Sisi baiknya kami bisa nonton dan menyaksikan seutuhnya.
Ya, Tuhan. Antara lain ada Eva Arnaz! Saat itu Eva sedang ranum ranumnya! Lagi botoh botohnye! Kata orang Betawi. Lagi di mandi di kali. Lagi mesra mesraan dan lainnya.
Saya bertemu lagi dengan Eva setelah usianya sudah 60 tahun. Sebagaimana Camelia Malik, Yati Octavia yang sudah “hijroh” dan berpenampilan sesuai “syar’i ” . Sudah mirip dengan Mamah Dedeh.
Sunguh beruntung – saya mengalami dan menyaksikan mereka semua saat masih berbody sexy bak gitar Spanyol. Menyaksikan atraksi 3G (goyang, gitek, geol) dari duet tarian jaipong Camelia Malik bareng Rossy Drajat pada puncak kecantikan dan kemolekan mereka.
Bagian yang saya syukuri dari masa muda gen 1980an adalah kami bisa menyaksikan Debby Cynthia Dewi, Indah Fajarwati, Yati Octavia, Lina Budiarti, Eva Arnas, Enny Beatric. Selain Edwige Fenech dan Gloria Guida untuk artis Italia hot-nya.
Sungguh mereka sangat berjasa mengisi masa masa puber kami. Saat gairah gampang membuncah. “Bikin hidup lebih hidup!”
Kini memang tak perlu fantasi lagi lantaran di era digital bisa mengakses xvideo, pornhub dan xhamster. Akan tetapi kenangan masa lalu pada Eva Arnaz tetap ada di hati.
Saat ini membayangkannya lagi saja dada ini masih berdebar debar.Berdebar debar asyik. supriyanto







Komentar